Kemitraan

Sponsorship dan Gerakan Literasi

Waikabubak, 15 Oktober 2021. Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan sumber daya manusia dan taraf kehidupan bangsa. Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa itu sendiri. Salah satu hal yang paling berpengaruh dalam pendidikan adalah literasi peserta didik. Literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di Lembaga Pendidikan, dan akan sangat baik jika dimulai sejak usia dini.  Melalui kegiatan literasi, akan membiasakan anak-anak untuk membaca dan menambah informasi bagi siswa. Manfaat lainnya dapat memupuk minat dan bakat dalam diri peserta didik. Semuanya dapat tercapai jika mendapat dukungan dari semua pihak, orangtua, masyarakat dan pemerintah.

Menanamkan budaya literasi kepada anak-anak, tidaklah segampang membalik telapak tangan. Selain Lembaga Pendidikan, diperlukan dukungan dan peran serta dari masyarakat dan orangtua. Masyarakat berperan menyediakan akses bacaan kepada anak, sementara orangtua membentuk budaya literasi anak dari dalam rumah. Salah satu peran orangtua di rumah adalah mendampingi anak belajar, namun tidak semua orangtua memiliki pengetahuan yang sama. Kondisi ini dipengaruhi oleh keterbatasan dari berbagai aspek, antara lain; ekonomi, waktu, pendidikan, dan lain sebagainya.  Untuk mencapai kemampuan literasi terbaik anak, diperlukan program yang dapat menggerakan percepatan literasi bagi anak. Gerakan untuk mendukung percepatan literasi anak, dengan menyediakan perpustakaan, pojok baca atau pos baca dan lomba literasi.

Program Basic Education (Pendidikan Dasar/BE) Sponsorship yang dilaksanakan oleh Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, telah melaksanakan tiga kegiatan yang dapat mendukung percepatan literasi. Aktivitas ini dilakukan ditingkat sekolah dan komunitas. Kegiatan berbasis sekolah, meliputi pengembangan perpustakaan, pelatihan duta baca dan lomba literasi, sementara pos baca berbasis komunitas diperuntukan bagi anak-anak yang belum mampu membaca dan menulis, dengan pendampingan dari para relawan. Lomba literasi dapat dilakukan seperti; menulis, menggambar, membaca dan sebagainya.  Untuk dapat menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik, perlu memperhatikan; lingkungan yang nyaman, empati dari semua pihak, rasa memiliki dan mencintai atas apa yang akan dilakukan, komunikasi dan kontribusi kepada lingkungan, dan melibatkan semua warga sekolah. Sejak tahun 2020, Sponsorship telah menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik SD. Dan kegiatan ini, terus berlanjut hingga tahun 2021.

Tahun 2021, 54% atau 49 dari 91 SD, di kabupaten Sumba Barat dengan total 1410 peserta didik terlibat dalam perlombaan ini. Hasil karya anak akan didokumentasikan dalam bentuk buku, dan didistribusikan ke Lembaga Pendidikan, pos baca dan perpustakaan daerah.

‘Kami menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik SD, karena situasi pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak sekolah ditutup sementara anak-anak membutuhkan aktivitas yang dapat mendukung kemampuan literasi mereka, ujar Adriana Loru (Koordinator Program BE, 15/10).

Menurut Adri, situasi pandemi, telah mempengaruhi hasil belajar anak, dan ini terjadi di semua wilayah. Tentunya anak-anak membutuhkan kegiatan yang dapat mendukung peningkatan literasi. Upaya yang kami lakukan sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan minat baca dan belajar anak. Bagi kami, dengan berkarya anak belajar dengan belajar dapat meningkatkan kualitas Pendidikan. Dasar ini yang memicu kami untuk melakukan gerakan literasi, tegas Adri.

Anak-anak adalah investasi bagi orangtuanya dan bangsa. Anak yang berkepribadian baik tidak saja membuat bahagia orangtuanya, tetapi akan berperan dalam membangun bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orangtua adalah membentuk budaya literasi anak. Budaya literasi anak tidak cukup diupayakan dengan program gerakan literasi, namun gerakan literasi sebaiknya dimulai dari rumah. Gerakan literasi membutuhkan dukungan dari banyak pihak, yang dapat menyediakan akses dan fasilitas yang mendukung literasi anak. (PSI, RED)

 

 

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

Dukung Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Media Edukasi

Waikabubak, 14 Oktober 2021. Kesehatan Reproduksi (kespro) merupakan suatu hal yang harus bersifat kooperatif dari berbagai aspek seperti diri sendiri, pihak orangtua, sekolah dan lingkungan masyarakat. Selain itu, harus diimbangi oleh norma agama dan sosial, untuk melindungi kesehatan reproduksi pada anak-anak. Menjaga kespro adalah hal yang sangat penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa dan memberikan kesempatan untuk tumbuh tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial, ekonomi, harga diri dan keintiman. Sementara, reproduksi diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Sering kali reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Terhadap pemahaman ini, menempatkan banyak orangtua merasa tabu atau tidak nyaman membicarakan masalah tersebut dengan remaja. Padahal, makna dari kesehatan reproduksi, terutama pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Pengetahuan kespro wajib bagi remaja perempuan dan laki-laki. Edukasi kespro pada remaja, dapat dimaknai sebagai upaya memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kespro secara komprehensif. Sehingga, terbangun kesadaran untuk menjaga kesehatan sistim reproduksi dalam fungsi dan prosesnya, serta melindunginya dari tindakan yang berisiko buruk, baik secara fisik, maupun mental. Perilaku berisiko diakibatkan dari minimnya pengetahuan tentang kespro. Pengetahuan yang rendah disertai dengan kuatnya pengaruh teman sebaya pada usia remaja menjadikan remaja untuk mempunyai sikap dan perilaku seksual yang tidak sehat. Dampaknya, dapat mengakibatkan penyakit infeksi menular seksual, kehamilan usia muda dan aborsi, serta kematian ibu. Terhadap dampak perilaku berisiko, penting bagi remaja untuk memiliki pengetahuan yang tepat dan komprehensif terkait kespro dan cara menjaga kesehatannya. Dengan demikian diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Lantas pengetahuan apa saja yang perlu diketahui remaja? Dan, siapa saja yang bertangggungjawab dalam memberikan informasi?

Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, melalui program Pengembangan Remaja (Adolescent Development/AD) Sponsorship, telah melakukan survey ‘Tingkat Pengetahuan Peserta Didik Terkait Kespro’ (April, 2021), kepada 560 peserta didik (280 remaja perempuan dan 280 remaja laki-laki) dari jenjang pendidikan menengah pertama di 28 sekolah. Survey bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman remaja tentang kespro dan gender. Hasilnya, 76% atau 426 remaja putri dan putra memiliki pengetahuan yang rendah terkait isu kespro, seksualitas serta gender. Merujuk dari hasil survey, menunjukan bahwa rendahnya pemahaman remaja dapat memicu perilaku berisiko dan masalah lainnya dimasa mendatang. Terhadap hasil survey ini, tim AD Sponsorship telah mengembangkan dan membagikan media edukasi berupa 840 buku dan 196 poster berisikan pesan kespro dan gender kepada 560 anak di 28 SMP. Media dibuat secara sederhana, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh usia remaja dan dapat dipergunakan oleh remaja setiap harinya. Pesan dan informasi terkait kespro remaja, gender, dan dampak kehamilan usia remaja telah disisipkan pada masing-masing media yang ada.

Menurut Serliyati Gadi Rara (Project Officer AD) Stimulant Institute, dua bentuk KIE dipilih karena pelajar lebih sering mengakses kedua media tersebut, dan terkhusus untuk buku tulis rutin dibawa oleh peserta didik ke sekolah. Contohnya, saat remaja di sekolah mereka akan menjadi lebih sering memperhatikan dan membaca pesan melalui poster dan buku tulis yang disisipkan pesan dan informasi pada setiap halaman dan lembarannya.

Sementara untuk guru mata pelajaran IPA, IPS dan PJOK, intens mendapatkan coaching dari mentor AD melalui Lembaga Pendidikan. Coaching dan monitoring bertujuan untuk memantau informasi kespro yang telah diintegrasikan kedalam tiga mata pelajaran tersebut. Mengintegrasikan pesan kespro kedalam mata pelajaran secara tidak langsung telah mengedukasi peserta didik, ujar Serli.

Ditempat terpisah, Imelda Inna Kii, guru SMPN 2 Lamboya, memberikan pernyataan bahwa media KIE yang dibagikan oleh program Sponsorship sangat mengedukasi bagi warga sekolah terkhususnya peserta didik. Media berisikan pesan kespro, dapat membantu remaja untuk belajar mengenal diri, dan dapat menghidari dari perilaku-perilaku berisiko. Aktivitas program yang bermanfaat bagi remaja. Akan semakin baik jika diadopsi dan dilanjutkan oleh pemerintah melalui program-program bagi remaja, tegas Imelda.

Sementara, perwakilan siswi SMPN 2 Lamboya atas nama Agustina Haba (P, 12 tahun), berujar bahwa buku yang dibagikan oleh Stimulant banyak dengan gambar dan kalimat yang mudah dimengerti oleh remaja. Saya senang untuk membaca dan berharap, buku-buku seperti ini tidak saja dibagi kepada kami, tetapi dapat menjangkau banyak remaja lainnya di semua sekolah. Menurut saya, kami berhak mendapat materi atau informasi seperti ini, sehingga dapat mengubah pola pikir.

Atas pernyataan dan harapan yang disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa kespro bukan saja menjadi tanggungjawab remaja pribadi dan orangtua, melainkan peran dari pelaku kependidikan atau guru serta pemerintah. Guru perlu mengambil peran menginjeksi pemahaman yang benar dan komprehensif tentang kespro terhadap peserta didik yang ternyata diketahui tidak pernah dibekali pemahaman dari orangtua. Hal itu sebagai upaya menghindarkan peserta didik dari pemahaman dan perilaku keliru tentang kespro yang diperoleh lewat sumber-sumber sesat dan menjerumuskan. Karena menciptakan generasi sehat dan berkualitas adalah tanggung jawab bersama atau multi sector. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini

Sponsorship Membagikan Paket Belajar Kepada 918 Anak Sekolah Dasar

Waikabubak| 06 Oktober 2021. Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Pandemi ini mengharuskan pemerintah daerah menerapkan kebijakan – kebijakan yang berimplikasi terhadap pembatasan aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya. Menurunnya berbagai aktivitas, berdampak pada kondisi sosial-ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat rentan dan miskin, dan efek yang ditimbulkan, mengkhawatirkan dan merambat hingga ke aspek Pendidikan.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah yaitu meliburkan seluruh aktivitas pendidikan, dalam hal ini membuat pemerintah dan lembaga pendidikan harus mencari cara agar pendidikan tetap berjalan walaupun pada saat pandemi seperti ini. Dengan munculnya pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar yang semula dilaksanakan di sekolah, dan menjadi belajar dari rumah melalui belajar daring. Bagi peserta didik di wilayah perkotaan dan keluarga mampu, mungkin tidak akan kesulitan untuk mendapatkan informasi bahan belajar. Berbanding terbalik dengan peserta didik di wilayah pedesaan terkhususnya yang terbatas dengan akses, jaringan,  perangkat dan ekonomi. Pada akhirnya memicu gap yang semakin berjarak. Selain itu, hal ini dapat memunculkan kehilangan minat anak untuk belajar, karena keterbatasan. Kehilangan minat belajar, jika terjadi dalam waktu yang panjang, akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Kualitas yang dipengaruhi oleh keterbatasan dan kesempatan dikarenakan akses terhadap fasilitas belajar.

Bagaimana meminimalkan gap, agar anak-anak marginalized atau terpinggirkan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar?

Program Sponsorship, yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) Sumba mitra Yayasan Save the Children (YSTC) merespon terhadap situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini. Kami mendukung dengan menyediakan paket belajar kepada peserta didik untuk belajar dari rumah. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak-anak yang tergolong marginalized di daerah intervensi Sponsorship yang kesulitan akses dan pendapatan keluarga di bawah rata-rata yang terkena pandemi saat ini untuk tetap belajar menggunakan paket pembelajaran yang disediakan. Penentuan anak yang menerima paket pembelajaran ini dilakukan melalui proses assesment untuk mendapatkan informasi yang valid, sehingga paket pembelajaran yang diberikan tepat sasaran. Hasil assessment dan konfirmasi data anak melibatkan pihak sekolah dan pemerintah desa.

Merujuk dari hasil assessment, terpilih 918 anak (513 anak laki-laki dan 405 anak perempuan) dari 47 SD intervensi Sponsorship untuk berkesempatan menerima paket bantuan belajar. Paket bantuan yang diberikan berupa; tas sekolah, alat tulis, buku cerita, alat peraga seperti puzzle, kartu surat dan lain-lain. Paket bantuan yang diberikan kepada peserta didik ini akan membantu anak  belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru wali kelas. Hal ini juga memotivasi siswa untuk semangat belajar dan meningkatkan kemampuan literasi yang walaupun masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Distribusi dilakukan dalam dua tahap, bulan Agustus dan bulan September 2021. Bantuan diserahkan secara langsung kepada anak-anak. Upaya yang dilakukan telah menyumbang pada pencapaian pemerataan fasilitas belajar bagi anak-anak yan tergolong dalam kelompok marginalized sehingga mereka memiliki kesempatan dan akses yang sama terhadap fasilitas belajar. (PSI, RED)

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

28 Tendik PAUD Mengikuti Pelatihan Kesetaraan Gender

Waikabubak, 23 September 2021. Kesetaraan gender adalah suatu keadaan di mana perempuan dan laki-laki termasuk anak-anak, sama-sama menikmati status, kondisi, atau kedudukan yang setara sehingga terwujud secara penuh hak-hak dan potensinya bagi pembangunan di segala aspek kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, kesetaraan gender merupakan hak dasar untuk semua orang termasuk anak perempuan dan anak laki-laki.

Gender bukan tentang jenis kelamin, tetapi berbicara tentang persamaan peran, keadilan, dan non diskriminasi. Ketidaktahuan tentang gender, dapat memicu permasalahan bias gender di masyarakat. Dan, hal ini dapat menyebabkan kerugian terhadap salah satu jenis kelamin. Penyelesaian isu bias gender, menjadi tanggung jawab bersama.

Pendidikan anak usia dini merupakan upaya fundamental dalam memfasilitasi perkembangan anak di masa emasnya. Sebagai suatu proses yang fundamental, pendidikan bukan hanya berpusat pada nilai akademik peserta didik semata, tetapi juga mencakup pada pengembangan seluruh potensi, konsep diri, dan kepribadian peserta didik. Salah satu aspek pengembangan konsep diri dan kepribadian anak adalah dengan menyadari peran gender. Pendidikan merupakan salah kunci utama dalam menanamkan nilai-nilai dan karakter yang dinilai baik di masyarakat. Penanaman nilai-nilai dan karakter berpengaruh secara significant dan efektif bila ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Hasil penelitian menyebutkan bahwa usia awal perkembangan seorang individu akan sangat menentukan perilaku individu tersebut di masa mendatang. Pola pembelajaran terhadap anak usia dini, sudah seharusnya tidak didasarkan pada prinsip bias gender yang dapat memunculkan stereotype dan tertanam dalam karakter anak untuk melakukan diskriminasi di masa mendatang. Pengenalan gender pada anak usia dini dianggap sangat efektif untuk membentuk karakter individu yang lebih toleransi terhadap perbedaan gender. Rasa toleransi yang tinggi, dapat membantu individu untuk tidak percaya terhadap stereotype gender yang sering terjadi di masyarakat.

Bias gender yang dialami oleh anak kecil membentuk sikap dan keyakinan mereka, mempengaruhi persepsi mereka tentang diri sendiri, dan secara negatif mempengaruhi pengalaman mereka di sekolah dan kehidupan. Melalui Lembaga PAUD, tenaga pendidik (Tendik) PAUD dapat mendorong kesetaraan gender dengan mengadopsi strategi transformatif gender selama interaksi mereka dengan anak-anak dan keluarga mereka. Untuk mencapai pemahaman dan penerapan dalam bidang PAUD, perlu dilakukan Pelatihan Kesetaraan Gender bagi Tendik PAUD sehingga dapat memberi pengetahuan dan keterampilan tentang mengapa dan bagaimana mereka bisa menjadi agen perubahan mulai dari ruang kelas mereka.

Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kabupaten Sumba Barat, menyelenggarakan Pelatihan Kesetaraan Gender bagi Tendik PAUD. Pelatihan ini bertujuan untuk menghentikan siklus bias gender yang dihadapi anak perempuan dan laki-laki sejak usia pra-Sekolah Dasar, salah satu akar penyebab yang menyebabkan perbedaan dalam kesempatan dan kesejahteraan anak-anak seiring kemajuan mereka di pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Pelatihan Kesetaraan Gender, dilaksanakan sejak tanggal 20 – 25 September 2021, melibatkan 31 peserta (29P, 2L) yang berasal dari Sembilan PAUD, Dinas Pendidikan dan Dinas P3A. Pelatihan dibagi dalam dua batch. Batch satu, tanggal 20-22 September 2021 dan batch dua tanggal 23-25 September 2021.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Yehuda Malorung S.Pd, dalam sambutannya menegaskan kepada peserta bahwa pelatihan Gender membantu tendik PAUD memberikan informasi dan membiasakan kepada anak-anak untuk tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki. Hal pembiasaan harus dimulai dari diri sendiri, sehingga bisa memberikan contoh kepada orang lain. Kesempatan ini, harus digunakan oleh peserta untuk mendapatkan informasi dari Fasilitator, dan selanjutnya dapat berbagi dengan tendik lainnya. Peletakan dasar menjadi acuan untuk perkembangan di masa yang akan datang.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Gender Dinas P3A, Alice Ch. D. Malingara, S.STP menyampaikan bahwa akar dari permasalahan tindak kekerasan yang terjadi di Sumba, disebabkan karena rendahnya pemahaman tentang Gender. Jika saja masyakarat terkhususnya keluarga, paham tentang Gender, maka tidak ada tindak kekerasan yang dialami oleh jenis kelamin tertentu. Untuk dapat memahami tentang Gender, informasi ini hanya dapat diberikan melalui pintu Pendidikan, dan dimulai dari anak usia dini.

Pernyataan ini dapat kami sampaikan, setelah melakukan pengamatan dan analisa  selama empat tahun terakhir ini. Peletakan dasar harus dimulai sejak usia dini, untuk dapat menumbuhkan karakter yang mampu menghargai dan menghormati sesama tanpa membedakan jenis kelamin, dan ini adalah tanggung jawab kita semua tegas Alice.

Pelatihan ini difasilitasi secara langsung oleh Karla Mariana Klau (Advisor Gender dan Pendidikan) dan Yoan Ida Ringu Paubun (ECCD Spesialist) dari Yayasan Save the Children. Untuk membangkitkan partisipasi dari peserta, Fasilitator menggunakan metode presentasi, diskusi, role play dan kerja kelompok.  Fasilitator mengawali pelatihan dengan glossary Gender, dan dilanjutkan dengan penerapan Gender terhadap anak sejak usia dini melalui pembelajaran di PAUD. Mendukung pembelajaran Kesetaraan Gender di PAUD, tim program Sponsorship telah menyiapkan Modul Kesetaraan Gender dalam pembelajaran di PAUD. Modul Kesetaraan Gender digunakan oleh Tendik dalam menyusun pembelajaran di PAUD.

Setelah pelatihan, akan dilanjutkan dengan penerapan pembelajaran Kesetaraan Gender di Lembaga PAUD, dan diikuti dengan observasi sebagai tindaklanjut dari pelatihan. Oberservasi akan melibatkan Dinas terkait. Pelibatan Dinas terkait, diharapkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap Gender dan selanjutnya dapat membuat kegiatan program yang menjawab peningkatan pemahaman masyarakat terkhususnya keluarga tentang Kesetaraan Gender. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini