Day: <span>August 15, 2021</span>

Kukuhkan Paskibra Angkatan 76, Pesan Bupati : Berikan Yang Terbaik Buat Sumba Barat

Bupat Sumba Barat, Yohanis Dade, SH, Minggu (15/8/2021) malam mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Tingkat Kabupaten Sumba Barat. Para Paskibra ini Selasa (17/8/2021) pagi akan mengibarkan bendera (bendera merah putih) pada upacara 17 Agustus Tahun 2021 di Lapangan Manda Elu. .

Pengukuhan Paskibra yang berlangsung di aula kantor Bupati Sumba Barat ini, dihadiri anggota FORKOMPINDA, dan sejumlah Pimpinan OPD Kabupaten Sumba Barat.

Bupati Yohanis, dalam arahannya mengajak, kepada semua untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga bisa hadir dalam acara pengukuhan Paskibra Kabupaten Sumba Barat Angkatan-76.

Bupati menyebut, semangat dan kerja keras para Paskibra sangat luar biasa. Mulai dari persiapan, pelatihan dan pilihan terhadap orang-orang yang terlibat di dalam kegiatan ini telah melalui sebuah proses seleksi yang ketat dan membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang cukup berarti. Para pelajar yang dikukuhkan adalah pelajar yang telah dipilih, dilatih dan dipercaya untuk mengemban salah satu tugas Negara dalam kegiatan Pengibaran Duplikat Bendera Pusaka Sang Merah Putih pada Tanggal 17 Agustus nanti. “Saya percaya bahwa proses pembinaan dan pelatihan yang cukup lama telah memberi bekal disiplin, keterampilan dan kesadaran untuk memberikan yang terbaik bagi Negara, Bangsa dan Daerah Sumba Barat tercinta”, ungkapnya.

Bupati Yohanis mengingatkan kepada anggota Paskibra bahwa untuk tampil dan melanjutkan kepemimpinan di daerah ini kelak adalah mereka-mereka yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, yang cerdas dan berpengetahuan, yang sehat jasmani dan rohaninya, yang memiliki semangat untuk mengabdi dan berbuat yang terbaik untuk negaranya dan yang rukun satu sama lain, memiliki rasa kasih sayang dengan sesama saudaranya, tanpa membedakan identitas dan asal-usul, apakah dari segi agama, suku, etnis, kedaerahan dan lain-lain. “Jemputlah masa seperti itu, persiapkan diri kalian sebaik-baiknya. Karena semua itu harus diperjuangkan, memerlukan pengorbanan, memerlukan tekad dan kerja keras yang tinggi dari kalian semua”, kata Bupati mengingatkan.

Mengakhiri arahannya, Bupati Yohanis Dade kembali mengingatkan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya melanjutkan tugas kepemimpinan di negara ini, khusunya di daerah Sumba Barat tercinta.

Harus membangun persatuan, kerukunan, dan kekompakkan di antara sesama warga negara, diantara sesama generasi muda. “Khusus untuk menghadapi tugas penting pada tanggal 17 Agustus nanti, persiapkan diri kalian sebaik-baiknya, pelihara kesehatan, jaga pola makan, konsentrasi yang baik. Dengan demikian, tugas penting pada tanggal 17 Agustus nanti dapat kalian laksanakan dengan baik, lancar dan sukses”, pesan Bupati Yohanis mengakhiri arahannya.

(Dhi)

Demikian Siaran Pers Bagian Humas dan Protokol pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Barat.

Bagikan Informasi Ini

Mempertahankan Air untuk Keberlangsungan Hidup

Waikabubak, 13 Agustus 2021. Tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi. Semua makhluk hidup membutuhkan air. Tidak ada yang dapat pungkiri bahwa pernyataan ini benar. Jika dilihat dari tingkat kebutuhan, maka dapat dipastikan 65% tubuh manusia terdiri atas air. Pentingnya kebutuhan akan air bersih, maka adalah hal yang wajar jika sektor air bersih mendapatkan prioritas penanganan utama karena menyangkut kehidupan orang banyak. Penanganan akan pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan dengan berbagai cara, disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada.

Penyediaan air bersih di masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Peranan air bersih dalam kehidupan masyarakat, selain kebutuhan rumah tangga, diperlukan juga untuk produktivitas  dan pencegahan terhadap penyakit yang bersumber dari lingkungan. Dalam pelaksanaannya, penyediaan air bersih masih menjadi masalah masyarakat di Indonesia. Ada tiga masalah utama yang menyebabkan penyediaan air bersih yang buruk di wilayah kita; pertama adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pemeliharaan lingkungan. Masih banyak masyarakat mengabaikan ketersediaan air bersih yang disupport oleh alam. Dimana alam, melalui tumbuhan dapat menampung air melalui akar tanaman dan selanjutnya mempertahankan air untuk keberlangsungan hidup; kedua, adalah pemeliharaan Sarana Air Bersih (SAB) yang telah dibangun. Telah banyak SAB dibangun oleh pemerintah dan mitra, namun pada akhirnya tidak bertahan lama karena kerusakaan yang diakibatkan oleh kelalaian manusia. Kelalaian yang disegajakan maupun tidak disengajakan;  dan ketiga, adalah alokasi anggaran untuk meningkatkan pelayanan dan pemeliharaan air bersih dan sanitasi masih sangat minim. Anggaran dalam hal ini tidak saja berharap penuh dari pemerintah, tetapi kesadaran masyarakat untuk berkontribusi secara mandiri. Kontribusi masyarakat, memunculkan rasa kepemilikan dan keberlanjutan. Tiga masalah utama di atas, tampaknya tidak ada habis, jika kita tidak memiliki strategi dalam pengelolaan dan pemeliharaan. Jika dibiarkan tanpa bertindak, maka dari tahun ke tahun dapat bertambah komplek dan sulit ditangani. Kerugian terbesar akan dirasakan oleh generasi penerus. Lalu, apa yang dapat banggakan, jika kita tidak mampu mempertahankan keberlanjutan!. Perlu dipikirkan oleh semua pihak, terutama bagi komunitas yang melakukan perencanaan pembangunan SAB atas support dari pemerintah maupun pihak lain.

Project Air untuk Sumba berlokasi di desa Tanarara kecamatan Loli, dilaksanakan atas kerjasama Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) dan Save the Children. Project ini bertujuan untuk mendukung penyediaan air bersih bagi komunitas, Sekolah dan Puskesmas. Pada tanggal 13 Agustus 2021, pemerintah desa Tanarara bersama pemuka masyarakat menyelenggarakan ritual adat untuk pembangunan sumber air di dusun dua. Lokasi dilakukan pada mata air Wee Ranu. Pemuka masyarakat yang diwakili oleh Bora Lado selaku Rato Ketoka dan Delo Pila Rato Lekota. Prosesi ini sebagai tanda bahwa pelaksanaan pembangunan bak pada mata air Wee Ranu dapat mulai dilakukan.

Leonard Benny Johan, Spesialist Community Mobilizer (CM) Save the Children, menyampaikan bahwa mata air Wee Ranu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga desa Tanarara di sepanjang musim. Selain itu, lokasi pemukiman warga dekat dengan mata air sehingga sangat memungkinkan  untuk membangun system perpipaan air bersih di desa ini. Menurut Benny, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas Tanarara, Endang Marwati, S.Si., Apt. Dalam diskusi, diketahui bahwa Puskesmas Tanarara membutuhkan air bersih minimal 20.000 liter per bulan. Kebutuhan ini dikarenakan, Puseksmas Tanarara melayani tujuh desa, dan menangani jumlah persalinan minimal 10 kelahiran per bulan. Dengan kebutuhan air bersih yang sangat banyak, project air ini, akan sangat membantu pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), tegas Benny.

Dalam pelaksanaan, nampak partisipasi masyarakat mulai dari penggalian lahan pemasangan pipa sampai dengan kontribusi pengumpulan material local berupa batu alam. Librianus Lake, Program Coordinator CM Stimulant, mengungkapkan bahwa titik pembagian akan disebar pada tiga dusun dengan memasang 20 tugu kran. Tugu kran selain ke komunitas, dibagi ke dua sekolah dasar dan Puskesmas. Adapun jarak pipa, dihitung dari reservoir; ke Puskesmas ± 1 kilo meter, jarak ke lokasi SD Tanarara ± 1,5 kilo meter, dan dari mata air ke titik reservoir ± 250 meter. Untuk penggalian pada cross jalan, Stimulant telah berkoordinasi dengan kepala dinas PU, Ir. Fredrik Gah. Hal ini, dikarenakan cross jalan akan melewati jalur utama/ provinsi ungkap Libri.

Pendamping desa Tanarara, Jordy Alexander Jappalani menegaskan bahwa pelibatan komite air dan KPA dalam project ini, sangat membantu pelaksanaan kegiatan. Dalam hal ini, kami lebih memfokuskan pada strategi keberlanjutan pemeliharaan SAB. Pemerintah desa telah menganggarkan pemeliharaan melalui dana desa tahun 2022. Sementara itu, komite air bersama kepala desa memberlakukan iuran mandiri kepada kepala keluarga (KK) pengguna air dengan nominal Rp. 5000/KK/bulan. Iuran ini, diperuntukan bagi pemeliharaan SAB. Strategi lain yang telah dipikirkan oleh pemerintah desa, komite air dan KPA, adalah melakukan kesepakatan atau sumpah adat bagi seluruh masyarakat desa Tanarara. Kesepakatan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan atas kelalaian yang dilakukan oleh masyarakat,  tegas Jordy pada akhir monitoring.

Dalam pemantauan PSI pada hari Jumat, 14 Agustus 2021, mama Dorkas D. Nuna menyatakan perasaannya terkait pembangunan air bersih Wee Ranu. Menurutnya, yang dikerjakan oleh Stimulant dan Save the Children ini sangat membantu masyarakat. Karena, biasanya masyarakat di Gelakoko untuk mengambil air bersih harus berjalan kaki dengan waktu 3-4 jam ke mata air. Jika sudah capek jalan kaki, kami beli air bersih dengan harga Rp. 5.000 per jerigen 20 liter. Dan itu, menghabiskan uang Rp. 50.000 per hari, ujar Dorkas. Kalau pipa air bersih sudah ada, anak-anak kami punya waktu lebih untuk belajar dan bermain!. Dan saya, punya waktu banyak untuk menenun, sambung Dorkas.

Rupanya, air bersih ini sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat. Mengapa, karena dengan masuknya pipa air bersih ke komunitas, keluarga terkhususnya perempuan dewasa dan anak-anak, lebih banyak punya waktu untuk mengekspresikan dirinya melalui aktivitas yang berkualitas. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini