Day: <span>December 8, 2020</span>

KONSEKUENSI TERBITNYA REKOMENDASI PEMBELAJARAN TATAP MUKA SD/MI

WAIKABUBAK – Wakil Ketua 3 Satgas Penangangan Covid 19 Kabupaten Sumba Barat, Ir. Yanis Eklens Luther Chr Loebaloe, menyampaikan bahwa Rekomendasi Pembelajaran Tatap Muka SD/MI telah ditandatangani Pjs. Bupati Sumba Barat pada akhir November lalu.

Yanis Loebaloe menjelaskan bahwa rekomendasi dikeluarkan sehubungan dengan kerinduan anak-anak SD/MI termasuk Kepala Sekolah dan pengawas untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka langsung bisa dimulai. Sebagaimana telah disampaikan dalam pemberitaan sebelumnya (baca: Dengan Dukungan Psi, Satgas Covid-19 Sumba Barat Lakukan Monev Kesiapan SD) rekomendasi diterbitkan setelah Satgas melakukan monev didampingi para pengawas atas kesiapan SD/MI untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka dengan dukungan rekan-rekan Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) mitra  Save The Children (STC).

Tujuan dari rekomendasi ini sebenarnya agar proses belajar mengajar tatap muka langsung itu dapat dilaksanakan ditingkat SD dan MI. Namun bagi SD/MI yang wilayah desa/kelurahannya terpapar covid, maka sesuai rekomendasi terutama point ke-8 SD/MI di desa/Kelurahan diliburkan selama 14 hari, setelah itu baru KBM dilakukan kembali.

Menanggapi dikeluarkannya Rekomendasi Pembelajaran Tatap muka SD/MI, James A. Ly Ratu, Spesialis Basic Education STC, mengatakan bahwa yang perlu diketahui pertama adalah STC memfasilitasi apa yang diharapkan oleh orang tua, guru-guru yang ada disekolah. Sekali lagi James menekankan STC sekedar memfasilitasi, sedangkan keputusan akhir sekolah dibuka atau tidak  sebenarnya ada di sekolah. “Rekomendasi tidak bisa menjadi dasar untuk memutuskan apakah sekolah masuk atau tidak, yang memutuskan menurut kami adalah orang tua dan sekolah itu, termasuk didalamnya komite, perangkat desa, karena tanggung jawab terkait ini bukan tanggung jawab yang ada di Dinas Pendidikan, Save The Chidren atau Stimulant tetapi ada di komunitas, dimana sekolah itu berada”.

Lebih lanjut juga James menegaskan bahwa kalo kita memutuskan untuk sekolah itu masuk, maka ada tanggung jawab besar  yang harus dipikul oleh orang tua murid, dan semua element sekolah  yang ada disekitar termasuk lingkungan pemerintah desa yang harus bersama-sama,  berkomitmen untuk bisa menjaga dan mematuhi protokol kesehatan.  “Sesungguhnya salah satu tujuan besar kami adalah mengedukasi masyakarat ketika masyarakat putuskan ingin melakukan sesuatu maka mereka harus paham bahwa ada konsekuensi yang harus mereka tanggung, artinya bahwa protokol kesehatan itu wajib, ini bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua dan siapa saja yang terlibat termasuk oleh semua komunitas yang ada di sekolah”. tegas James

Margaretha Rosita Yeni Djelalu, Program Manager Stimulant Institute, juga menyampaikan bahwa pada dasarnya konsep yang disampaikan STC itu sama dengan PSI, besar harapan PSI tindak lanjut dari ini adalah memastikan bagaimana komite sekolah dan pihak sekolah punya kesepakatan, dan apabila ada orang tua yang keberatan, sebaiknya sekolah mengutus anak tetap belajar dirumah dan guru tetap melakukan pendampingan di rumah karena pastinya orang tua punya pemikiran sendiri, hal itu harus dipikirkan kembali oleh orang tua, dinas Pendidikan dan pihak sekolah.

Diakhir wawancara, Wakil ketua 3 Satgas Covid 19 Sumba Barat berpendapat bahwa pelaksanaan Rekomendasi akan dievaluasi dalam beberapa minggu kedepan, untuk memastikan bahwa dengan dibukanya kembali pembelajaran tatap muka SD/MI tidak menjadi pemicu adanya cluster baru di sekolah.  James Ratu juga menyarankan untuk memperkuat Satgas covid-19 sampai ke tingkat desa, dan diperlukan adanya Keyperson di setiap tingkatan satgas, juga disekolah, sehingga koordinasi dalam kesigapan penyediaan data dan informasi bagi Satgas akan lebih cepat dan update. (RED.AR-DKIPS)

Bagikan Informasi Ini