281 Pemuda mengikuti Pelatihan Siap Kerja dari Stimulant Institute

Waikabubak, 27 Juni 2022. Jumlah pemuda hampir seperempat dari total populasi penduduk Indonesia dan terus bertambah setiap tahunnya. Karena itu, keberhasilan pembangunan pemuda merupakan kunci untuk mengentaskan kemiskinan dan memanfaatkan bonus demografi untuk menuju Indonesia Maju 2045. Upaya meningkatkan kewirausahaan pemuda dilakukan pemerintah untuk mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda.  Data BPS Nasional, 2021, dari total 205,36 juta penduduk usia kerja, sebanyak 8,6 juta orang merupakan pengangguran. Dari jumlah tersebut, 17,66% pemuda usia 20-24 tahun dan 9,27% pemuda usia 25-29 tahun merupakan pengangguran. Pengembangan wirausaha pemuda selain dapat mengurangi pengangguran di kalangan pemuda, akan membuka lapangan kerja baru, hingga mengurangi angka kemiskinan. Pengembangan kewirausahaan yang terarah dan terpadu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, diperlukan keterlibatan berbagai komponen masyarakat. Paling tidak harus didukung oleh pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha (swasta), dan masyarakat.

Di kabupaten Sumba Barat, 29% atau 42.778 dari 145.097 penduduk berusia 13-25 tahun (BPS, 2020). Sementara itu, angka pengangguran mengalami peningkatan sebesar 3,96%, meningkat 1% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini, dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah, mempengaruhi ruang gerak pelaku sektor usaha. Hasilnya, penggurangan tenaga kerja atau karyawan. Sementara itu, di tingkat rumah tangga, kepala keluarga harus kehilangan mata pencaharian karena pembatasan tersebut. Kehilangan mata pencaharian, berdampak pada peningkatan angka pengangguran. Data BPS menunjukan bahwa angka pengangguran dengan tingkat pendidikan SMA lebih tinggi dibandingkan Pendidikan SD. Selain itu, data persentase pengangguran laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. 59, 52% laki-laki dan 40, 48% perempuan.

Untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi anak muda, pada tahun 2022 Save the Children dan Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) melakukan upaya intervensi program terkait pengembangan keterampilan kewirausahaan melalui project Youth Education and Employability (YEE). Project YEE bertujuan memberikan akses bagi kaum muda untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat mempersiapkan anak muda miliki pekerjaan yang layak, baik dengan bekerja dalam bisnis atau menjalankan usaha kecil secara individu.

Implementasi project YEE berfokus pada empat desa intervensi. Keempat desa tersebut adalah;  Baliledo, Laboya Bawa, Weepatola dan Kareka Nduku. Dan keempat desa ini merupakan desa dengan lokus stunting tertinggi di Kabupaten Sumba Barat (Bappelitbangda, 2021). Melalui intervensi project YEE, berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga dan mampu menunjang kebutuhan keluarga terutama anak-anak. Meningkatnya ekonomi keluarga, diharapkan dapat menyumbang pada penurunan angka stunting. Selain intervensi di komunitas, project YEE menyasar pada Lembaga Pendidikan menengah atau SMK. Intervensi di SMK bertujuan untuk memberikan informasi wirausaha atau peluang usaha kepada peserta didik sehingga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri. Disisi lain, penting untuk mengintegrasikan sistem pembelajaran wirausaha melalui pelatihan atau berbagi informasi kepada pekerja. Pemilihan SMK telah disesuaikan dengan peserta didik yang berasal  dari empat desa target intervensi. Keempat SMK tersebut adalah SMK 1 Loli, SMK 2 Loli, SMK 1 Tanarighu dan SMK 1 Lamboya.

Pada tanggal 22-25 Juni 2022, Stimulant institute melaksanakan pelatihan “Siap Kerja” bagi 281 pemuda (148 perempuan dan 133 laki-laki) usia 13-25 tahun. 34% diantaranya merupakan anak putus sekolah. Pelatihan berlangsung di masing-masing desa intervensi. Peserta pelatihan didampingi oleh staf proyek YEE dan mentor Kewirausahaan. Sebelumnya, mentor telah mendapat pelatihan Kewirausahaan dari Konsultan pengembang modul. Para mentor merupakan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan aparat desa terpilih.

Project Coordinator YEE Stimulant Institute, Umbu Ngailu Dedi menyatakan bahwa pelatihan “Siap Kerja” bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pandangan pengembangan usaha kepada anak muda sehingga secara mandiri dapat membangun bisnisnya sesuai potensi dan kepeminatan. Sebelumnya, kami telah bekerja sama dengan Konsultan untuk mengembangkan Modul Kesiapan Kerja sesuai konteks lokal. Buku pegangan Fasilitator diadaptasi dari modul Kesiapan Kerja pada project ASST Save the Children di pulau Jawa. Pasca pengembangan Modul, kami lanjutkan dengan mengkapasitasi 24 mentor untuk menjadi fasilitator. Project ini menargetkan 1700 orang muda dan 300 orang dewasa mendapatkan penyadaran peluang usaha, ujar Umbu. Untuk menjangkau banyak pemuda, kami bekerja sama dengan pemerintah desa dan pihak SMK. Selanjutnya, pada bulan Juni 400 pemuda dari 1700 terseleksi untuk mengikuti pelatihan Siap Kerja, tegas Umbu diakhir perbincangan.

Salah satu tim project yang terlibat dalam kegiatan pelatihan Stevani Yessy Tupu, memberikan tanggapan terkait pelibatan anak putus sekolah (DO) dalam proyek ini. Menurut Yessy, tingkat kesulitan para mentor ketika mendampingi anak DO pada jenjang pendidikan SD, cukup berbeda dengan anak DO pada jenjang Pendidikan SMP dan SMA, jelas Yessy. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam pelatihan ini mentor menggunakan dua Bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah atau bahasa ibu. Penggunaan dua Bahasa, untuk mengundang partisipasi anak-anak terutama anak DO, urainya.

Ditempat yang berbeda, Risky Fanggidae, officer proyek, menyebutkan bahwa dari empat desa intervensi, peserta DO lebih banyak berasal dari kecamatan Tana Righu. Saat mendampingi sesi pelatihan, saya dibantu oleh kasie kesra untuk menerjemahkan materi kedalam bahasa ibu. Selama proses pelatihan, kesulitan yang ditemui oleh mentor dan pendamping lapangan adalah ketika peserta mencoba mengisi contoh formulir proposal rencana usaha, kata Risky. Tingkat kesulitan yang ditemui adalah melakukan penyusunan detail kebutuhan anggaran untuk usaha yang hendak dilakukan, ujar Risky.

Selanjut, pemuda yang telah mengikuti pelatihan, akan didampingi oleh para mentor untuk membuat proposal pengajuan usaha kepada tim project. Proposal yang masuk, akan diseleksi dan memilih 175 pemuda yang berkesempatan mendapat dukungan anggaran sehingga dapat membuka usaha sesuai potensi dan kepeminataan. Untuk memastikan peluang usaha yang diajukan, tim project akan melakukan assessment pada pemuda terpilih. Sehingga, kesesuaian antara lokasi, potensi, minat dan anggaran dapat terlaksana dengan baik. (PSI, red).

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *