Day: <span>November 13, 2020</span>

SERTIFIKAT TANAH JAMIN MASYARAKAT TENANG MENGELOLANYA

Lokory – Jumat, 13/11/20, bertempat di Rumah Kepala Desa Lokory, telah dilakukan penyerahan sertifikat tanah secara simbolis oleh Pjs. Bupati Sumba Barat, Drs. Semuel D. Pakereng, M.Si.

Mekanisme pensertifikatan tanah oleh BPN saat ini, fokus penyelesaian di satu desa baru berpindah ke desa lain. Dan untuk desa lokory, awalnya direncanakan 4000 bidang, namun ditargetkan menjadi 2000 bidang, dan tahun ini baru selesai 1500 karena kondisi pandemi. Sisa 500 bidang akan diselesaikan tahun depan. Kegiatan ini adalah bukti kepedulian Pemerintah Pusat melalui BPN kepada masyakat. Dengan adanya sertifikat akan menguatkan status kepemilikan tanah. Demikian penjelasan Pjs. Bupati.

Lebih lanjut Semuel Pakereng berharap dengan adanya sertifikat yang telah dimiliki, masyarakat bisa lebih tenang mengelola tanahnya sebagai sumber kehidupan. Tidak ada lagi gugat menggugat, tapi yang ada damai, dan tenang mengelolanya. (RED.AR-DKIPS)

Bagikan Informasi Ini

Gerakan Stop Pneumonia dan Stunting Di Kabupaten Sumba Barat

Tanggal 12 November ditetapkan sebagai Hari Pneumonia Dunia (HPD) yang bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional. Peringatan HPD ini dilakukan secara daring melalui kegiatan Kampanye Stop Pneumonia Festifal Online Anak Sehat Indonesia. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ibu Hj. Iriana Joko Widodo dan dihadiri Pengurus TP PKK pusat dan daerah, Kementerian/Lembaga terkait, Para pakar dan ahli kesehatan,  YSTC Pusat dan Daerah dan Pimpinan Perangkat Daerah terkait baik provinsi maupun kabupaten/kota seluruh Indonesia. Titus Diaz Liurai, S.Sos,MM , Kepala Bappeda Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu peserta kampanye nasional Gerakan Stop Pneumonia Festival Online Anak Sehat Indonesia tahun 2020.

Titus menilai kampanye ini merupakan kegiatan penting dan strategis yang hendaknya dimaknai sebagai momentum untuk melihat lebih jauh terkait masalah pneumonia yang dihadapi, fator-faktor penyebabnya serta bagaimana alternative solusi yang hendaknya dilakukan untuk mengatasi masalah pneumonia yang dihadapi.  Kegiatan ini menjadi strategis karena indikator utama untuk menilai kemajuan sebuah daerah dapat dilihat  dari perkembangan terkait Human Develptment Indeks (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah tersebut dari tahun ke tahun.

Data menunjukkan bahwa IPM Kabupaten Sumba Barat Tahun 2017 sebesar 62,30 meningkat pada tahun 2018 menjadi 62, 91 dan meningkat lagi pada tahun 2019 menjadi  63, 56. Jika melihat dari trent ada kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun tetapi karena kategori IPM 65 ke bawah masuk kategori rendah maka dapat disimpulkan bahwa kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Sumba Barat rendah. Rendahnya IPM ini dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang rendah, kualitas kesehatan yang rendah serta kondisi ekonomi masyarakat yang rendah yang berdampak pada rata-rata pengeluaran perkapita masyarakatnya. Rendahnya kualitas kesehatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah rendahnya Usia Harapan Hidup dimana Kabupaten Sumba Barat Tahun 2019 sebesar 66, 98 Tahun. Rendahnya UHH ini dipengaruhi oleh masih tingginya angka Kematian Ibu (AKI), tingginya Angka Kematian Bayi/Balita (AKB/AKB).  Penumonia merupakan pembunuh utama anak di dunia. Indonesia termasuk Negara yang angka kematian balita akibat pneumonia cukup tinggi yaitu  4/1000 kelahiran hidup, artinya setiap seribu kelahiran terdapat 4 orang bayi yang meninggal akibat pneumonia. Penyebab pneumonia adalah bakteri, virus, dan mikroba lainnya yang menginfeksi sel-sel paru yang selanjutnya membuat peradangan akut dengan gejala-gejala kesulitan bernapas sampai berat bahkan kematian. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa  untuk meningkatkan  kualitas sumber daya manusia sesunggunya pintu masuknya adalah stop pneumonia pada balita dan cegah stunting.

Titus menambahkan bahwa terdapat 3 (tiga) kerangka kebijakan yang perlu dilakukan untuk pneumonia dan stunting di Kabupaten Sumba Barat yaitu, Pertama, Perlindungan (protection) yaitu melalui pemberian ASI eksklusif dan asupan gizi adekuat pada 1000 hari kehidupan. Kedua, Pencegahan (prevention) melalui imunisasi seperti campak, DPT dan berbagai imunisasi lainnya, pembudayaan pola hidup bersih dan sehat. Ketiga, Pengobatan (treatmen) seperti akses terhadap layanan kesehatan dan deteksi dini di tingkat keluarga.  Untuk mengimplementasikan kerangka kebijakan ini tidak bisa sendiri-sendiri, pendekatannya harus bersifat holistic-integratif baik lintas sector maupun lintas program. Diakhir penyampaiannya Titus mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak untuk senantiasa menggaungkan upaya stop pneumonia dan pencegahan stunting untuk mewujudkan anak Sumba Barat yang sehat, kuat dan cerdas. RED.DKIPS

Bagikan Informasi Ini