COVID-19 dan Geliat Mengajar Para Guru SD Tabulo Dara Sumba Barat

Waikabubak, Covid-19 adalah hal yang masih menakutkan bagi semua orang, termasuk para guru, orang tua dan murid. Namun demikian karena begitu pentingnya pendidikan, semuanya sepakat bahwa kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan dengan mengikuti rambu-rambu kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah. Tidak sedikit tangatangan yang dihadapi baik guru, murid dan orang tua dalam mengikuti penyelenggaraan pendidikan dalam masa Pandemi ini. Tulisan kali ini meliput tantangan serta semangat para guru dalam melaksanakan tugas mengajar, khususnya di Sekolah Dasar Negeri Tabulo Dara, salah satu SD Negeri di Kabupaten Sumba Barat di tengah Pandemi Covid-19.

Didirikan tahun 1954 dan merupakan salah satu yang terpadat di Kabupaten Sumba Barat dengan jumlah siswa lebih dari 600 orang, sekolah ini dipimpin oleh Magdalena Londong, S.Pd.  Terdapat 12 guru PNS, 21 guru kontrak serta 5 orang staf yang didanai dari dana BOS. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat, Sairo Umbu Awang, SE, kegiatan belajar selama Pandemi Covid-19 dilakukan dengan panduan Lembaran Kerja Siswa yang disusun Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat bersama beberapa LSM seperti Save the Children, Stimulant Institute dan perwakilan sekolah. Semua prosedur yang diterapkan di daerah dalam proses penyelenggaran pendidikan di kabupaten mengacu pada ketentuan-ketentuan yang diberikan pemerintah pusat dan propinsi. Magdalena mengatakan bahwa LKS ini telah dimulai dipakai sekolahnya sebagai panduan belajar mengajar sejak akhir Maret 2020. Sesuai LKS ini orang tua, saudara dan muridlah yang berperan lebih banyak dalam proses belajar anak. Kegiatan belajar mengajar sekolah dasar ini dilakukan secara Luring atau tanpa menggunakan internet karena lebih dari 90% orang tua dan murid tidak memiliki akses internet sama sekali atau secara tetap.  Siswa diberikan LKS bersama buku tematik yang diharapkan dapat dipelajari dan diselesaikan dalam waktu 1 minggu, 2 minggu serta 1 bulan. Guru bertugas mengunjungi dan membimbing siswa dalam kelompok kecil bahkan secara individu sesuai situasi tempat tinggal dan kemampuan logistik, seperti ketersediaan dana BOS untuk transportasi. Kami mewawancarai kepala sekolah dan beberapa guru tentang bagaimana pengalaman mereka dalam mengajar murid di tengah situasi Pandemi Covid-19 dan berikut penuturan mereka.

Selvita Triyonani, S.Pd adalah guru kelas 5. Menurut sarjana lulusan Universitas Terbuka (UT) yang belum lama tinggal di Sumba Barat ini, salah satu tantangan yang dihadapi pada awal ialah sulit menemukan rumah anak karena tidak ada alamat jelas atau telepon untuk dihubungi. “Saya masih baru di tempat ini dan pada awalnya sulit mencari lokasi tempat tinggal anak. Karena tidak ada telepon untuk dihubungi, saya bertanya dari satu rumah ke rumah lain dan ini menghabiskan beberapa jam. Di waktu yang lain, anak-anak tidak ada di rumah pada waktu yang dijanjikan sehingga saya pulang tanpa melakukan bimbingan kepada beberapa murid saya. Kadang saya harus mengunjungi mereka lebih dari tiga kali seminggu untuk memastikan mereka mendapatkan bimbingan belajar terutama untuk pelajaran matematika yang bagi sebagian anak sangat sulit dan perlu waktu yang cukup banyak untuk membimbing mereka karena mereka tidak mendapat bantuan dari orang tua maupun saudara yang memang tidak mengerti matematika”.

Ni Luh Mastini, S.Pd, seorang guru senior mengatakan hal yang serupa. Dia juga menambahkan bahwa ia menyewa ojek untuk mengunjungi anak-anak muridnya beberapa kali seminggu. Karena dana Bos hanya tersedia untuk sekali perjalanan dalam seminggu, yakni sebesar Rp 75.000, ia harus berhemat dan kreatif untuk kunjungan ekstra yang harus ia lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan para siswa yang dibimbingnya. Sebagian murid tinggal lokasi yang jauh dan terpisah jauh juga satu sama lain, sehingga harus dibimbing secara satu. Selain Ni Luh, ada Debora Kemi Dore, yang mengajar murid kelas 1. Menurut Debora, cukup banyak anak kelas 1 yang belum bisa menulis sama sekali dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membimbing karena orang tua juga tidak bisa membaca dan menulis. “Kami memberikan kartu huruf dan angka untuk para murid yang belum bisa menulis dan membaca huruf dengan baik. Jumlah siswa yang banyak per kelas dan juga tingkat kemampuan anak yang rendah serta minimnya bantuan orang orang tua berarti tantangan ekstra bagi guru dalam memenuhi kebutuhan setiap murid ”, ujarnya.
Walaupun menghadapi situasi yang baru karena Covid-19, semua guru yang kami temui tampak sangat antusias dengan pekerjaan mereka sebagai pengajar karena sudah merupakan panggilan mereka. Situasi Pandemi mengharuskan para pendidik mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah mulai dari mencuci tangan dengan disinfektan dan air bersif, menggunakan masker serta mengajar dalam kelompok yang kecil dan tetap menjaga social distancing. Tantangan-tantangan logistik yang dihadapi memerlukan kreatifitas manajemen sekolah agar dapat tetap memenuhi standard pelayanan pendidikan yang baik kepada anak didik yang merupakan masa depan bangsa. Menurut kepala Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat, sekolah tidak diwajibkan memenuhi target kurikulum tetapi lebih fokus pada pembinaan karakter dan lifestyle yang dipadukan dalam tiga mata pelajaran utama yakni Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika. Dengan demikian diharapkan pendidikan terhadap generasi penerus, khususnya pada tingkat dasar, juga dapat tetap berlanjut di tengah situasi Pandemi dengan kualitas mutu yang terjaga.
“Menghadapi pandemi Covid-19 kita memegang prinsip bahwa kita harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan. Namun kita juga harus menjaga agar anak-anak kita tetap belajar.” Demikian ungkapan Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ainun Na’im dalam acara Seminar PPRA LX Lemhannas RI beberapa hari yang lalu seperti dilansir Liputan 6, Rabu (22/7/2020).
Semangat dan sukses buat SD Tabulo Dara!

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *