Month: July 2020

Bupati Dapawole Ambil Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil

Waikabubak_ Bupati Sumba Barat Drs. Agustinus Niga Dapawole melakukan pengambilan sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil sekaligus menyerahkan Surat Keputusan Bupati tentang Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil menjadi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bertempat di Aula Kantor Bupati. Selasa, (28/07).

Dalam sambutannya Bupati Dapawole mengatakan seiring dengan reformasi birokrasi yang termanifestasi dalam berbagai aspek penyelenggaraan negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang merupakan agen utama penyelenggaraan pemerintahan dituntut untuk lebih adaptif dan responsif dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Pelayanan terbaik hanya akan dilakukan oleh PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi akan nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, serta kesadaran akan tanggung jawab selaku aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat”, ujar Dapawole.

Sumpah/Janji PNS adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap PNS. Seorang PNS akan mengikrarkan kesetiaannya untuk mentaati segala peraturan perundangan yang berlaku, melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya, menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara, memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara, serta bekerja dengan jujur, tertib, cermat dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Oleh karena itu Bupati menegaskan bahwa sumpah/janji yang diucapkan hari ini tidak sebatas seremonial belaka tanpa komitmen.

“Saya berharap sumpah/janji yang diucapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita sebagai PNS untuk mengaplikasikan melalui tugas dan pengabdian kita masing-masing”, harap Dapawole.

Diakhir sambutannya, Bupati Dapawole mengucapkan selamat kepada saudara/saudari yang diambil sumpah/janjinya dan menerima SK 100% hari ini.

“Jadilah PNS yang memiliki dedikasi, integritas, dan loyalitas yang tinggi, memiliki semangat untuk melakukan inovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang makin murah, mudah, makin cepat, dan makin baik. Semuanya ini merupakan ukuran keberhasilan dari reformasi birokrasi sebagai fondasi yang kokoh untuk mewujudkan birokrasi yang bersih dan berwibawa di daerah ini”, tandas Dapawole.

Hadir pada kesempatan itu Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat, para Asisten, Pimpinan Perangkat Daerah Unit Kerja, Roniawan Kristen Protestan, Rohaniawan Khatolik, Rohaniawan Islam, Rohaniawan Hindu, dan Pegawai Negeri Sipil yang diambil sumpahnya.
(moi)

Siaran Pers Humas dan Protokol pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Barat.

Bagikan Informasi Ini

Pembagian Kelambu Massal di Kelurahan kampung Sawah

Waikabubak, Selasa 28 Juli 2018 telah dilakukan pembagian massal Kelambu untuk masyarakat Kelurahan Kampung Sawah Kecamatan Kota Waikabubak. Kegiatan ini dalam rangka percepatan eliminasi malaria tahun 2023. Pembagian Kelambu ini dilaksanakan di 2 titik berbeda, yaitu di Posyandu Mawar A khusus untuk warga RT 1 sampai dengan RT 09 dan Posyandu Mawar C khusus untuk warga RT 11 sd RT 12.


Pembagian kelambu di koordinir oleh masing-masing Ketua Posyandu dan dibantu petugas kesehatan dari Puskesmas Puuweri.


Dalam kesempatan tersebut Lurah Kampung Sawah Cindy Christy Cetzia Kiuk, S.IP mengingatkan bahwa kelambu pembagian ini harus di gunakan sesuai fungsinya sehingga harapannya dengan adanya pembagian kelambu massal ini semakin menurunkan angka penderita malaria di kelurahan kampung sawah. Dan masyarakat juga tetap untuk terus membersihkan lingkungan dan cara-cara hidup sehat dan bersih.

Pada kegiatan pembagian kelambu massal ini hadir juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, sekretaris lurah, kasie Kesejahteraan, dan petugas dari puskesmas puuweri serta kader posyandu dan Babinsa Kelurahan Kampung Sawah.RED.DKIPS.

Bagikan Informasi Ini

COVID-19 dan Geliat Mengajar Para Guru SD Tabulo Dara Sumba Barat

Waikabubak, Covid-19 adalah hal yang masih menakutkan bagi semua orang, termasuk para guru, orang tua dan murid. Namun demikian karena begitu pentingnya pendidikan, semuanya sepakat bahwa kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan dengan mengikuti rambu-rambu kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah. Tidak sedikit tangatangan yang dihadapi baik guru, murid dan orang tua dalam mengikuti penyelenggaraan pendidikan dalam masa Pandemi ini. Tulisan kali ini meliput tantangan serta semangat para guru dalam melaksanakan tugas mengajar, khususnya di Sekolah Dasar Negeri Tabulo Dara, salah satu SD Negeri di Kabupaten Sumba Barat di tengah Pandemi Covid-19.

Didirikan tahun 1954 dan merupakan salah satu yang terpadat di Kabupaten Sumba Barat dengan jumlah siswa lebih dari 600 orang, sekolah ini dipimpin oleh Magdalena Londong, S.Pd.  Terdapat 12 guru PNS, 21 guru kontrak serta 5 orang staf yang didanai dari dana BOS. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat, Sairo Umbu Awang, SE, kegiatan belajar selama Pandemi Covid-19 dilakukan dengan panduan Lembaran Kerja Siswa yang disusun Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat bersama beberapa LSM seperti Save the Children, Stimulant Institute dan perwakilan sekolah. Semua prosedur yang diterapkan di daerah dalam proses penyelenggaran pendidikan di kabupaten mengacu pada ketentuan-ketentuan yang diberikan pemerintah pusat dan propinsi. Magdalena mengatakan bahwa LKS ini telah dimulai dipakai sekolahnya sebagai panduan belajar mengajar sejak akhir Maret 2020. Sesuai LKS ini orang tua, saudara dan muridlah yang berperan lebih banyak dalam proses belajar anak. Kegiatan belajar mengajar sekolah dasar ini dilakukan secara Luring atau tanpa menggunakan internet karena lebih dari 90% orang tua dan murid tidak memiliki akses internet sama sekali atau secara tetap.  Siswa diberikan LKS bersama buku tematik yang diharapkan dapat dipelajari dan diselesaikan dalam waktu 1 minggu, 2 minggu serta 1 bulan. Guru bertugas mengunjungi dan membimbing siswa dalam kelompok kecil bahkan secara individu sesuai situasi tempat tinggal dan kemampuan logistik, seperti ketersediaan dana BOS untuk transportasi. Kami mewawancarai kepala sekolah dan beberapa guru tentang bagaimana pengalaman mereka dalam mengajar murid di tengah situasi Pandemi Covid-19 dan berikut penuturan mereka.

Selvita Triyonani, S.Pd adalah guru kelas 5. Menurut sarjana lulusan Universitas Terbuka (UT) yang belum lama tinggal di Sumba Barat ini, salah satu tantangan yang dihadapi pada awal ialah sulit menemukan rumah anak karena tidak ada alamat jelas atau telepon untuk dihubungi. “Saya masih baru di tempat ini dan pada awalnya sulit mencari lokasi tempat tinggal anak. Karena tidak ada telepon untuk dihubungi, saya bertanya dari satu rumah ke rumah lain dan ini menghabiskan beberapa jam. Di waktu yang lain, anak-anak tidak ada di rumah pada waktu yang dijanjikan sehingga saya pulang tanpa melakukan bimbingan kepada beberapa murid saya. Kadang saya harus mengunjungi mereka lebih dari tiga kali seminggu untuk memastikan mereka mendapatkan bimbingan belajar terutama untuk pelajaran matematika yang bagi sebagian anak sangat sulit dan perlu waktu yang cukup banyak untuk membimbing mereka karena mereka tidak mendapat bantuan dari orang tua maupun saudara yang memang tidak mengerti matematika”.

Ni Luh Mastini, S.Pd, seorang guru senior mengatakan hal yang serupa. Dia juga menambahkan bahwa ia menyewa ojek untuk mengunjungi anak-anak muridnya beberapa kali seminggu. Karena dana Bos hanya tersedia untuk sekali perjalanan dalam seminggu, yakni sebesar Rp 75.000, ia harus berhemat dan kreatif untuk kunjungan ekstra yang harus ia lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan para siswa yang dibimbingnya. Sebagian murid tinggal lokasi yang jauh dan terpisah jauh juga satu sama lain, sehingga harus dibimbing secara satu. Selain Ni Luh, ada Debora Kemi Dore, yang mengajar murid kelas 1. Menurut Debora, cukup banyak anak kelas 1 yang belum bisa menulis sama sekali dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membimbing karena orang tua juga tidak bisa membaca dan menulis. “Kami memberikan kartu huruf dan angka untuk para murid yang belum bisa menulis dan membaca huruf dengan baik. Jumlah siswa yang banyak per kelas dan juga tingkat kemampuan anak yang rendah serta minimnya bantuan orang orang tua berarti tantangan ekstra bagi guru dalam memenuhi kebutuhan setiap murid ”, ujarnya.
Walaupun menghadapi situasi yang baru karena Covid-19, semua guru yang kami temui tampak sangat antusias dengan pekerjaan mereka sebagai pengajar karena sudah merupakan panggilan mereka. Situasi Pandemi mengharuskan para pendidik mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah mulai dari mencuci tangan dengan disinfektan dan air bersif, menggunakan masker serta mengajar dalam kelompok yang kecil dan tetap menjaga social distancing. Tantangan-tantangan logistik yang dihadapi memerlukan kreatifitas manajemen sekolah agar dapat tetap memenuhi standard pelayanan pendidikan yang baik kepada anak didik yang merupakan masa depan bangsa. Menurut kepala Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat, sekolah tidak diwajibkan memenuhi target kurikulum tetapi lebih fokus pada pembinaan karakter dan lifestyle yang dipadukan dalam tiga mata pelajaran utama yakni Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika. Dengan demikian diharapkan pendidikan terhadap generasi penerus, khususnya pada tingkat dasar, juga dapat tetap berlanjut di tengah situasi Pandemi dengan kualitas mutu yang terjaga.
“Menghadapi pandemi Covid-19 kita memegang prinsip bahwa kita harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan. Namun kita juga harus menjaga agar anak-anak kita tetap belajar.” Demikian ungkapan Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ainun Na’im dalam acara Seminar PPRA LX Lemhannas RI beberapa hari yang lalu seperti dilansir Liputan 6, Rabu (22/7/2020).
Semangat dan sukses buat SD Tabulo Dara!

Bagikan Informasi Ini

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Membuka Kegiatan Pertemuan Penyusunan Perencanaan Respon Covid-19 Dalam Rangka Pemanuhan Hak-Hak Anak

Waikabubak- Kamis, 23/07/20 bertempat di Aula Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, Ir. Yanis Eklemens Luther Chr. Loebaloe Kepala BPBD Kabupaten Sumba Barat sekaligus Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Sumba Barat, membuka kegiatan Pertemuan Penyusunan Rencana Penanganan Covid-19 dalam Rangka Pemenuhan Hak-Hak Anak.

Kegiatan yang disponsori oleh Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) dan Save The Children (STC) ini merupakan wujud kepedulian terhadap salah satu dampak COVID-19 yang menempatkan anak sebagai kelompok paling rentan baik dari segi kesehatan, pendidikan maupun keamanan sosial, sehingga diperlukan adanya recana pencegahan dan perlindungan terhadap anak dari dampak penyebaran COVID-19 dan kekerasan sosial.

Dalam sambutannya Stefanus Makambombu selaku Direktur Stimulant Institute menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendukung gugus dalam membuat perencanaan upaya pencegahan dan penanganan dampak COVID-19 dan melakukan analisa stackeholder, dengan outcomes peningkatan peran atau partisipasi masyarakat dalam pemenuhan hak-hak anak. Lebih lanjut Yanis Loebaloe juga menyampaikan bahwa penanganan COVID-19 di Kabupaten Sumba Barat adalah tugas kita bersama semua stackeholder terkait, dan hanya akan tercapai bila kita mempunyai hati dan tujuan yang sama.

Paparan materi Anak Sumba Sehat, Terlindungi Dan Mendapatkan Pendidikan Yang Berkualitas, merupakan materi tunggal yang dibawakan oleh Manager Stimulant, Margaretha Y. Djelalu. Lebih lanjut kegiatan berjalan secara dinamis dalam rangkaian diskusi analisa situasi, identifikasi permasalahan dan kendala, identifikasi solusi atau rencana aksi, analisa stackeholder serta penyusunan rencana aksi upaya pencegahan dan penanganan dampak Covid-19.

Hadir pula dalam kegiatan ini Kepala Dinas Kesehatan, Kepala DP3A, Kepala Dinas Sosial, Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Sumba Barat dan unsur beberapa dinas terkait sesuai undangan kegiatan ini dihadiri oleh 12 Dinas Terkait. (RED.DKIPS-AR)

Bagikan Informasi Ini