Budaya

Buka Sosialisasi dan Pendampingan Pembentukan MPIG di Kabupaten Sumba Barat, Bupati Berharap Tenun Ikat Sumba Barat Semakin Dikenal

Sosialisasi dan pendampingan pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Tradisional digelar di aula Kantor Bupati Sumba Barat, Jumat (03/09/2021).

Sosialisasi tersebut menghadirkan 30 peserta yang terdiri atas para pelaku IKM maupun UKM Tenun tradisional, pengusaha/pegiat bisnis, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerhati tenun. Serta narasumbernya berasal dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Prov. NTT, Erni Mamo Li, SH, M.HUM

Sosialisasi ini diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan pemahaman akan pentingnya legalitas tenun tradisional NTT umumnya dan khususnya Tenun Sumba Barat, sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini semakin marak penjiplakan tenunan NTT dengan menggunakan alat printing, sehingga sudah selayaknya pemerintah memfasilitasi sertifikat MPIG khususnya tenun tradisional dari kabupaten Sumba Barat, agar tenun tradisional memiliki legalitas yang diakui oleh masyarakat nasional maupun masyarakat dunia.

Demikian yang disampaikan oleh Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Provinsi NTT, Agustinus Frumentius.

Tujuannya, lanjut Agustinus untuk memberikan perlindungan hukum terhadap produk tenun tradisional, sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pelaku industri tenun tradisional yang ada di Kabupaten Sumba Barat dan juga untuk dapat meningkatkan nilai jual produk, serta memperluas pangsa pasar tenun tradisional NTT ke tingkat nasional maupun internasional.

Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH mengapresiasi kegiatan ini, dirinya menyampaikan terima kasih kepada pihak penyelenggara.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT serta Kanwil Kemenkumham NTT karena telah mengagendakan kegiatan sosialisasi dan pendampingan ini, sebagai upaya Strategis dalam rangka melindungi Hak Kekayaan Intelektual masyarakat khususnya tenun tradisional”, ungkapnya.

Di Kabupaten Sumba Barat sendiri, lanjut Bupati Yohanis, terdapat banyak ragam motif tenun yang perlu mendapatkan perlindungan hukum dan juga perlu diberikan tanda untuk menunjukan dari mana tenun itu berasal.

Dari setiap helaian tenun yang dikreasikan, tersirat berbagai pesan dan sejarah budaya serta leluhur. Itulah alasannya mengapa Indikasi Geografis sangat penting untuk dilindungi.

Sebagai contoh, tenun ikat Kraja yang menjadi ciri khas dari tenunan Lamboya memiliki kurang/lebih 12 ragam motif tenun yang berbeda-beda dengan ragam dan ceritanya masing-masing.

“Saya berharap kain tenun tradisional di Kabupaten Sumba Barat semakin dikenal. Kepada para penenun saya mengharapkan semakin meningkatkan kualitas hasil tenunannya, jangan terlalu menaikan harga tidak sesuai dengan kualitasnya”, harapnya.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap khusus kepada para peserta sosialisasi agar menginventarisir ragam motif tenun tradisional yang ada di Kabupaten Sumba Barat, untuk kemudian dapat kita sertifikasikan sebagai warisan budaya nenek moyang dan hak kekayaan intelektual masyarakat Sumba Barat”, tutup Bupati Yohanis. (Dhi)

Bagikan Informasi Ini

Tebaran Pesona Tombak Pasola Gaura

Gaura – Panas terik matahari tidak menyurutkan keinginan penonton utk menyaksikan aksi para Ksatria di ajang PASOLA Gaura di Lapangan Pasola Parotango, Kamis, 19 Maret 2020.

Tombak-tombak bertebaran seiring derap kuda berlari saling sambung diarena PASOLA,  disambut teriakan riuh penonton, pakala’ dan payawo ketika tombak kayu pasola mengenai lawan, menambah keseruan ajang PASOLA.  Angin Pantai Tarakaito dan Parotango yang mengapit lapangan pasola, berhembus menghalau panasnya terik matahari menambah sukacita penonton PASOLA Gaura.

PASOLA Gaura merupakan rangkaian atraksi Pasola Kabupaten Sumba Barat yang paling terakhir dilakukan, setelah Pasola Lamboya dan Pasola Wanukaka. Berbeda dengan 2 atraksi pasola sebelumnya, Pasola Gaura dilakukan selama 2 hari, hari pertama tanggal 18 Maret 2020 untuk anak-anak remaja, sedangkan pada hari kedua 19 Maret 2020 dilakukan untuk ksatria dewasa, namun diantara jeda saat istirahat, tetap diisi oleh pemain remaja.

Atraksi Pasola Gaura cukup banyak menyedot penonton, atraksi yang berlangsung cukup lama, tanpa adanya perkelahian dan berakhir pukul 12.00 WITA, sangat memuaskan para penonton. Hadir pula menyaksikan atraksi  PASOLA tersebut, Bupati Sumba Barat, Forkompinda, Sekda Sumba Barat, Para Asisten, Staf Ahli Bupati dan Pimpinan Perangkat Daerah. RED.DKIPS-AR

Bagikan Informasi Ini

Pasola Pantai, Seru dan Menegangkan

Waihura-Seiring dengan terbitnya sang fajar di ufuk timur wanukaka, puluhan pasukan ‘ksatria berkuda’ wanukaka perlahan memenuhi tepian pantai Pahiwi Desa Waihura Kecamatan Wanukaka Senin 16 maret 2020. Lengkap dengan ‘kalabo dan hiasan kuda yang senada serta lembing di tangan, para ‘ksatria’ memacu kuda mereka menyusuri tepian pantai seraya menanti kedatangan Rato. Selepas melaksanakan ritual adat ‘Madidi Nyale’ para Rato atau imam dalam aliran kepercayaan marapu bergegas menuju arena atau tempat yang sudah ditetapkan untuk memulai ritual adat selanjutnya sebagai tanda dimulainya pelaksanaan Pasola pantai.

 

Pelaksanaan pasola pantai masih berada disekitar tepi pantai Pahiwi dengan wilayah yang cukup luas dan permukaan yang lumayan datar. Keseruan pasola pantai dimana kedua kubu yang saling bertarung berhadap hadapan, memacu kuda dengan kecapatan tinggi sambil melemparkan kayu atau lembing kearah lawan yang mendekat. Ketangkasan dan kelincahan dalam menunggang kuda sangat diutamakan untuk bisa menyerang dan sekaligus menghindar dari serangan kayu atau lembing lawan.

Tidak ada pagar pembatas di sekeliling arena, masyarakat maupun wisatawan yang datang menyaksikan  atraksi pasola pantai dengan sendirinya menjaga jarak aman dari kayu atau lembing yang berterbangan di arena pasola. Walaupun menegangkan antusiasme masyarakat maupun wisatwan sangat tinggi, terbukti dengan banyaknya penonton yang menyaksikan atraksi pasola pantai. (RED.DKIPS-JB)

Bagikan Informasi Ini

Berburu ‘Nyale’ Di Pantai Wanukaka

Waihura-Ratusan orang dari berbagai lapisan masyarakat memadati pantai Pahiwi Desa Waihura kecamatan Wanukaka senin 16 maret 2020. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa menyusuri tepian pantai mencari ‘nyale’ yang bersembunyi di sela-sela karang.

Nyale sendiri merupakan sejenis hewan laut berupa cacing yang muncul pada bulan tertentu di pantai Pahiwi. Selain untuk dikonsumsi oleh warga lokal, nyale juga merupakan media ramal bagi para Rato atau imam dalam aliran kepercayaan ‘Marapu’ untuk membaca hasil panen pada tahun tersebut.

Sesaat sebelum fajar menyingsing para Rato melakukan ritual adat ‘Madidi Nyale’ atau yang secara harfiah mempunyai arti memanggil nyale. Ritual adat ini dilakukan pada hari keempat ‘Pati Rahi’ yang merupakan salah satu tahapan sebelum diadakannya ‘Pasola’.

Madidi nyale diwali dengan  perwakilan dua orang rato yang turun ke pantai dan mulai memanggil nyale. Setelah itu rato kembali dengan membawa nyale untuk kemudian diramal. Bersamaan dengan itu masyarakat lokal maupun wisatawan yang sudah menunggu dari malam hari di tepian pantai mulai turun ke pantai dan perburuan nyale pun dimulai. (RED.DKIPS-JB)

Bagikan Informasi Ini