Month: <span>April 2021</span>

Serah Terima Memori Pelaksanaan Tugas Penjabat Bupati Kepada Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat

Waikabubak – Sebagai pelaksanaan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 131.53-1048 Tanggal 20 April 2021 tentang Pengesahan Pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah secara Serentak Tahun 2020 pada Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat melaksanakan Serah Terima Memori Pelaksanaan Tugas Penjabat Bupati Sumba Barat kepada Bupati Sumba Barat dan Wakil Bupati Sumba Barat yang bertempat di Aula Kantor Bupati Sumba Barat pada tanggal 29 April 2021.

Simbolis pelaksanaan serah terima jabatan yaitu dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Memori Pelaksanaan Tugas Bupati Sumba Barat antara Penjabat Bupati Sumba Barat dan Bupati Sumba Barat, penyerahan Buku Memori Pelaksanaan Tugas Penjabat Bupati Sumba Barat kepada Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat, dan pemberian cindera mata / selempang kain kepada Penjabat Bupati Sumba Barat mulai dari Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat, Ketua dan Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat, serta para tamu undangan yang turut hadir.

Penjabat Bupati Sumba Barat, Kosmas D. Lana, SH, M.Si menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat atas kerja sama dan penghargaan yang telah diberikan selama beliau mengabdi di Kabupaten Sumba Barat kurang lebih satu bulan. Beliau juga mengingatkan agar Pemerintah Kabupaten Sumba Barat segera menyelesaikan RPJMD Kabupaten Sumba Barat dengan menyesuaikan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati periode 2021-2024.

Dalam sambutannya, Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH mengucapkan terima kasih kepada Penjabat Bupati Sumba Barat atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama mengabdi di Kabupaten Sumba Barat sebagai Penjabat Bupati. Beliau juga meminta dukungan dan fasilitasi dalam proses penyelesaian RPJMD Kabupaten Sumba Barat kedepan. Selain itu, Bupati Sumba Barat mengharapkan kerja sama dari semua perangkat daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bersama instansi dan unit kerja vertikal untuk bersama-sama membangun Sumba Barat. Kota Waikabubak adalah wilayah yang diprioritaskan untuk menjadi citra Kabupaten Sumba Barat.

Acara serah terima tersebut dihadiri oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan DPRD Kabupaten Sumba Barat, Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sumba Barat, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak, Kepala Polres Sumba Barat, Dandim 1613 Sumba Barat, Kepala Kantor Kementerian Agama Waikabubak, Ketua TP-PKK dan Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Sumba Barat, Asisten dan Staf Ahli Bupati pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Pemda Sumba Barat, dan Para Camat se-Kabupaten Sumba Barat. (Rawa-DKIPS)

Bagikan Informasi Ini

KUNJUNGAN PERDANA BUPATI SUMBA BARAT DI RSUD WAIKABUBAK

Kamis, 29/04/21 – Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH melakukan kunjungan perdana di RSUD Waikabubak didampingi Kadinkes Sumba Barat drg. Bonar B. Sinaga, M.Si.

Bertempat di Aula RSUD Waikabubak, dr. Javendi Rizal Pavliando Saragih, SP.A, M. Biomed selaku direktur RSUD Waikabubak, menerima kunjungan tersebut bersama beberapa para dokter, bidan, perawat dan manajeman RSUD Waikabubak.

Pada kesempatan tersebut, Direktur RSUD menyampaikan kondisi RS secara umum dan berterimakasih atas kunjungan pertama Bapak Bupati ke RSUD.

Bupati berpesan kepada seluruh Civitas RSUD Waikabubak, untuk selalu bekerja dengan disiplin, selalu memperhatikan kebersihan RS, dan bekerja secara profesional serta sepenuh hati.

Kunjungan dilanjutkan dengan mengunjungi semua zaal perawatan untuk melihat langsung kondisi pelayanan di RSUD.

Besar harapan Bupati untuk adanya peningkatan pelayanan RSUD kedepannya. Bupati mengakhiri kunjungannya dengan meninggalkan pesan “Bekerjalah seperti bekerja untuk Tuhan”. (RED-DKIPS)

Bagikan Informasi Ini

Pemda Sumba Barat Sambut Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat

Waikabubak – Pasca pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat Periode 2021 – 2024 oleh Presiden Republik Indonesia melalui Gubernur Nusa Tenggara Timur pada hari Senin, tanggal 26 April 2021 di Aula El Tari Kupang, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH dan Jhon Lado Bora Kabba bersama rombongan kembali ke Kabupaten Sumba Barat dan disambut oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat di Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat pada hari Rabu, tanggal 28 April 2021.

Dalam sekapur-sirih, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat, Drs. Daniel B. Pabala mengucapkan selamat datang dan selamat mengabdi di Kabupaten Sumba Barat, Tanah Pada Eweta – Manda Elu bagi Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat. “Dipundak Bapak berdua terdapat banyak harapan dan tanggung jawab yang masyarakat Sumba Barat titipkan”, tambah Beliau. Pada kesempatan itu juga Beliau mengucapkan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat terdahulu atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama mengabdi di Kabupaten Sumba Barat.

Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, Polres Sumba Barat dan Dandim 1613 Sumba Barat atas kebersamaan dan penyambutan dari Bandar Udara Umbu Mehang Kunda Kabupaten Sumba Timur sampai di Rumah Jabatan Sumba Barat. Beliau juga meminta dukungan dan kerja sama untuk membangun Kabupaten Sumba Barat, Tanah Pada Eweta – Manda Elu. Program kerja 100 hari menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat adalah kebersihan Kota Waikabubak, penerangan Kota Waikabubak, dan penataan aset Kabupaten Sumba Barat, tambah Beliau.

Acara penyambutan dihadiri oleh Pimpinan DPRD Kabupaten Sumba Barat, Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sumba Barat, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak, Para Sesepuh Sumba Barat, Ketua TP-PKK dan Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Sumba Barat, Asisten dan Staf Ahli Bupati pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Pemda Sumba Barat, Ketua KPU Kabupaten Sumba Barat, Ketua Bawaslu Kabupaten Sumba Barat, Para Camat se-Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan BUMN/BUMD se-Kabupaten Sumba Barat, Pimpinan Partai Politik se-Kabupaten Sumba Barat, serta Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Sumba Barat.

Bagikan Informasi Ini

Sosialisasi dan Penguatan Refferal Sistem Bagi Kelompok Peduli Anak

Waikabubak|| 27 April 2021. Setiap anak berhak mendapat perlindungan dari perlakukan diskriminasi, eksploitasi (ekonomi dan seksual), penelantaran, kekejaman dan kekerasan. Perlindungan ini diperoleh dari semua pihak tak terkecuali orangtua. Perlakukan yang tidak diinginkan oleh anak, terus terjadi peningkatan. Peningkatan korban dan kasus kekerasan terhadap anak. Kasus kekerasan yang dialami oleh anak, diperoleh dari lingkungan keluarga dan luar keluarga. Maraknya kekerasan pada anak umumnya disebabkan oleh; pertama, rendahnya pengetahuan orang tua dan lingkungan terdekat anak mengenai dampak kekerasan terhadap anak. Dampaknya, anak akan mengalami trauma fisik dan psikis, berpotensi menjadi pelaku tindak kekerasan ketika usia dewasa.  Kedua, penerapan mekanisme perlindungan dan pelaporan kasus kekerasan terhadap anak berbasis desa belum dilakukan secara maksimal.  Mekanisme atau referral system dapat digunakan oleh masyarakat untuk melapor, namun biasanya masih enggan melaporkan pelaku kekerasan, karena pelaku merupakan orang terdekat bahkan kerabat. Jikapun ada pelaporan, itupun kebanyakan sudah pada level yang parah sehingga penanganan menjadi amat kompleks. Ketiga, belum terintegrasi Lembaga perlindungan anak desa dan pemerintah desa. Komunikasi dan koordinasi kelompok peduli anak (KPA) desa belum berjalan dengan maksimal. KPA merupakan kelompok masyarakat bertanggung jawab merespons kasus perlindungan anak. Untuk itu, KPA dan pemerintah desa perlu bekerjasama memberikan respon kepada anak yang menjadi korban kekerasan dan perlu mendapat perhatian serta penanganan secara khusus. Penanganan korban melibatkan orangtua, keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Meningkatnya kasus kekerasan yang dialami oleh anak di area dampak program, mengharuskan mitra strategis dan pelaksana perlu berkolaborasi untuk melakukan aksi menyadarkan kelompok masyarakat, terkait pentingnya referral system dan dampak kekerasan yang dialami oleh anak.

Untuk mencegah peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, perlu startegi dalam menangani. Strategi yang dilakukan harus mampu mencegah dan menangani tindak kekerasan. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar strategi yang dilakukan berjalan secara holistik dan komprehensif.

Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sumba Barat, melaksanakan sosialisasi dan penguatan referral system kepada pemerintah dan KPA desa. Kegiatan ini bertujuan untuk; 1) mendorong para aktor di komunitas untuk pro-aktif menyelenggarakan kegiatan penguatan system rujukan dan perlindungan anak di desa, 2) mendorong isu perlindungan anak menjadi perhatian di desa sehingga ada dukungan dana desa untuk kegiatan perlindungan anak; dan 3) memastikan berjalannya sistem rujukan (sistem pelaporan kasus kekerasan terhadap anak) di desa. System pelaporan kasus terhadap anak, dipisah sesuai kategori kekerasan, sehingga proses penanganan akan disesuai dengan tupoksi dari sector terkait. Kategori disepakati menjadi tiga bagian, yaitu; ringan, sedang dan berat. Untuk penanganan kategori ringan ditangani di tingkat desa dengan penyelesaian kekeluargaan atau perdata, kategori sedang ditangani di tingkat desa dan melibatkan Dinas Sosial  dan Dinas P3A, dan untuk kategori berat ditangani oleh PPA Polres, Dinas Sosial dan P3A.

Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak bulan Maret dan akan berlangsung hingga bulan Mei 2021. Duapuluh (20) desa menjadi target sosialisasi kegiatan. Desa tersebut adalah; Baliledo, Gaura, Kalebu Anakaka, Kareka Nduku Utara, Malata, Watukarere, Zalakadu, Kareka Nduku, Manu Mada, Hupumada, Lingu Lango, Kabukarudi, Praibakul, Harona Kalla, Manola, Ringu Rara, Bondo Tera, Wee Patola, Manukuku, dan Patiala Bawa. Pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan KPA desa menjadi peserta dalam kegiatan ini. Mereka adalah aktor – aktor yang diharapkan mampu memberikan informasi dan menerapkan mekanisme system rujukan di komunitas.

Perwakilan Dinas P3A, Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, Jacklien S.Bara Pa, menegaskan bahwa referral system sangat penting bagi perlindungan anak. Pemerintah desa wajib memiliki referral system sebagai acuan untuk menanggani kasus kekerasan terhadap anak. Untuk kasus tertentu dalam hal ini, kekerasan fisik dan seksual pada anak, wajib dilaporkan. Hindari penyelesaian secara kekeluargaan, karena hal ini sangat merugikan anak. Kelemahan orangtua dan pemerintah setempat, adalah mengabaikan pendapat anak sebagai korban. Seharusnya, diskusi dan tanyakan pendapat anak yang mengalami kekerasan. Sebagai orangtua atau orang dewasa, wajib mendengarkan suara anak. Perlu diketahui secara bersama, bahwa anak yang mengalami kekerasan akan mengalami trauma, dan terbawa hingga anak tersebut dewasa. Jangan prioritaskan penanganan terhadap pelaku, tetapi bagaimana mendampingi anak sebagai korban.

Pernyataan yang sama disampaikan oleh Magdalena Bulu, Kepala Seksi Anak dari Dinas Sosial. Pemerintah mengharapkan agar masyarakat dapat memaksimalkan referral system yang ada, untuk memberikan informasi perlakuan tidak menyenangkan yang dialami oleh anak. Mekanisme pelaporan dilakukan sesuai konteks atau permasalahan yang dihadapi. Masyarakat harus berani memberikan atas persoalan yang dialami oleh anak. Respon tersebut akan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berwewenang, dalam hal ini Dinas Sosial, DP3A dan PPA Polres.

Kepala desa Hupumada, Anderias R. Wadda, memberikan pernyataan bahwa sejak adanya KPA dan pendampingan dari Save the Children dan Stimulant, dengan melakukan sosialisasi di dusun-dusun, kasus kekerasan terhadap anak sudah berkurang khususnya yang bersifat exploitasi. Sebelumnya, ketika musim kerja sawah anak dibawa oleh orang tua untuk bantu kerja sawah. Dengan demikian anak tidak bisa ke sekolah. Dengan sosialisasi yang sering dilakukan oleh KPA, perlahan-lahan eksploitasi anak mulai berkurang. Orangtua mulai sadar bahwa anak harus ke sekolah untuk mendapat Pendidikan.

Semua upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan mitra sebagai gerakan untuk melindungi anak. Melindungi dari semua tindakan kekerasana dan eksploitasi. Upaya untuk mengajak dan mendorong semua pihak membentuk ekosistem yang baik untuk anak-anak. Caranya, dengan mendorong kesadaran masyarakat memaksimalkan mekanisme referral system yang telah ada dan selanjutnya berkontribusi untuk turut menjaga dan melindungi anak-anak.  Apabila dilakukan secara rutin dan berjenjang maka dapat membentuk pembangunan karakter dalam keluarga dan komunitas. Keluarag dan komunitas, sebagai lingkungan terdekat anak harus menjadi pelindung bagi anak-anak dari berbagai risiko.  Meminimalkan risiko-risiko perlakukan yang tidak menyenangkan kepada anak, membantu membentuk dan membangun masa depan generasi penerus bangsa. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini