Day: <span>July 1, 2022</span>

Press Release Ajang Inivasi Anak Muda Sumba melalui Program SOLVE-A-THON 2

Waikabubak, 30 Juni 2022. Save the Children menginisiasi Program Sponsorship di Sumba Barat sejak tahun 2014 dan akan berlangsung hingga tahun 2024. Misi program yang didanai Sponsor adalah untuk memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup, belajar, dan dilindungi. Program ini bertujuan untuk menjangkau 100.000 anak dan komunitas terkait anak dengan durasi program selama 10 tahun untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan anak-anak di kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah. Program sponsorship memiliki 5 program utama yaitu: Program Kesehatan Ibu dan Anak, Program PAUD, Program Pendidikan Dasar, Program Kesehatan dan Nutrisi Anak Sekolah, dan Program Pengembangan Remaja.

Save the Children Indonesia melalui program Sumba Future Changemakers (SFC) yang merupakan bagian dari program pengembangan remaja menyelenggarakan Solve-a-thon #2, kompetisi inovasi berjangka pendek bagi anak muda berusia 13 – 17 tahun di Kabupaten Sumba Barat. Kegiatan ini diselenggarakan dari hari Sabtu 26 Juni sampai dengan Kamis, 30 Juni 2022 secara daring dan luring dengan lokasi di aula GKS Alfa-Omega and Aula SMA Karanu. Tujuan Solve-A-Thon #2 ini adalah untuk: 1) Memfasilitasi pembelajaran aktif bagi paling kurang 45 anak Sumba Barat berusia 13-17 tahun dengan menggunakan pendekatan design thinking di mana anak-anak dilatih untuk menjadi kritis dan kreatif, sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengajukan masalah, melahirkan ide pemecahan masalah, dan mengimplementasikan ide perubahan sosial mereka; 2) Menyediakan ruang aman yang bermakna bagi anak-anak Sumba Barat untuk mengungkapkan diri dan terlibat dalam mencari solusi atas masalah-masalah sosial dan lingkungan yang menjadi kepedulian mereka; 3) Memupuk solidaritas lintas-budaya, lintas-etnis, dan kolaborasi di antara anak-anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Hasil yang diharapkan dari Solve-A-thon #2 ini adalah ke-45 anak yang terlibat melakukan praktek pemecahan masalah lingkungan yang mereka identifikasi dalam bentuk prototipe/contoh sederhana. Pada kegiatan ini,  Save The Children berkolaborasi dengan komunitas lokal seperti Gerakan Peduli Sumba Barat, English Goes to Kampung, dan Sumba Cendekia.

Dalam kegiatan hari pertama yang dilakukan secara daring pada hari Sabtu, 26 Juni 2022, 45 peserta yang dibagi ke dalam 16 kelompok terlibat dalam kegiatan. Agenda utama kegiatan hari pertama adalah perkenalan dengan penyelenggara, co-fasilitator, antar peserta, dan konsep Empati yang merupakan tahapan pertama dari proses design thinking. Tahapan empati ini adalah fase dimana peserta diajak untuk memahami masalah lingkungan yang hendak mereka pecahkan dari perspektif pemilik masalah atau pihak yang paling terdampak dari masalah tersebut. Setelah diperkenalkan dengan konsep Empati, peserta diberi Tugas Rumah Seru untuk melakukan observasi (lihat-lihat), wawancara (tanya-tanya), dan riset meja (baca-baca) untuk mencoba memahami penyebab dan akar masalah lingkungan yang hendak mereka carikan solusinya.

Dalam kegiatan hari ke-2, pada Senin 27 Juni 2022, dengan jumlah peserta dan kelompok yang sama, yang dilakukan secara luring di aula Alfa-Omega, peserta diajak untuk membagikan pengalaman mereka dalam melakukan tugas rumah seru Empati yang dilakukan pada hari sebelumnya, mendiskusikan penyebab masalah yang mereka angkat dan memilih salah satu penyebab masalah untuk dicarikan solusinya. Proses pencarian solusi ini disebut sebagai tahapan Ideasi Buka dalam tahapan design thinking, dimana dengan menggunakan metode Bagaimana Caranya Kita, peserta menggagas ide sebanyak-banyaknya sebagai solusi potensial untuk akar masalah yang hendak mereka pecahkan.

Dalam kegiatan hari ke-3, pada Selasa 28 Juni 2022, peserta melakukan tahapan Ideasi Tutup dalam proses design thinking dimana mereka menyaring dan memilih ide yang akan dibuat prototipe-nya. Tahapan selanjutnya adalah mengembangkan prototipe atau contoh sederhana dari solusi yang mereka pilih. Kemudian, prototipe ini ditunjukkan ke pemilik masalah untuk mendapat masukan dan diperbaiki. Kegiatan hari keempat, pada Kamis, tanggal 30 Juni adalah Hari Apresiasi dimana peserta mempresentasikan prototipenya untuk dinilai. Selanjutnya, lima prototipe akan dipilih dan bersama dengan lima prototipe yang sudah dipilih pada Solve-A-Thon #1 dan lima prototipe yang akan dipilih dalam Solve-A-Thon #3, akan dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan oleh anak-anak dalam periode inkubasi dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2022.

Seri kegiatan Solve-A-Thon satu sampai tiga ini merupakan salah satu kegiatan utama dari Program Sumba Future Change Makers dari Save the Children Indonesia yang berikhtiar untuk melatih dan meningkatkan soft skills anak-anak Sumba yang terdampak diskriminasi dan ketidakadilan untuk memampukan mereka berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi untuk menghasilkan proyek yang dapat mereka implementasikan sebagai agen-agen perubahan sosial di lingkungan mereka.

Bagikan Informasi Ini

SOP Penggunaan Aplikasi Waliku Membantu Dinas Teknis dan Tenaga Kependidikan Memantau Tingkat Ketidakhadiran Peserta Didik


Waikabubak, 30 Juni 2022. Salah satu upaya memantau ketidakhadiran peserta didik dalam ruang kelas dilakukan melalui aplikasi berbasis website. Kendalanya, jika pengguna tidak mengikuti tahapan sesuai menu pada website atau aplikasi, maka hasilnya tentunya belum sesuai dengan yang diharapkan. Kita membutuhkan dokumen petunjuk teknis penggunaan aplikasi berbasis online, demikian pernyataan Sekretaris Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (DPKO) dalam pertemuan penyusunan Standar Operasional Prosedural (SOP) Penggunaan Aplikasi Waliku di Resto Tanakato (30/6).

Pertemuan penyusunan SOP Penggunaan Aplikasi Waliku, dihadiri oleh, Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas Kesehatan, Sekretaris DPKO, kepala Bidang P2TK, Kepala Puskesmas, Dokter Puskesmas, operator Waliku DPKO serta tim Waliku Stimulant Institute.

Pengembangan SOP penggunaan aplikasi Waliku sebagai upaya untuk memberikan panduan teknis kepada guru kelas, operator sekolah, pengelola UKS Puskesmas dan operator Dinas PKO untuk memantau ketidakhadiran peserta didik, tegas Yehuda Malorung. Adanya SOP, selain sebagai petunjuk tenis, dapat menginterasikan layanan pendidikan dan kesehatan dalam lingkungan sekolah. Panduan teknis ini akan membantu 34 sekolah pengguna aplikasi Waliku dan 3 Puskesmas untuk bekerja sama menangani ketidakhadiran peserta didik dengan alasan kesehatan, jelas Yehuda.

Ditempat yang sama, dr. Bonar Sinaga M.Kes selaku kepala Dinas Kesehatan, menegaskan bahwa pihaknya dalam hal ini rekan-rekan di Puskesmas, akan mengambil bagian dalam penggunaan aplikasi Waliku. Aplikasi Waliku merupakan aplikasi berbasis website yang berintegrasi antar pihak sekolah, orang tua siswa, dan Puskesmas. Aplikasi ini berguna untuk mencatat serta melakukan tanggap darurat terhadap siswa yang tidak masuk sekolah karena alasan sakit. Pengembangan aplikasi ini pertama kali dilakukan oleh save the Children dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat melalui Dinas PKO. Aplikasi ini dapat membantu pelaku kependidikan melakukan pemantauan ketidakhadiran peserta didik secara rutin, sekaligus memantau perkembangan kesehatan peserta didik, ujar dr. Bonar.

Tim Waliku Stimulant Institute, Yoseph Patrisius Nanu menyatakan penyusunan SOP mempermudah kita dalam penggunaan aplikasi sehari-hari. SOP akan menyesuaikan dengan content pada aplikasi Waliku. Terdapat empat fungsi utama yaitu 1) Waliku Class mencatat absensi harian dan alasan ketidak hadiran siswa, 2) Waliku Admin, mendata absensi kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik secara harian, 3) Waliku Clinic, membantu pengelola Unit Kesehatan Sekolah (UKS) melakukan penanganan bagi peserta didik dengan kondisi sakit, dan 4) Waliku Triage, digunakan untuk merujukan peserta didik ke fasilitas Kesehatan. Jika semua tahapan dalam SOP dapat digunakan oleh guru kelas dan operator sekolah, maka dipastikan penggunaan dan pemantauan absensi peserta didik dapat berjalan dengan baik. Sekaligus membantu Bank Data peserta didik pada Dinas PKO, jelas Patrik.

PIC UKS Puskesmas Kabukarudi, drg. Theofani Mutiasari, menyarankan untuk mengembangkan 5 SOP penggunaan aplikasi Waliku, yaitu SOP Induk, SOP Waliku Class, SOP Waliku Admin, SOP Waliku Clinic dan SOP Waliku Triage. Mengapa perlu SOP Induk? Sebagai panduan teknis umum penggunaan semua aplikasi pada Waliku. Setiap SOP memberikan informasi penggunaan aplikasi tersebut, jelas Fany.

Pasca penyusunan dan pembahasan SOP penggunaan aplikasi Waliku, akan dikomunikasikan lebih lanjut dengan Bagian Hukum Setda Sumba Barat, guna memastikan materi dan kaidah penulisan tidak bertentangan dengan aturan hukum. Hal ini untuk menghindari persoalan dikemudian hari. Direncanakan penyelesaian dokumen SOP, akan dilakukan pada minggu kedua Juli 2022. (PSI,Red)

Bagikan Informasi Ini