Month: <span>June 2022</span>

281 Pemuda mengikuti Pelatihan Siap Kerja dari Stimulant Institute

Waikabubak, 27 Juni 2022. Jumlah pemuda hampir seperempat dari total populasi penduduk Indonesia dan terus bertambah setiap tahunnya. Karena itu, keberhasilan pembangunan pemuda merupakan kunci untuk mengentaskan kemiskinan dan memanfaatkan bonus demografi untuk menuju Indonesia Maju 2045. Upaya meningkatkan kewirausahaan pemuda dilakukan pemerintah untuk mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda.  Data BPS Nasional, 2021, dari total 205,36 juta penduduk usia kerja, sebanyak 8,6 juta orang merupakan pengangguran. Dari jumlah tersebut, 17,66% pemuda usia 20-24 tahun dan 9,27% pemuda usia 25-29 tahun merupakan pengangguran. Pengembangan wirausaha pemuda selain dapat mengurangi pengangguran di kalangan pemuda, akan membuka lapangan kerja baru, hingga mengurangi angka kemiskinan. Pengembangan kewirausahaan yang terarah dan terpadu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, diperlukan keterlibatan berbagai komponen masyarakat. Paling tidak harus didukung oleh pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha (swasta), dan masyarakat.

Di kabupaten Sumba Barat, 29% atau 42.778 dari 145.097 penduduk berusia 13-25 tahun (BPS, 2020). Sementara itu, angka pengangguran mengalami peningkatan sebesar 3,96%, meningkat 1% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini, dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah, mempengaruhi ruang gerak pelaku sektor usaha. Hasilnya, penggurangan tenaga kerja atau karyawan. Sementara itu, di tingkat rumah tangga, kepala keluarga harus kehilangan mata pencaharian karena pembatasan tersebut. Kehilangan mata pencaharian, berdampak pada peningkatan angka pengangguran. Data BPS menunjukan bahwa angka pengangguran dengan tingkat pendidikan SMA lebih tinggi dibandingkan Pendidikan SD. Selain itu, data persentase pengangguran laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. 59, 52% laki-laki dan 40, 48% perempuan.

Untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi anak muda, pada tahun 2022 Save the Children dan Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) melakukan upaya intervensi program terkait pengembangan keterampilan kewirausahaan melalui project Youth Education and Employability (YEE). Project YEE bertujuan memberikan akses bagi kaum muda untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat mempersiapkan anak muda miliki pekerjaan yang layak, baik dengan bekerja dalam bisnis atau menjalankan usaha kecil secara individu.

Implementasi project YEE berfokus pada empat desa intervensi. Keempat desa tersebut adalah;  Baliledo, Laboya Bawa, Weepatola dan Kareka Nduku. Dan keempat desa ini merupakan desa dengan lokus stunting tertinggi di Kabupaten Sumba Barat (Bappelitbangda, 2021). Melalui intervensi project YEE, berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga dan mampu menunjang kebutuhan keluarga terutama anak-anak. Meningkatnya ekonomi keluarga, diharapkan dapat menyumbang pada penurunan angka stunting. Selain intervensi di komunitas, project YEE menyasar pada Lembaga Pendidikan menengah atau SMK. Intervensi di SMK bertujuan untuk memberikan informasi wirausaha atau peluang usaha kepada peserta didik sehingga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri. Disisi lain, penting untuk mengintegrasikan sistem pembelajaran wirausaha melalui pelatihan atau berbagi informasi kepada pekerja. Pemilihan SMK telah disesuaikan dengan peserta didik yang berasal  dari empat desa target intervensi. Keempat SMK tersebut adalah SMK 1 Loli, SMK 2 Loli, SMK 1 Tanarighu dan SMK 1 Lamboya.

Pada tanggal 22-25 Juni 2022, Stimulant institute melaksanakan pelatihan “Siap Kerja” bagi 281 pemuda (148 perempuan dan 133 laki-laki) usia 13-25 tahun. 34% diantaranya merupakan anak putus sekolah. Pelatihan berlangsung di masing-masing desa intervensi. Peserta pelatihan didampingi oleh staf proyek YEE dan mentor Kewirausahaan. Sebelumnya, mentor telah mendapat pelatihan Kewirausahaan dari Konsultan pengembang modul. Para mentor merupakan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan aparat desa terpilih.

Project Coordinator YEE Stimulant Institute, Umbu Ngailu Dedi menyatakan bahwa pelatihan “Siap Kerja” bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pandangan pengembangan usaha kepada anak muda sehingga secara mandiri dapat membangun bisnisnya sesuai potensi dan kepeminatan. Sebelumnya, kami telah bekerja sama dengan Konsultan untuk mengembangkan Modul Kesiapan Kerja sesuai konteks lokal. Buku pegangan Fasilitator diadaptasi dari modul Kesiapan Kerja pada project ASST Save the Children di pulau Jawa. Pasca pengembangan Modul, kami lanjutkan dengan mengkapasitasi 24 mentor untuk menjadi fasilitator. Project ini menargetkan 1700 orang muda dan 300 orang dewasa mendapatkan penyadaran peluang usaha, ujar Umbu. Untuk menjangkau banyak pemuda, kami bekerja sama dengan pemerintah desa dan pihak SMK. Selanjutnya, pada bulan Juni 400 pemuda dari 1700 terseleksi untuk mengikuti pelatihan Siap Kerja, tegas Umbu diakhir perbincangan.

Salah satu tim project yang terlibat dalam kegiatan pelatihan Stevani Yessy Tupu, memberikan tanggapan terkait pelibatan anak putus sekolah (DO) dalam proyek ini. Menurut Yessy, tingkat kesulitan para mentor ketika mendampingi anak DO pada jenjang pendidikan SD, cukup berbeda dengan anak DO pada jenjang Pendidikan SMP dan SMA, jelas Yessy. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam pelatihan ini mentor menggunakan dua Bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah atau bahasa ibu. Penggunaan dua Bahasa, untuk mengundang partisipasi anak-anak terutama anak DO, urainya.

Ditempat yang berbeda, Risky Fanggidae, officer proyek, menyebutkan bahwa dari empat desa intervensi, peserta DO lebih banyak berasal dari kecamatan Tana Righu. Saat mendampingi sesi pelatihan, saya dibantu oleh kasie kesra untuk menerjemahkan materi kedalam bahasa ibu. Selama proses pelatihan, kesulitan yang ditemui oleh mentor dan pendamping lapangan adalah ketika peserta mencoba mengisi contoh formulir proposal rencana usaha, kata Risky. Tingkat kesulitan yang ditemui adalah melakukan penyusunan detail kebutuhan anggaran untuk usaha yang hendak dilakukan, ujar Risky.

Selanjut, pemuda yang telah mengikuti pelatihan, akan didampingi oleh para mentor untuk membuat proposal pengajuan usaha kepada tim project. Proposal yang masuk, akan diseleksi dan memilih 175 pemuda yang berkesempatan mendapat dukungan anggaran sehingga dapat membuka usaha sesuai potensi dan kepeminataan. Untuk memastikan peluang usaha yang diajukan, tim project akan melakukan assessment pada pemuda terpilih. Sehingga, kesesuaian antara lokasi, potensi, minat dan anggaran dapat terlaksana dengan baik. (PSI, red).

Bagikan Informasi Ini

Program Parenting Dalam Keluarga Mendorong Orangtua Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Waikabubak, 25 Juni 2022. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berkualitas tinggi adalah program pendidikan yang memiliki kesinambungan antara lembaga PAUD dengan keluarga. Keselarasan pendidikan yang dilaksanakan di Lembaga PAUD dan di rumah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan anak secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi. Program parenting atau pengasuhan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam Lembaga PAUD.

Program parenting PAUD berbasis keluarga adalah salah satu upaya keselarasan dan keberlanjutan pendidikan yang di lakukan di rumah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam peningkatan gizi dan kesehatan, perawatan, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan sesuai tahapan usia anak. Namun, kenyataan yang di jumpai dalam masyarakat, masih banyak keluarga belum memahami pentingnya peran mereka bagi anak, sehingga tidak terpenuhinya hak-hak anak tersebut. Keberadaan hak-hak anak dalam masyarakat belum sepenuhnya diketahui, karena kurangnya sosialisasi dalam masyarakat dan keluarga sehingga sering kali terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak.

Belum semua PAUD melaksanakan program parenting, hal ini dikarenakan pengetahuan yang minim tentang program parenting. Selain minimnya pengetahuan tentang program parenting, lembaga PAUD sulit mendatangkan fasilitator atau narasumber. Selain itu, lembaga PAUD merasa sulit mengundang orang tua, dikarenakan peserta parenting (orang tua) berhalangan hadir karena bekerja atau memiliki kegiatan yang sudah direncanakan. Terdapat pula orang tua yang tidak memiliki pengetahuan tentang tumbuh kembang anak sehingga orang tua mendidik, mengasuh, dan merawat anaknya sebagaimana orang tuanya telah mendidik, merawat, dan mengasuhnya di masa yang lalu.

Untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang parenting, serta mendekatkan layanan pengasuhan bagi keluarga, lembaga pendidikan dapat melakukan program parenting bagi orang tua berbasis komunitas. Pendekatan keluarga atau komunitas, bertujuan untuk menjangkau lebih banyak orangtua atau keluarga sekaligus membuka ruang diskusi parenting antara teman sebaya (orangtua).

Stimulant Institute mitra Save the Children, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (DPKO), melaksanakan pelatihan Parenting Bagi Tenaga Pendidik PAUD. Pelatihan diselenggarakan pada tanggal 23 – 25 Juni 2022, bertempat di Aula SMP Negeri 3 Loli. 19 tendik (18 perempuan dan 1 laki-laki) dari 20 PAUD intervensi Sponsorship, dilibatkan dalam pelatihan ini.

Kegiatan dibuka oleh Plt. Kepala Dinas PKO, Yeremia Ndapa Doda. Beliau menegaskan bahwa Pendidikan karakter dimulai sejak usia dini, dan orangtua berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Untuk dapat menjangkau orangtua di komunitas, kami membutuhkan kesediaan para tendik PAUD mendampingi orangtua. Pengasuhan yang tepat diwaktu yang tepat, dapat membantu membentuk generasi penerus yang berkualitas, ujar Yeremia. Membentuk karakter anak sejak dini, telah dipikirkan oleh Stimulant sehingga mau menyelenggarakan kegiatan ini. Saya mengajak para tendik, ditengah kesulitan-kesulitan yang kita alami, jangan putus asa, dan harus ikhlas memberikan pelayanan. Bantu anak-anak Sumba untuk menjadi sumber daya manusia yang berkarakter dan berkualitas, penegasan beliau, menutup kata sambutannya.

Tim program PAUD, yang diwakili oleh Novita Rambu Wasak Lodang selaku koordinator program PAUD pada Stimulant Intitute, menyampaikan bahwa sejak tahun 2021, Sponsorship telah melaksanakan piloting kelas pengasuhan dengan pendekatan terintegrasi antara keluarga dan Lembaga Pendidikan. Kelas parenting dengan pendekatan terintegrasi, menggunakan modul yang sebelumnya telah direview berdasarkan konteks local. Modul tersebut berisikan materi pengasuhan yang positif, perkembangan anak, gender, pengenalan literasi dan matematika dasar, kesehatan dan nutrisi keluarga, ujar Novita.

Piloting kelas pengasuhan, dilaksanakan pada 2 lembaga PAUD dengan menyasar langsung orang tua anak di lembaga tersebut. Dan, hasilnya telah memberikan dampak positif bagi orang tua yang rutin mengikuti diskusi hingga akhir sesi. Dampak positif tersebut bagi orangtua, meliputi; cara mendampingi anak belajar di rumah melalui metode yang menyenangkan bagi anak, kesetaraan gender dalam mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, pembiasaan hidup sehat dan bersih serta penyediaan makanan yang bergizi bagi anak. Hasil pendampingan memberikan pembelajaran positif, sehingga kami melanjutkan untuk menjangkau lebih banyak lembaga PAUD pada tahun 2022, tegas Novita.

Pelatihan ini difasilitasi oleh tim PAUD Sponsorship, Novita Lodang, Meliana Kristin Patola dan Elvianus Umbu Lowu. Ketiganya berbagi peran dalam memfasilitasi. 12 topik disampaikan kepada 19 peserta melalui metode diskusi dan bermain peran. Setelah pelatihan, tendik akan melakukan pendampingan kepada orangtua di komunitas dengan melakukan sesi diskusi secara rutin.

Salah satu peserta, atas nama Debora Malo tendik PAUD Harapan Baru desa Baliledo, menyampaikan alasannya mengikuti pelatihan parenting, bahwa sebagai tendik saya membutuhkan banyak informasi, apalagi informasi tentang pola asuh. Banyak informasi yang saya dengar baik dari media ataupun saat ikut pertemuan bahwa pengasuhan  menjadi salah satu factor pendukung stunting, ujar Debi (nama panggilan). Materi yang dibagikan sangat lengkap, dan kami tidak saja diberikan materi tetapi ada praktik melalui lagu dan gerak. Hal-hal ini, sangat baik untuk saya dan teman-teman menerapkan di Lembaga PAUD saya.

Ditempat yang sama, Agustina Koba Bulu tendik PAUD Buah Hati desa Tematana menyampaikan bahwa keterlibatan tendik sebagai peserta pelatihan bukan karena uang, melainkan materi dan pengalaman baru yang diperoleh dari tim PAUD dan peserta lainnya. Disini kami belajar untuk saling mendengar pendapat teman, dan mendengarkan informasi sampai selesai. Bagi saya, saling mendengarkan ketika teman sedang bicara adalah hal baik yang selanjutnya harus saya terapkan dalam rumah tangga atau keluarga. Tidak saja di keluarga, namun dalam ruang kelas perlu untuk saling mendengarkan, ujar Agustina.

Harapan tendik disampaikan kepada pemerintah desa dan orangtua, adalah mendukung pelaksanaan parenting di komunitas dengan mendorong orangtua anak PAUD untuk aktif terlibat dalam sesi diskusi parenting di komunitas. Selain itu, membantu menyediakan anggaran bagi tendi selaku fasilitator untuk dapat melakukan kunjungan ke rumah orangtua target sebgai bentu pendampingan keluarga.

Martha Bili tendik PAUD Golgota desa Hupumada, mengeluhkan bahwa kadang orangtua sibuk dengan pertanian, sehingga sulit untuk membagi waktu mengikuti kegiatan rutin seperti kelas pengasuhan. Pemerintah desa, bantu kami dengan menyadarkan orangtua untuk aktif, karena yang kami lakukan untuk anak-anak di desa kita. Bapak Desa kami, memberikan pesan kepada saya, untuk menyampaikan kepada Stimulant untuk melibatkan PAUD lainnya, sehingga banyak anak dapat dijangkau oleh teman-teman tendik lainnya di desa Hupumada.

Salah satu tendik laki-laki, Kuri Bili Nija tendik PAUD Kasih desa Ubu Pede, mengharapkan agar orangtua terkhususnya bapak-bapak, dapat terlibat dalam diskusi parenting di PAUD dampingannya. Menurut beliau, untuk mengasuh anak tidak saja menjadi tanggung jawab mama, melainkan buuth peran bapak. Bapak-bapak harus ikut mama ke kelas parenting, sehingga tahu cara mengasuh anak dengan baik, ujar Kris diakhir sesi diskusi.

Pasca pelatihan, 19 tendik PAUD akan kembali ke desanya, dan melaksanakan sesi parenting bersama 200 pasang orangtua. Per desa menjangkau 10 pasang orangtua. Pendampingan dan diskusi parenting dilakukan dalam empat bulan, terhitung bulan Juli sampai dengan Oktober 2022. Selanjutnya, tim PAUD Sponsorship akan intens melakukan pemantauan dan evaluasi hasil pelaksanaan kelas pengasuhan di 20 desa target. (PSI, Red).

Bagikan Informasi Ini

Vakum sejak 1 Mei 2020, Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah Definitif Sumba Barat akhirnya dijabat Yermia Ndapa Doda

Waikabubak, DKIPS SB

Terpilihnya Asisten II Setda ini bukan karena sikap pilih kasih, tetapi benar-benar merupakan hasil seleksi yang berlangsung secara adil, dimana Yermia Ndapa Doda, S.Sos. menempati ranking teratas dari para calon Sekda. Demikian ditegaskan Yonanis Dade, SH dalam acara pelantikan yang berlangsung Sabtu, 25 Juni 2022 di Aula Kantor Bupati Sumba Barat yang dihadiri oleh Forkopimda, para Asisten dan Staf Ahli serta Pimpinan Perangkat Daerah. Hadir sebagai saksi dalam acara ini adalah Domu Warandoy, SH, M.Si. Setda Sumba Timur dan Drs. Umbu Eda Padjangu, M.Si. Setda Sumba Tengah. Pendeta Edenia C.P. Theopilus, S.Th bertindak sebagai pendamping rohani. Bupati Sumba Barat mengatakan bahwa pelantikan dilakukan melalui prosedur perundang-undangan, yakni Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri, setelah dilakukan seleksi terbuka dan mendapat rekomendasi dari Komisi ASN. Penjabat Sekda sebelumnya dipegang oleh Drs. Daniel B. Pabala yang telah memasuki masa purna bakti tanggal 1 Juni yang lalu. Drs. Imanuel M. Anie kemudian ditunjuk sebagai Plt Sekda sampai pada hari pelantikan ini.

Tugas seorang Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah adalah membantu Bupati dan Wakil Bupati dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinir pelaksanaan tugas Perangkat Daerah dan pelayanan administratif. Karena masa jabatan Bupati hanya sampai tahun 2024, maka Sekretaris yang dilantik diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati. Karena itu diperlukan komunikasi yang efektif dari Sekda, baik dengan Bupati dan Wakil Bupati, maupun dengan seluruh Perangkat Daerah. Semua aspirasi yang baik harus dapat dijaring dalam membantu mewujudkan visi dan mis Kepala Daerah. Demikian garis besar harapan Bupati Sumba Barat terhadap Sekda yang baru dilantik. Tim DKIPS.

Bagikan Informasi Ini

PKK Kabupaten Sumba Barat dan Stimulant Institute Menyelenggarakan Sosialisasi Kespro dan Kanker Serviks bagi Remaja Putri

Waikabukak, 24 Juni 2022. Sehat adalah keadaan sejahtera seutuhnya baik secara fisik, jiwa maupun sosial, bukan hanya terbebas dari penyakit atau kecacatan. Remaja merupakan kelompok masyarakat yang hampir selalu diasumsikan dalam keadaan sehat. Pada masa remaja terjadi perubahan baik fisik maupun emosional yang menyebabkan remaja dalam kondisi rawan pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Masa ini, terjadinya proses awal pematangan organ reproduksi dan perubahan hormonal yang nyata. Remaja menghadapi berbagai masalah yang kompleks terkait dengan perubahan fisik, kecukupan gizi, perkembangan psikososial, emosi dan kecerdasan yang akhirnya menimbulkan konflik dalam dirinya dan memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan. Remaja yang mengalami gangguan kesehatan berupaya untuk melakukan reaksi menarik diri karena alasan-alasan tersebut.

Pencegahan terhadap terjadinya gangguan kesehatan pada remaja memerlukan pengertian dan perhatian dari lingkungan orangtua, warga sekolah, teman sebaya, dan juga pihak terkait agar mereka dapat melalui masa transisi dari kanak menjadi dewasa dengan baik. Untuk dapat mencegah gangguan kesehatan remaja akibat dari perilaku berisiko maka penting memberikan informasi edukatif dari sumber yang tepat. Mengedukasi para remaja sangatlah penting karena mereka adalah asset sekaligus investasi generasi mendatang, upaya pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM), dan memberikan perlindungan terhadap sumber daya manusia potensial.

Kabupaten Sumba Barat, 43% penduduk merupakan usia anak, dan 22% diantaranya adalah anak perempuan (BPS, 2020). Tingginya persentase usia anak, mengharuskan pemerintah melakukan upaya perlindungan terhadap generasi potensial melalui edukasi. Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Sumba Barat bekerja sama dengan Stimulant Institute, menggelar kegiatan “Sosialisasi kesehatan reproduksi dan kanker serviks bagi remaja putri Kabupaten Sumba Barat” (24/6). Kegiatan sosialisasi bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi (kespro) dan kanker serviks kepada remaja putri.

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh ketua TP-PKK Kabupaten Ny. Martha Dade Bili Lalo. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa, kespro dan bahaya kanker serviks penting untuk dibagikan kepada remaja putri. Penyakit ini, merupakan salah satu penyakit tertinggi yang dialami oleh perempuan di dunia. Ketakukan akan kanker, mengharuskan kita semua menjaga kesehatan sejak dini. Kepada anak-anak yang hari ini berkesempatan hadir, setelah mendapat informasi Kesehatan dari Dokter Obgyn Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Bidang Kesmas Dinas Kesehatan, tolong sebarkan kepada teman-teman mu yang tidak berkesempatan hadir di tempat ini, ujar Martha.

Saya mewakili PKK Kabupaten mengucapkan terima kasih kepada Stimulant, telah yang telah bersedia bekerja sama dengan kami sehingga kegiatan ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat terus bekerja sama untuk menjangkau lebih banyak anak, tegas beliau diakhir sambutannya.

Kegiatan diikuti oleh 80 remaja putri yang berasal dari tujuh (7) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dampingan Sponsorship dan perwakilan Forum Anak Daerah (FAD). Keterlibatan FAD dalam kegiatan ini, sebagai bagiana dari pelaksanaan program kerja FAD bidang kesehatan dan bidang media komunikasi. Proses kegiatan dimoderatori oleh pengurus FAD yaitu Jessica C. Bela Pewu dan Airyn Hoga. Untuk mengedukasi para remaja putri, panitia kegiatan menghadirkan narasumber yang berkompeten dibidangnya, yaitu Hortensi Tefa selaku kepala bidang Kesmas Dinas Kesehatan  dan dr. Andre D. Sugiarto, Sp.OG.

Dalam penyampaian materi tentang kespro, Hortensia menekankan bahwa masa pubertas akan dialami oleh semua remaja putri dan putra. Dimasa tersebut akan mengalami perubahan fisik juga emosional. Jika mengalami gangguan dimasa pubertas, bisa mendatangi poli Pusat Konseling Peduli Remaja (PKPR) Puskesmas ujar Horten. Mama Bidan pesan kepada anak-anak, hindari pergaulan bebas seperti hubungan seks sebelum menikah. Ikuti kegiatan-kegiatan positif seperti kelompok remaja, mengembangakan bakat dan minat bidang seni atau olahraga, supaya terhidar dari pikiran-pikiran yang tidak sehat, tegas Horten.

Informasi yang dibagikan oleh narasumber, membuka peluang diskusi antara narasumber dan peserta. Rata-rata peserta menanyakan tentang; peran orangtua dalam masa pubertas anak? cara mengetahui siklus menstruasi? bagaimana menjaga kesehatan organ genital? Serta, tips untuk mengontrol diri di masa remaja?

Selanjutnya, materi kanker serviks disampaikan oleh dr. Andre. Dalam penyampiannya beliau mengedukasi tentang kanker serviks, factor penyebab, dampak yang ditimbulkan dan pencegahannya. Materi yang disampaikan oleh dr. Andre memicu rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi dari remaja dengan mengajukan pertanyaan.

Salah satu remaja putri, menanyakan tentang kapan seorang perempuan terkena kanker serviks dan proses masuknya virus kanker dalam tubuh?

“kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV) onkogenik yang menyerang Rahim, hal ini terjadi salah satunya dengan melalui hubungan seks. Usia berapapun bisa terkena penyakit ini. Masa perkembangan virus dalam tubuh membutuhkan waktu 5-10 tahun. Penting untuk diingat, kapan waktu pertama kali berhubungan, tegas Andre”.

Ketika perempuan mengalami kanker serviks kemungkin kecil tidak dapat menghasilkan keturunan karena kesehatan penderita secara umum sudah menurun. Untuk mencegah masuknya virus, diperoleh melalui vaksin HPV. Sebagai informasi bahwa, vaksin HPV belum ada di Sumba Barat, ujar dr. Andre. Yang dapat dilakukan oleh adik-adik adalah hindari pergaulan bebas, dan jika sakit segera ke fasilitas Kesehatan untuk ditangani oleh tenaga medis, tegasnya saat mengakhiri sesi tanya jawab.

Diakhir kegiatan, Puskesmas Puuweri membagikan tablet tambah darah (TTD) kepada remaja putri. Setiap remaja putri mendapat 1 strip (4 butir) untuk dikonsumsi dalam waktu 4 minggu kedepan. Pemberian TTD kepada remaja putri, sebagai upaya untuk mencegah anemia sekaligus untuk meminimalisir risiko stunting dimasa mendatang. Selain membagikan TTD, staf Puskesmas juga memberikan informasi tentang aturan dalam mengonsumsi micronutrient tersebut.

Remaja bukanlah kelompok masyarakat yang tidak menghadapi masalah kesehatan. Perilaku berisiko yang dijalani akibat tidak tepatnya keputusan yang diambil pada masa remaja yang labil menghadapkan remaja kepada masalah kesehatan. Saat ini, masalah kesehatan remaja jauh lebih cepat daripada penanganan yang dilakukan oleh banyak pihak. Untuk menjaga asset daerah atau sumber daya potensial, membutuhkan dukungan dari semua pihak. Koordinasi, integrasi dan sinkronisasi menjadi esensial bagi upaya penanganan masalah kesehatan pada remaja untuk menekan laju tersebut. (PSI, Red)

Bagikan Informasi Ini