Month: <span>November 2021</span>

Hari Guru Nasional ‘Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan’

Waikabubak, 26 November 2021. Hari Guru Nasional (HGN) rutin diperingati oleh Pemerintah Indonesia setiap tanggal 25 November 2021. Betapa kita sadari bahwa peran Guru sangat membantu perubahan wajah Pendidikan Indonesia. Melalui momentum HGN, patut kita ucapkan terima kasih kepada para Guru atas jasa nya dalam memberikan ilmu pengetahuan bagi kita.  Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa kita telah dibesarkan oleh Guru.

Tema HGN ‘Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan’, mengandung makna bahwa ditengah masa pemullihan pasca pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud-Ristek) terus mengupayakan terobosan inovatif agar peserta didik dapat menerima pembelajaran meskipun dalam situasi pandemi. Terobosan atau upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, telah disesuaikan dengan situasi pemanfaatan teknologi yang memiliki relevansi kuat dengan kondisi aktual saat ini sebagai alat penunjang kegiatan belajar mengajar. Upaya untuk mendukung kegiatan belajar mengajar tidak saja dilakukan oleh Pemerintah atau Dinas Pendidikan, melainkan perlu dukungan dari semua pihak, antara lain warga sekolah, masyarakat, orangtua, dan Lembaga mitra. Sinergitas dari semua pihak, dapat menciptakan semangat belajar yang merdeka dan penuh cinta untuk memberikan hasil terbaik bagi dunia Pendidikan. Apa saja tindakan nyata dari sinergitas semua pihak yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar peserta didik?

Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) mitra Yayasan Save the Children, telah menyelenggarakan berbagai kompetisi yang dapat mendukung literasi dan perkembangan anak. Jenis kompetisi yang dilakukan antara lain pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE), penataan ruang kelas, dan mewarnai. Kompetisi ini bersifat inklusif dan diikuti oleh 64 tenaga pendidik PAUD, 123 orangtua dan 200 anak perempuan dan anak laki-laki. Kompetisi untuk mendukung proses pembelajaran bersifat inovatif dan inklusif. Semua hasil karya disiapkan dalam bentuk video dan gambar. Tujuannya agar dapat digunakan dan direplikasi oleh orangtua. Proses penilaian dilakukan oleh Dinas Pendidikan kabupaten Sumba Barat yang diwakili oleh Asri Doce Ina dan Ester Kareri Landa selaku fasilitator PAUD.

Bertempat di kantor Stimulant Institute, Ester Kareri Landa (Kepala Sekolah TK Pembina) menyatakan bahwa penilaian merujuk pada kelengkapan fasilitas dan dokumen teknis pembelajaran, media APE mengakomodir empat aspek perkembangan (kognitif, sosial emosional, bahasa dan motoric) dan kerapian dan ketajaman warna dari hasil karya. Saya tidak menyangka peserta lomba mampu menghasilkan karya-karya yang menarik dan edukatif. Kompetisi – kompetisi seperti ini perlu terus diadakan agar dapat memotivasi tenaga pendidik dan orangtua untuk bersinergi memberikan Pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak, ujar Apu.

Novita Rambu Wasak Lodang, ECCD Program Coordinator PSI, dalam tatap muka menyatakan bahwa kompetisi ini bertujuan; 1) untuk mendorong tenaga pendidik melakukan kegiatan inovatif yang dapat mendukung proses pembelajaran di lingkungan PAUD, 2) mendukung orangtua anak untuk menyediakan peralatan belajar yang dapat membantu perkembangan dan literasi anak, dan 3) memotivasi anak-anak terkhususnya anak PAUD untuk terus belajar dalam kondisi pandemic. Menurut Novita, perhelatan ini telah diselenggarakan sejak bulan September 2021. Kami memberikan waktu kepada peserta, agar mampu mengidentifikasi potensi local yang dapat mendukung proses pembelajaran, selain itu kebutuhan bahan ajar bagi anak-anak perlu disesuaikan dengan ketersediaan material di komunitas.

Pandemi Covid-19 cukup mempengaruhi semua aspek kehidupan, tetapi sebagai aktivis dari Lembaga sosial, kita tidak bisa berdiam diri dan pasrah terhadap keadaan. Sebab, kerugian akan dialami oleh anak-anak, selain itu kita perlu memikirkan wajah Pendidikan di masa mendatang, ujar Novita.

Martha Wawo, tenaga pendidik dari PAUD Buhangu Bolu, desa Rua, memberikan apresiasi kepada Stimulant yang telah menyelenggarakan kompetisi ‘Penataan Ruang Kelas’.  Melalui lomba penataan kelas, kami dapat mengasah kemampuan untuk menyiapkan lingkungan pembelajaran yang komprehensif. Lingkungan belajar dengan fasilitas yang mendukung proses belajar, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, selain itu nilai positifnya adalah orangtua anak semakin percaya terhadap keberadaan Lembaga PAUD, ujar Martha.

Lomba pembuatan APE, dibuat dalam video dan gambar, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), dapat membantu anak dalam mencapai empat aspek perkembang termasuk literasi. Kompetisi ini dimenangkan oleh keluarga Mariana Magi Lele. Keluarga ini menyiapkan video APE yang menceritakan proses pembuatan bunga dari bahan bekas. Dalam proses ini, saya dan anak sama-sama belajar menghitung jumlah bunga yang dirangkai, mengenal warna dan bentuk, ujar Mariana, Kami hendak mengajak para orangtua untuk memberdayakan semua material ditingkat rumah tangga, agar anak-anak dapat belajar. Kita tidak harus berharap pada guru, tetapi sebagai orangtua, tentunya waktu kita bersama anak lebih banyak dibanding guru ujar Mariana.

Sementara ditempat yang berbeda, Aliza Nathalia Lida Dapawole dari PAUD Siloam terpilih sebagai juara lomba mewarnai.

Dari hasil diskusi bersama peserta lomba melalui lembar feedback mechanism, menyatakan senang mengikuti kompetisi. Orangtua dan tenaga pendidik memberikan apresiasi kepada Stimulant dan Save the Children, yang peka terhadap kebutuhan layanan Pendidikan, meskipun dalam situasi pandemic. (PSI, RED)

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

Apresiasi Ide Kreatif Prajurit KODIM 1613, Pemda Sumba Barat Luncurkan Aplikasi Tertib BBM

DKIPS – WAIKABUBAK | Hampir setiap hari antrian panjang kendaraan roda empat dan roda dua memadati sebelah sisi ruas jalan raya sampai ke tempat pengisian bahan bakar di dua SPBU Kota Waikabubak. Sebagian besar antrian, sesuai hasil pengamatan, diisi oleh kendaraan yang akan “tap” bensin. Tidak cukup sampai di situ, dari sisi depan tempat pengisian, puluhan jerigen berukuran 20 liter ke atas ikut mengantri. Sering juga diamati pengemudi kendaraan, di tengah-tengah antrian panjang, menuangkan hasil “tapnya” ke jerigen-jerigen untuk mereka yang ingin mendapatkan bensin tanpa mengantri, yang kemudian dijual lagi. Karena itu, tidak jarang para pengendara yang benar-benar ingin mengisi kendaraanya yang sudah “lowbat” frustrasi karena setelah mengantri lama, bahan bakar yang di nanti habis, sehingga tidak ada pilihan lain selain membeli dengan harga mahal pada para penjual bensin eceran yang banyak dijumpai di pinggiran jalan.

Pemerintah daerah pernah melakukan penertiban terhadap penjualan Premium secara eceran pada saat bahan bakar ini masih tersedia. Namun,  masih ada juga segelintir masyarakat yang tetap menjualnya. Sisanya beralih menjual Pertalite dan Petramax.

Situasi di atas otomatis membuat bensin menjadi mahal dan cenderung langkah bukan saja Pertalite tetapi juga Petramax. Tidak sedikit pemilik kendaraan yang memarkirkan kendaran roda empatnya di rumah. Oleh karena hal-hal di atas, Pemerintah Daerah mengapresiasi  ide seorang prajurit TNI KODIM 1614 Sumba Barat, yang tidak disebutkan namanya, atas hadirnya Aplikasi Tertib BBM.

“Atas nama Pemerintah Daerah, saya mengucapkan terimakasih atas ide dibuatnya aplikasi Tertib BBM. Kami bangga bahwa ide ini lahir dari prajurit KODIM 1613 Sumba Bara dalam upaya membantu masyarakat Sumba Barat agar lebih tertib dan disiplin melalui peran digitalisasi. Semoga aplikasi ini dapat bermanfaat, efektif dan efisien”, demikian sambutan Bupati Sumba Barat, yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Imanuel Mesakh Ani, M.Si, dalam acara Launchin Perdana Aplikasi Tertib BBM yang bertema: “Pantang dan Malu Isi Dobel”. Kegiatan ini berlangsung di depan Kantor SPBU Benita, Waikabubak, Jumat 12 Nopember 2021.

Kepala Bagian ESDM dan Kehutanan, Sekrerariat Daerah Kabupaten Sumba Barat, Grace Weru Ora, S.Si, selaku panitia penyelenggara kegiatan ini, menyampaikan bahwa ada tiga persoalan yang sering terjadi dalam hal penyaluran BBM di Sumba Barat, yakni:

  1. Masyarakat mengisi lebih dari 1 kali dalam sehari;
  2. Pengawasan kasat mata manual tidak maksimal, misalnya: nomor polisi dan supir dapat diganti untuk mengelabui pengawas SPBU; dan
  3. Operator SPBU sendiri yang tidak taat aturan.

Permasalahan di atas sesuai hasil pengawasan dan kajian Tim Pengawasan dan Penertiban BBM (Wastib) menjadi dasar bagi Pemda untuk memanfaatkan sistem digitalisasi tertib BBM dengan tujuan:

  1. Membantu SPBU dan Tim Wastib meminimalisir pendobelan pengisian bahan bakar dalam sehari untuk mencegah penimbunan dan kelangkaan BBM;
  2. Membantu SPBU dan Tim Wastib mendeteksi kecurangan dan monopoli pengisian BBM; dan
  3. Menanamkan pada masyarakat pengguna BBM budaya disiplin dan budaya malu dalam hubungan dengan aturan yang berlaku.

Sasaran aplikasi ini adalah:

  1. Untuk jangka pendek: kendaraan roda 4 pengguna BBM Pertalite dan Petramax, kecuali kendaraan dinas dan luar kabupaten Sumba Barat yang melintas; dan
  2. Untuk jangka panjang: kendaraan roda 2 dan roda 4 pengguna BBM bersubsidi dan non-subsidi.

Cara kerja aplikasi ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk keperluan deteksi, kendaraan sasaran akan ditempel stiker/barcode berwarna biru untuk SPBU Benita dan berwarna emas untuk SPBU Galaxi;
  2. Setiap kendaraan hanya bisa dilayani satu SPBU sesuai warna stiker;
  3. Dalam keadaan tertentu, misalnya, SPBU kehabisan bensin, pengendara dapat memberitahu petugas aplikasi agar dapat dilayani di SPBU yang masih tersedia BBMnya; dan
  4. Setiap SPBU akan memiliki seorang petugas aplikasi.

Semoga aplikasi ini dapat menjadi solusi yang sudah lama dinantikan masyarakat. Namun juga dibutuhkan kerja sama semua pihak agar tidak terjadi lagi kelangkaan serta mahalnya harga BBM karena harus membeli hasil “tap”.  Pemda menginginkan agar selalu tersedia BBM secara tertib, tepat sasaran dan merata bagi masyarakat. Karena itu perlu alternatif bagi sebagian masyarakat yang mengharapkan rezeki dengan menjual BMM secara tidak resmi baik sebagai sumber penghasilan utama maupun tambahan.

 

 

Bagikan Informasi Ini

Desa Tanarara Dapat Sarana Air Bersih, BLT dan Paket Belajar Dari Yayasan Save The Children dan Stimulan, Wakil Bupati Sumba Barat: Bantuan Tepat Pada Waktunya

Dampak Covid-19 sangat berat dirasakan masyarakat walaupun Pemda telah melakukan berbagai upaya intervensi. Mengutip data BPS, Wakil Bupati, Jhon Lado Bora Kabba, Sumba Barat memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak di NTT, yaitu 28,12 % dari jumlah penduduk, yang juga jauh di atas rata-rata propinsi, yakni 21, 21% dan rata-rata nasional 10,19%. Juga menurut Perpres No 63 Tahun 2020, Sumba Barat adalah salah satu dari  62 daerah tertinggal di Indonesia tahun 2020 – 2024, bahkan Perpres sebelumnya juga menempatkan Sumba Barat sebagai salah satu daerah tertinggal untuk 5 tahun sebelumnya, yakni 2014 – 2019. Karena itu Pemda sangat mengapresiasi bantuan Save the Children dan Stimulan.  Bantuan ini merupakan sinergi kerjasama yang tepat antara Pemda dan mitra dalam upaya-upaya seperti perlindungan sosial, pemenuhan layanan dasar pendidikan, kesehatan dan penyediaan sanitasi.

Demikian beberapa hal yang disari dari sambutan Wakil Bupati Sumba Barat dalam acara: Peresmian Sarana Air Bersih, Peluncuran Bantuan Langsung Tunai dan Distribusi Paket Belajar di Kantor Desa Tanarara, Kecamatan Loli, Sumba Barat, Selasa, 9 Oktober 2021.

Bantuan ini berawal dari Rapid Need Assessment (RNA), atau suatu penilaian cepat terhadap keluarga yang terdampak Covid-19. Hasil penilaian ini menunjukkan bahwa 66% masyarakat mengalami penurunan pendapatan dan membutuhkan kebutuhan paling dasar seperti persediaan makanan 74% dan nutrisi dan kebutuhan sekolah 51 %. Sebagai respon terhadap keadaan di atas, Save the Children dan mitranya Stimulan kemudian melaksanakan ‘Proyek Air Untuk Sumba’  sejak Mei 2021 dengan menyediakan sarana air bersih berupa 24 tap stand dan 1 tendon air untuk komunitas setempat, SD Weeranu dan Puskesmas Tanarara yang sudah beroperasi Bulan Oktober lalu. Di samping itu, melalui ‘Gender Project’ atau proyek gender juga disediakan dana untuk 1400 kepala keluarga serta paket belajar bagi 1000 anak-anak.

Dalam acara peresmian ini dilaksanakan serah terima dari Save the Children ke Pemda yang selanjutkan ke Pemdes dan juga serah terima dana (Cash Transfer Program) dari Save the Children kepada perwakilan kepala keluarga serta paket belajar kepada perwakilan anak. Wakil Bupati juga bersama rombongan diajak melihat lokasi sarana air yang sudah disediakan.

Acara serah terima ini juga diiringi hujan sejak kedatangan rombongan Pemda sampai akhir acara serah terima. Hujan berhenti pada saat makan siang. Hujan berkat.

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

Kompetisi Pengembangan Media Kampanye, Mengedukasi Remaja Terkait Dampak Perilaku Berisiko

Waikabubak, 05 November 2021. Data statistik Kabupaten Sumba Barat Barat tahun 2020 menunjukkan, bahwa 20% atau 28.830 dari 145.097 jiwa merupakan penduduk berusia remaja (10 – 19 tahun), 13.767 anak perempuan dan 15.063 anak laki-laki.  Angka ini belum mengakomodir data anak usia dibawah 10 tahun. Namun dapat dipastikan bahwa 42,57% penduduk di Sumba Barat masuk dalam kategori usia anak. Persentase ini memberikan potret kepada kita bahwa ada setengah penduduk di wilayah administrasi ini membutuhkan perhatian dari multi pihak untuk mendukung pencapaian bonus demografi di tahun 2030.

Masa remaja merupakan fase dalam kehidupan seseorang mengalami perkembangan sebelum masuk usia dewasa. Pada fase ini, perubahan signifikan terjadi secara fisik, mental maupun sosial. Dan fase ini, remaja diperhadapkan pada pilihan untuk mulai belajar mencari tahu hal baru, belajar mengambil keputusan sendiri, serta yang tak kalah penting adalah mereka mulai mencari jati diri dan ingin diakui oleh sesama. Terkait perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja, perlu dukungan multi pihak.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung perkembangan remaja dan menghindari perilaku berisiko adalah dengan melibatkan remaja dalam kompetisi pengembangan media kampanye. Kompetisi media kampanye meliputi; video, cerita pendek dan karikatur (gambar). Ketiga media ini dapat menjadi bahan edukasi bagi para remaja. Kompetisi ini bertujuan untuk menyediakan ruang bagi anak dalam mengembangkan kreatifitas dimasa pandemi, membiasakan remaja terlibat dalam isu kesehatan reproduksi (kespro) dan gender, dan meningkatkan pemahaman dan kesadaran anak remaja dalam menghadapi isu-isu kespro dan gender. Hasil karya remaja, akan dinilai oleh perwakilan remaja bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sumba Barat.

Kompetisi media kampanye menargetkan para remaja dari 28 sekolah dampingan Sponsorship. Teknisnya, remaja diberikan keluasan untuk memilih satu dari tiga tema (kesehatan reproduksi, dampak pergaulan bebas, dan gender). Selain itu, remaja diberikan keluasan dalam mengembangkan tema, seperti video, gambar atau cerita pendek. Selama 60 hari, kompetisi ini telah digaungkan kepada remaja target. Hasilnya, 9 peserta didik, terpilih sebagai pemenang kompetisi.

Kategori Video: juara I, Adelin Bili (SMP Negeri 2 Lamboya), Juara 2, Azarya Erents Bili (SMP Negeri 2 Wanukaka), dan Juara 3, Tri Putri Jenita Kani (SMP Negeri 1 Lamboya). Kategori Cerita Pendek; Juara 1, Amelia Yaku Bida (SMP Kristen Wanukaka), Juara 2, Aurea Asrinina Nedia Denga (SMP Negeri 6 Loli), dan Juara 3, Indryan Ayuwati Buningani (SMP Negeri 4 Loli)

Kategori Gambar/ karikatur; Juara 1, Mita Lara Nadin Ayu (MTs Negeri Sumba Barat), Juara 2, Yohanes Malo (SMP Katholik Waikabubak), dan Juara 3, Yosua Baiya (SMP Negeri 3 Lamboya).

Menurut Risky Fanggidae, Project Assistant Program Pengembangan Remaja), hasil kompetisi remaja ini dapat bisa dijadikan bahan kampanye dan sosialisasi pada sasaran remaja yang lebih luas. Lebih lanjut Risky mengatakan bahwa pengembangan konten dan materi lomba sangat konteksual dengan budaya Sumba. Sebagai contoh, bahwa content yang dibuat menggunakan Bahasa Indonesia dengan kearifan local dan latar belakang disesuaikan dengan kondisi Sumba. Menurut saya, ini sangat membantu audiens untuk memahami pesan yang termuat didalamnya.

Pada tempat yang berbeda, Adelin Bili (salah satu peserta kompetisi) mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan kesempatan kepada remaja untuk kreatif dan mandiri dalam mencari informasi terkait kespro dan gender baik melalui guru, media internet dan referensi lain yang bisa dijadikan sumber informasi.

Hal senada disampaikan oleh Melda Manafe selaku kepala seksi pemenuhan hak anak Dinas P3A. Beliau melihat sebagian besar remaja di Sumba Barat saat ini sudah melek IT. Kemampuan remaja dalam mengakses berbagai informasi dan kontent melalui internet tanpa melalui proses filter ini perlu menjadi perhatian bersama. Tidak jarang kita melihat banyak remaja dengan pola pikir dan perilaku melebihi dari usia mereka. Menyikapi hal ini, remaja membutuhkan orang-orang yang bisa mengarahkan dan mendampingi mereka pada kegiatan yang membangun salah satunya mengikutsertakan mereka dalam kegiatan kompetisi ini. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini