PUSPAGA Dinas P3A Tekan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Waikabubak, 4/8/2020 – Tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sumba Barat masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah dari orang tua, tingkat ekonomi, dan tradisi yang masih mempengaruhi kehidupan keluarga. Menanggapi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sumba Barat membentuk sebuah wadah layanan pembelajaran keluarga yang bisa memberikan edukasi berupa konsultasi kehidupan keluarga, cara pola asuh anak, dan ketahanan keluarga. Layanan ini dinamai Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

Menurut Kepala Dinas P3A, Drs. Djemi O. Dima, MM dalam wawancaranya dengan tim DKIPS Kabupaten Sumba Barat, layanan Puspaga sebenarnya telah ada sejak Shelter dibentuk. Layanan Puspaga sendiri merupakan layanan pembelajaran keluarga, meliputi Parenting (Pengasuhan) dan Proteksi (Perlindungan), dimana kedua hal ini merupakan tindakan pemenuhan hak anak, yaitu hak untuk bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan nama (identitas), hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak untuk memiliki peran dalam pembangunan. Sedangkan Shelter menangani tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam wawancara yang sama, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Kualitas Keluarga, Data dan Informasi, Alice Ch. D. Malingara, S.STP menambahkan bahwa ide Puspaga adalah aspirasi masyarakat (perempuan) ketika Dinas P3A melakukan sosialisasi tentang Ketahanan Keluarga di masyarakat. Untuk menjawab aspirasi tersebut, pada tahun 2020 dibangunlah layanan Puspaga yang bertempat di Kantor Dinas P3A Kabupaten Sumba Barat dan ditangani oleh tenaga profesional, salah satunya adalah Marlina Eflin Walu. S.Psi, MM, M.Psi.

Layanan Puspaga ditujukan bagi semua masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Sumba Barat, terutama bagi keluarga, calon keluarga (suami-isteri), bisa juga lembaga pemerintahan dan lembaga pendidikan.

“Yang menjadi tantangan kita (Puspaga) itu pola pikir masyarakat terhadap konseling itu. Mereka berpikir orang yang sudah depresi yang datang konseling”, kata Alice Malingara.

Dengan adanya layanan Puspaga ini dapat mengubah pola pikir masyarakat yang sebenarnya, bahwa konseling merupakan langkah awal pencegahan terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga, terutama terhadap perempuan dan anak. Harapan kedepannya, layanan Puspaga dapat berjalan dan masyarakat terlibat aktif dalam layanan Puspaga ini, sehingga dapat menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta angka perceraian. (Red.DKIPS.SB)

Bagikan Informasi Ini

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *