Kegiatan Pimpinan

Kuota Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) Masih 13.581 Jiwa, Pemda Sumba Barat Percepat DTKS

Waikabubak | Rabu, 13 April 2022, Demikian salah satu langkah yang diputuskan dalam Rapat Forum Komunikasi dan Forum Kemitraan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Diharapkan juga agar penduduk yang sudah terdaftar dalam DTKS Non JKN serta penduduk non-JKN menjadi peserta PBI-JK. Saat ini peserta aktif JKN-KIS Kabaupaten Sumba Barat sampai dengan 1 April 2022 adalah sejumlah 140.216 dari total penduduk Sumba Barat sebesar 149.641. Jadi masih ada 9.425 orang yang belum menjadi peserta dan diusulkan untuk menjadi PD Pemda dengan memperhatikan kecukupan anggaran. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan, Drs. Imanuel Mesakh Anis, yang memimpin rapat ini mengatakan Pemda akan mengupayakan pengalokasian anggaran 4% untuk  memenuhi kebutuhan peserta non-JKN ini dalam anggaran perubahan tahun 2022.

Rapat yang diikuti beberapa pimpinan Perangkat Daerah, seperti Dinas Nakertrans, Bappelitbangda,  dan Dispenduk, Direktut RSU dan Lende Moripa, dan Ketua IDI Sumba Barat, serta Jajaran BPJS se-Sumba, berlangsung selama lebih dari 3 jam di Ruangan Bupati dan membahas  9 hal penting lainnya selain yang telah disebutkan di atas, yaitu:

  1. Implementasi Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2022 Tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional.
  2. Biaya Pelayaan Kesehatan, baik Iuran Pemda sebesar Rp 22,4 Miliar dan klaim yang telah dibayar BPJS ke Faskes sebesar lebih dari Rp 39 Miliar;
  3. Permasalahan Rasio FKTP dan Rasio Dokter, yang mencapai 1/7000 (Ketua IDI Sumba Barat);
  4. Konsekwensi Kapitasi Berbasis Kerja sebesar 88% dengan potensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 56 Juta/bulan;
  5. Belum Maksimalnya Rekrutmen Pasien dan Pelayanan Obat Program Rujuk Balik (PRB);
  6. Belum Stabilnya Pelayanan Obat Kronis;
  7. Tingginya Angka SC dan Persalinan Normal di FKRTL Sumba Barat;
  8. Antrian Online dan;
  9. Penjaminan Klaim Covid-19.

Diskusi berjalan sangat terbuka dan banyak usulan dari peserta forum yang ditujukan kepada BPJS dan sebaliknya. Ketua Komisi C DPRD, Alexander Dapawole, misalnya mengharapkan agar dengan dana lebih dari Rp 22 Miliar dari Pemda, BPJS lebih proaktif agar Faskes lebih fokus pada pelayanan kesehatan dan bukan pengecekan kepesertaan peserta ASKES. BPJS sebaliknya mengatakan bahwa jumlah personilnya sangat terbatas sehingga tidak dapat mengerjakan hal-hal yang di luar tugas pokoknya. Forum ini akhirnya memberi titik temu dalam berbagai hal yang menjadi isu pokok pelayanan kesehatan di Sumba Barat.  OK- DKIPS

Bagikan Informasi Ini

Tinjau Pengadaan 7 Unit Mesin Panen Taka Tech Buatan Bandung, Bupati Sumba Barat: Jangan Tunggu Petani Daftar ke Dinas Baru Dapat Pelayanan

Waikabubak | Senin, 11 April 2022, Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH meninjau pengadaan sebanyak 7 unit mesin pemanen padi merek Taka Tech Canggorang T3500 P produksi dalam negeri. Pengadaan mesin-mesin yang bersumber dari dana DAK sebanyak 2 unit dan 5 unit berasal dari dana DAK ini untuk memenuhi kebutuhan pemanenan sekitar 9500 ha lahan padi irigasi dan tadah hujan di Kabupaten Sumba Barat. Dalam bincang ringan bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan, Ir. Amos R. Dida bersama jajarannya serta para tenaga kontrak pengemudi, Bupati menghimbau agar masyarakat yang membutuhkan pelayanan pemanenan padi tidak harus mendaftar ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan harus bersifat proaktif di mana dinas aktif mencari masyarakat target pelayanan. Pemda akan berusaha memenuhi kebutuhan operator yang masih kurang karena kebijakan Pemerintah Pusat menghentikan tenaga kontrak daerah dan juga penyediaan tempat parkir atau garasi untuk ke-7 unit Combine Harvester yang diadakan.

Mesin pemanen Combine Harvester buatan Bandung ini berfungsi antara lain: memotong tanaman yang masih berdiri,  menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder, merontokkan gabah dari tangkai atau batang, memisahkan gabah dari jerami dan Membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing. Dari diskusi dan pengamatan Tim DKIPS dilapangan, para petani merasa bahwa penggunaan mesin ini sangat menghemat biaya dan waktu panen. Bapa Yuni, salah satu petani yang memiliki beberapa hektar lahan di Kelurahan Pada Eweta mengatakan bahwa mesin serupa yang ia pakai sebelumnya dapat memanen 1 hektar dalam maksimal 2 – 4 jam atau rata-rata 3,2 jam per hektar. Tentu ini sangat tergantung bentuk dan kondisi lahan. Hamparan yang rata dan tidak berair biasanya akan butuh waktu lebih singkat dibanding dengan sawah yang berpetak-petak dan berair. Selain itu juga, salah seorang petani yang ditemui saat panen, mengatakan bahwa biasanya mereka mengeluarkan dana sebesar 3 – 4 juta per hektar untuk menyewa pekerja. Dengan biaya sewa hanya Rp 1.5 juta per hektar, maka pengehematan rata-rata di atas 50% per hektarnya.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Weru Raddi Kaka Ora, S.P yang bersama Kepala Bidang dan staf yang membidangi kegiatan ini, ditemui Tim di ruang kerja sekretaris, mengatakan bahwa tahun ini Sumba Barat menyewa Combine Harvester dari Sumba Tengah karena dari 4 mesin yang dimiliki dinasnya saat ini, hanya 2 unit yang dapat digunakan. Dua lainnya rusak akibat penggunaan sejak tahun 2018, waktu pengadaannya. Weru mengatakan bahwa masih banyak unit yang diperlukan untuk kebutuhan panen padi di Sumba Barat. Dinasnya berharap agar kedepannya dimungkinkan agar mesin yang harga per unitnya mencapai lebih dari Rp 400 juta ini dapat disediakan bersama mekanisme perawatannya sehingga dapat selalu operasional mengingat kondisi medan di Sumba Barat yang cukup sulit. Bupati dalam penyampain sebelumnya juga mengatakan bahwa akan ditambah unit Combine Harvester di tahun-tahun yang akan datang. Dengan demikian, bertambahnya jumlah unit pemanen ini ke depan akan disertai pemeliharaan yang memadai.

Penggunaan teknologi ini sangat membantu para petani namun juga kemungkinan akan berdampak signifikan terhadapat tradisi panen yang merupakan atraksi budaya yang menarik. Menanggapai hal ini Weru menyatakan bahwa ada sawah-sawah dan ladang yang tidak dapat dipanen secara modern dan sawah-sawah pamali ini akan tetap dilestarikan untuk mempertahankan tradisi panen di Sumba Barat.

Bagi masyarakat yang ingin mendapat pelayanan dapat menghubungi Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat, Marthen Pada Dengo, S.E. dengan nomor WA 082 216 905 572. DKIPS OK

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

Sambut Kontingen Usai POPDA V Nusa Tenggra Timur, Bupati Apresiasi Sumba Barat Raih Sembilan Medali

Waikabubak, Kamis , 29 Maret 2022. Sembilan medali untuk Sumba Barat disumbangkan oleh delapan atlit yakni, dari Cabang Tinju:  Yulius Goma, Bernard B. Putting, Susanty Roki Lala dan Ayu Safira Bora; dari Cabang Tae Kwondo: Grace Yustina Ratu, Febriana Sinta Nadia Malo; dan dari Cabang Kempo: Randi Soleman Langko, yang menyumbang dua medali dan Astin Handayani Duka.

 

No Nama Medali Cabang Olah Raga Asal Sekolah

 

1 Yulius Goma Emas Tinju Pra Yunior Boys Kelas 42 Kg Putra SMPN 2 Waikabubak
2 Benhard B. Putting Perunggu Tinju Kelas 44 Kg Yunior Boys SMPN 2 Waikabubak
3 Susanty Roki Lala Emas Tinju Kelas  54 Kg Youth Girls SMPN 1 Waikabubak
4 Ayu Safira Bora Emas Tinju Kelas 48 Kg Youth Girls SMAN 7 Kupang
5 Grace Yustina Ratu Perunggu Tae Kwondo Kyrugi Yunior  Putri Under 52 SMAN 1 Waikabubak
6 Febriani Sintia Nadia Malo Emas Tae Wondo Pumsai Putri SMP Kristen  Waikabubak
7 Randi Soeleman Langko Perak Kempo 55 Kg SMAN 1 Waikabubak
    Emas Kempo Embu Pasangan  
8 Astin Handayani Duka Emas Kempo Embu Pasangan SMAN 1 Waikabubak

Rombongan kontingen dengan 14 atlit bersama official dan pendamping dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga, disambut langsung oleh Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH di Aula Pertemuan Kantor Bupati Sumba Barat Kemarin, Senin 28 Maret 2022. Bupati Sumba Barat sangat mengapresiasi prestasi yang dicapai para atlit Sumba Barat yang sudah mengharumkan nama daerah di tingkat propinsi dan karena itu secara resmi akan menganugerahkan penghargaan untuk para atlit secara resmi pada tanggal 2 Mei 2022 bersamaan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Beliau meminta maaf kepada para atlit dan official karena penyambuan yang tidak sesuai sesuai dengan yang diharapkan karena jadwal resminya tanggal 2 Mei mendatang. Hadir dalam acara ini juga Ketua Koni Sumba, Drs. Agustinus Niga Dapawole dan beberapa Pimpinan OPD.

Ditemui di Kantor Dinas Pendididkan, Pemuda dan Olah Raga, Kabid Pemudan dan Olah Raga, Silvia Esterlita Danguwali, mengatakan bahwa beberapa atlit yang berprestasi sedang dalam pembinaan di tingkat propinsi dan salah satunya adalah Susanti Roki Kala. Rendi Soleman Langko, yang meraih Medali Perak untuk Komite Perorangan Kempo dan Medali Emas pada Embu Pasangan, akan dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olah Raga Nasional. Beberapa altit Sumba Barat juga pernah meraih emas di PON dan ini merupakan prestasi yang membanggakan daerah.

Untuk diketahui tahun ini, POPDA V NTT atau Pekan Olah Raga Pelajar Nusa Tenggara Timur diikuti oleh 1.056 atlit  untuk merebut 706 Medali, yang terdiri dari 198 medali emas, 198 medali perak, dan 316 medali perunggu. Cabang olah raga yang dipertandingkan adalah Kempo, 333 atlit, Pencak  Silat 173 atlit, Tinju 116 atlit, Atletik 117, Wushu 13, Tai Kwondo 175 serta Karate 129.  Sumba Barat hanya mengirim atlit cabang Tinju 4 orang, Kembo 4 orang, Karate 3 orang serta Tae Kwondo 3 orang. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 23 – 27 Maret 2022 di GOR Flobamora, GOR Futsal, Gedung Serba Guna KONI, Aula Komodo dn Stadion Oepoi Kupang. OK_DKIPS

Bagikan Informasi Ini

Pasola Gaura sajikan atraksi budaya dan keindahan alam Pantai Mambang

Waikabubak, Kamis , 24 Maret 2022. Ritual Pasola Guara dilksanakan  Lapangan Parotango Desa Wetana Kecamatan Laboya Laboya Barat Kabupaten Sumba Barat hari Kamis tanggal 24 Maret 2022, dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kasat SATPOL PP, Camat Laboya Barat dan jajaranya, Kapolsek Lamboya dan jajarannya, kepala Desa se-Kecamatan Laboya Barat serta warga dari berbagai tempat yang menyaksikan atraksi tahunan ini. Tampak juga sejumlah wisatawan domesik dan manca baik di tribun maupun di lapangan dalam barisan panjang warga yang asyik menonton. Pasola di Gaura ini dilaksanakan dekat pantai Mambang yang menyajikan pemandangan yang sangat indah sehingga walaupun lokasinya yang relatif jauh pengunjung dapat menikmati baik atraksi budaya maupun aktifitas alam di pantai.

Para wisatawan yang ditemui Tim DKIPS menyatakan sangat menikmati Pasola dan akan merekomendasikan atraksi ini kepada teman-teman mereka. Menurut para pelancong ini, Pasolalah yang menjadi alasan utama mereka mengunjungi Sumba. Mereka menyarankan bahwa lebih baik jika ada komentator live dalam bahasa asing yang membuat mereka dapat mengerti apa yang sedang terjadi pada saat pertandingan adu tangkas ini. Setelah Pasola, para wisatawan bermaksud untuk melakukan aktifitas pantai, namun jalan ke pantai yang sulit dari lapangan Pasola membuat mereka mengurungkan niatnya terutama karena tidak membawa perlengkapan hiking yang memadai. Sebelum meninggalkan lokasi Pasola, para pengunjung menikmati makan bersama oleh Camat dan Sekertaris Camat Lamboya Barat.

Untuk diketahui Pasola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu. Selain di Kecamatan Gaura , Pasola juga dilaksanakan di Lamboya dan  Wonokaka setiap tahun pada bulan Februari hingga Maret. Acara ini biasanya diawali dengan penjemputan Nyale atau cacing laut yang melimpah di pinggir pantai pada waktu bulan purnama oleh para rato adat. Para rato memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari dan membuktikan kebenarannya dan meneliti bentuk serta warnanya. Bila nyale tersebut gemuk, sehat, dan berwarna-warni, pertanda tahun tersebut akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Sebaliknya, bila nyale kurus dan rapuh, akan didapatkan malapetaka. Masyarakat kemudian beramai-ramai mengumpulkan nyale. Tanpa mendapatkan nyale, Pasola tidak dapat dilaksanakan.

Dalam setiap Pasola, dua kelompok suku yang bertarung, masing-masing terdiri atas kurang lebih 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul dan berdiameter kira-kira 1,5 cm. Walaupun berujung tumpul, permainan ini dapat memakan korban jiwa. Kalau ada korban dalam pasola, menurut kepercayaan Marapu, korban tersebut mendapat hukuman dari para leluhur karena telah telah melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan. Dalam permainan pasola, penonton dapat melihat secara langsung dua kelompok ksatria sumba yang sedang berhadap-hadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melemparkan lembing ke arah lawan. Selain itu, para peserta pasola ini juga sangat tangkas menghindari terjangan tongkat yang dilempar oleh lawan. Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen. OK_DKIPS

Bagikan Informasi Ini