Kemitraan

PROGRAM SPONSORSHIP BERKOLABORASI DENGAN MITRA STRATEGIS PEMERINTAH DAERAH

Https://sumbabaratkab.go.id, Waikabubak – 4 November 2022 Program Pengembangan Remaja (AD/Adolescent Development) merupakan salah satu program Sponsorship Save the Children yang menyasar pada peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja dalam menyikapi berbagai isu kesehatan reproduksi dan seksual remaja. Sasaran utama program ini adalah kelompok remaja usia 10-19 tahun (spesifik 12-15 tahun). Selain remaja, program AD dapat mendukung komunitas (orang tua), institusi sekolah (guru) serta puskesmas. Pendekatan ini, dapat mendorong peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku dari sasaran program.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2017), menemukan bahwa 8,3% remaja laki-laki dan 2% remaja perempuan telah melakukan hubungan seks pra nikah. Hubungan seksual terbanyak dilakukan oleh remaja pria berusia 20-24 tahun sebesar 14% dan pada usia 15-19 tahun sebesar 4%. Hampir 80% responden pernah berpegangan tangan, 48,2% remaja laki-laki dan 29,4% remaja perempuan pernah berciuman, serta 29,5% remaja laki-laki dan 6,2% remaja perempuan pernah saling merangsang. Survei juga menemukan bahwa perilaku berpacaran sampai pada tahap ciuman berpotensi melakukan hubungan seksual. Kehamilan tidak diinginkan dilaporkan oleh 12% wanita dan 7% pria yang pasangannya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
Dilihat dari kelompok umur 15-19 dua kali lebih besar 16% dibandingkan kelompok umur 20-24 (8%). Persentase penyakit menular seksual yaitu HIV untuk kelompok remaja umur 15- 19 tahun sebesar 3,6% sedangkan kelompok umur 20-24 sebesar 17,1%. Persentase AIDS yang dilaporkan menurut kelompok umur pada tahun 2017 yaitu, pada umur 15-19 tahun sebesar 2,3% dan kelompok umur 20- 29 sebesar 29,5% dan Hasil survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan On Track Media Indonesia (OTMI) menemukan bahwa sekitar 29% hingga 31% remaja di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berhubungan seksual pra – nikah (Junita, 2015).
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menangani permasalahan remaja adalah melakukan kolaborasi antara mitra strategis dan mitra pelaksana (NGO). Mitra strategis yaitu Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (DPKO). Kolaborasi ini dapat dilakukan oleh PSI bersama Dinas terkait. Langkah awal yang akan dilakukan oleh PSI adalah memfasilitasi pertemuan bersama DPKO untuk menyusun kesepakatan teknis kegiatan. Pertemuan ini bertujuan untuk mensinergikan perencanaan kegiatan Program Sponsorship dengan rencana program Pemerintah, dan membuat kesepakatan peran dan tanggung jawab masing – masing Lembaga terkait pelaksana program.
Adapun kesepakatan teknis kegiatan yang disepakati antara PSI dan DPKO antara lain; 1) mendukung Puskesmas untuk melakukan pelayanan kesehatan rutin ke semua jenjang pendidikan melalui PKPR 2) mendukung peningkatan fungsi UKS di satuan pendidikan melalui layanan kesehatan rutin ke satuan pendidikan, 3) mendukung guru yang telah dilatih untuk memberikan pendidikan seksual kepada peserta didik melalui mentoring dan monitoring yang dilakukan oleh mentor AD, 4) mendukung penerapan Kurikulum Terpadu Peduli Remaja (KTPR).


Pelaksanaan mentoring telah dimulai sejak bulan Juni. Dilakukan oleh Mentor AD dengan memberikan coaching kepada guru tiga mata pelajaran di 28 SMP intervensi. Hasil dari mentoring tersebut diketahui bahwa masih banyak guru yang mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan KTPR ke dalam Kurikulum Nasional (K13) dan merasa tabu untuk menyampaikan pesan – pesan kespro kepada peserta didik. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka perlu dilakukan pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat kecamatan agar guru-guru dapat berbagi pengalaman terkait implementasi KTPR di sekolah. Mengevaluasi proses pendampingan oleh mentor, dan membuat kesepakatan bersama model integrasi KTPR di sekolah.
MGMP merupakan wadah belajar dan sharing pengetahuan pelaku kependidikan. Terdapat 12 kelompok MGMP di kabupaten Sumba Barat. Kami akan melakukan pendampingan guru mata pelajaran IPA, IPS dan PJOK melalui MGMP kecamatan. Metode peer learning atau belajar dari rekan seprofesi dapat memberikan motivasi positif kepada guru lainnya. Metode peer learning KTPR dimulai pada bulan September sampai dengan Oktober, dengan durasi 2 kali sebulan.
Redaksi DKIPS.

Bagikan Informasi Ini

Rapat Koordinasi Gugus Tugas PAUD HOLISTIK INTEGRATIF Dalam Rangka Evaluasi Tim Transisi dan Monev Terpadu 

Https://sumbabaratkab.go.id, Waikabubak – 21 September 2022, bertempat di aula Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah dilaksanakan rapat evaluasi antara Stimulant Institute, Save The Children dan pimpinan OPD terkait beserta PKK Tingkat Kabupaten. 

Sapaan pembukaan oleh Kabid Sosial Budaya Bapelitbangda mengatakan bahwa selama 2 bulan pelaksanaan pelaporan kegiatan dari OPD terkait masih terdapat beberapa hal yang harus dilengkapi, dan kedepannya pelaporan evaluasi akan dilakukan melalui aplikasi dalam rangka paperless.

Perwakilan Save The Children bapak Beni mengatakan bahwa saat ini RKA Sponsorship sedang menyusun RKA dan diharapkan sinkronisasi program kegiatan dengan dinas terkait. Kegiatan ini dibuka dengan resmi oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat dalam arahannya mengatakan take over atau mengambilalih tugas program dan giat dari Sponsorship untuk ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah, mengembangkan program PAUD Integratif adalah sama dengan menurunkan angka stunting yang akan dirumuskan dalam perencanaan penganggaran di tahun 2023. Pendidikan, Kesehatan dan Sumber Daya Manusia yang ada digunakan secara maksimal.

Kepala Bapelitbangda dalam paparan materinya menjelaskan bahwa indikator – indikator yang termasuk dalam ruang lingkup kerja dan hasil yang diharapkan telah tertuang dalam RPJMD Kabupaten, khususnya di bidang pendidikan muatan lokal penyuluhan tentang NAPZA di sekolah – sekolah harus dihidupkan kembali dan untuk mensinkronisasi antara web Pemerintah Daerah dan posbaca.co.id.

Pada kesempatan diskusi disampaikan oleh beberapa perwakilan Dinas terkait antara lain Kadis PKO mengatakan dengan adanya Komunitas Penulis Anak Sumba diharapkan kedepannya anak – anak Sumba pada umumnya akan memiliki daya saing dengan anak – anak dari luar yang lebih maju sistem pendidikannya, dan perlu diberi insentif dan penghargaan dari Pemerintah Daerah, terkait dengan penyuluhan NAPZA teknis pelaksanaannya ada di Dinas Perpustakaan Daerah, untuk menjadi perhatian ada banyak perpustakaan di sekolah yang tidak terurus menurut Kadis PKO, kemudian dalam hal pendirian PAUD harus ada SOPnya untuk menjadi perhatian kedepannya, Perda tentang perlindungan anak di tahun 2023 dari Dinas P5A dapat terbentuk, demikian menurut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Khususnya bagi anak – anak kelas 1 -3 yang belum bisa membaca, belum berjalan dengan optimal karena pelibatan orang tua yang sangat kurang sekali.

Dalam diskusi juga disepakati jadwal monitoring terpadu akan dilaksanakan di 15% PAUD dari total PAUD yang ada di Kabupaten Sumba Barat.

Tim Redaksi DKIPS.

Bagikan Informasi Ini

Save The Children Ajak Masyarakat Sumba  Untuk Barenti Kasih Susah Anak 

Waikabubak, 20 Agustus 2022. Save the Children melakukan Diskusi Kelompok Terarah atau Focus Group Discussion (FGD) terkait isu kekerasan terhadap anak pada Juni 2022. FGD dilakukan kepada 116 orang dewasa dan 108 anak dari 8 desa di Kabupaten Sumba Barat. Hasilnya, sebagian besar orang tua masih berpendapat bahwa kekerasan terhadap anak wajar dilakukan jika anak tidak menuruti orang tua. Hal ini dikonfirmasi benar oleh anak-anak yang turut mengikuti FGD, bahwa orang tua dan orang dewasa sering melakukan kekerasan, baik kekerasan fisik, maupun emosional seperti memaki dan menghina jika anak tidak melakukan apa yang orang tua katakan. Pendisiplinan menggunakan kekerasan ini merupakan hal lumrah bagi orang tua, sehingga dapat menyebabkan efek domino pada tumbuh kembang anak jika tidak segera dihentikan.

Sebagai organisasi pemenuhan hak anak, Save the Children melalui Program Gender dan Perlindungan Anak, merespons situasi kekerasan di Sumba dengan mengadakan kampanye “Festival Anti Kekerasan terhadap Anak” (FAKTA). Kampanye ini diadakan sebagai rangkaian Hari Anak Nasional 2022 dan bekerja sama dengan Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) dan Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A).Kampanye FAKTA mengusung tagar #BarentiKasihSusahAnak untuk meningkatkan kesadaran orang tua/orang dewasa agar berhenti melakukan kekerasan terhadap anak. Kampanye ini bertujuan memberikan ruang dan kesempatan kepada anak-anak untuk membuat kampanye terkait isu kekerasan terhadap anak secara mandiri melalui festival Anak dengan kegiatan yang edukatif dan menyenangkan. Selain itu, Save the Children mendorong Lembaga pemerintah dari tingkat desa hingga kabupaten untuk mendukung kegiatan partisipasi anak dan pemuda dalam Musrenbang. Selanjutnya, mendorong pembentukan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Kampanye FAKTA terbagi menjadi empat rangkaian, yaitu kampanye di tingkat desa yang diselenggarakan 15 Juli–12 Agustus 2022 di 8 desa dampingan Program Gender (desa Malata, Manukuku, Kalebu Anakaka, Baliledo, Tebara, Watukarere, Kabukarudi, Gaura), “Sehari Menjadi Pemimpin” yang diadakan 25 Juli 2022, Talkshow PATBM pada 28 Juli 2022 yang dihadiri Dinas Pemberdayaan Penduduk dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi NTT dan Fasilitator Nasional PATBM, serta seluruh Kepala Desa dan Camat maupun Lurah di Sumba Barat, dan puncak acara yaitu Talkshow dan Konser Musik Peduli Anak yang akan menghadirkan narasumber Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpan), Bupati 4 Kabupaten di Sumba, Forum Anak Daerah, Global Ambassador Ending Violence Against Children (EVAC), Sumba Future Changemakers dan kolaborasi dengan komunitas lokal seperti English Goes to Kampung dan Sumba Cendekia. Konser Peduli Anak akan menghadirkan band The Local Elite dari Kupang dan pentas tarian daerah khas Sumba serta pentas seni lainnya.

Menurut David Wala, Sumba Field Manager Save the Children, kekerasan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan anak baik secara fisik maupun psikis, “Anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami kekerasan. Kekerasan terhadap anak harus diketahui oleh masyarakat dan memiliki wadah penanganan yang tepat, tersistem, dan dimonitor dengan baik. Perlindungan anak harus dipastikan dan diimplementasikan oleh berbagai pihak sehingga kasus kekerasan terhadap anak dapat diminimalisasi. Sebab, kekerasan terhadap anak berdampak pada kecerdasaan intelektual dan emosional anak,” kata Tasman.Melalui acara puncak “Konser Peduli Anak dan Talkshow Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Anak dengan tema #BarentiKasihSusahAnak” yang diadakan di Lapangan Mandaelu, Waikabubak, Sumba Barat ini, Save the Children berharap anak-anak mendapat ruang yang aman untuk mengkampanyekan isu-isu kekerasan yang kerap mereka alami melalui pentas seni.

Kampanye FAKTA juga menyediakan ruang diskusi interaktif antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpan), para Bupati Kepala Daerah, perwakilan Forum Anak Daerah, Global Ambassador Ending Violence Against Children (EVAC), dan Sumba Future Change Makers. Save the Children berharap, upaya kolektif ini dapat mewujudkan komitmen bersama untuk merespons suara anak dan terciptanya upaya menghentikan kekerasan terhadap anak. Secara simbolis, komitmen ini akan diwujudkan dalam Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Anak, melalui penandatanganan plakat dan cap tangan anak-anak dan orang tua, dengan disaksikan oleh masyarakat umum.

Kegiatan ini dilakukan demi mewujudkan misi Save the Children terkait anak Sumba yang cerdas, sehat, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan.

Bagikan Informasi Ini

“EVAC (Ending Violence Against Children) Festival Anti Kekerasan Terhadap Anak” FAKTA 2022

https://sumbabaratkab.go.id, Waikabubak – Sponsorship melalui program Gender dan Perlindungan Anak dalam rangkaian kegiatan Festival Anti Kekerasan Terhadap Anak atau FAKTA yang  bertujuan memberikan ruang dan kesempatan kepada anak – anak untuk membuat kampanye sendiri tentang EVAC melalui Festival Anak dengan kegiatan yang menyenangkan dan akrab seperti pameran menggambar, lagu daerah dan atau pertunjukan tarian tradisional dan modern, sosialisasi suara anak – anak melalui kampanye media sosial, mendorong Lembaga Pemerintah dari Tingkat Desa hingga Kabupaten mendukung partisipasi anak dan pemuda dalam Musrenbang, dan mendorong pembentukan Organisasi Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat atau PATBM.

Dalam kegiatan Festival Anti Kekerasan Terhadap Anak mengusung tagar #barentikasisusahanak ini terbagi menjadi empat rangkaian, yaitu kampanye di Tingkat Desa yang diselenggarakan 15 Juli sampai 12 Agustus 2022 di 8 Desa dampingan Program Gender yaitu Desa Malata, Manukuku, Kalebu Anakaka, Baliledo, Tebara, Watukarere, Kabukarudi, dan Gaura, serta Sehari Menjadi Pemimpin yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2022, di Aula Bupati Sumba Barat, Talkshow PATBM pada 28 Juli 2022 yang dihadiri Dinas Pemberdayaan Penduduk dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi NTT dan Fasilitator Nasional PATBM, serta seluruh Kepala Desa dan Camat maupun Lurah di Sumba Barat. Dan puncak acara dari keseluruhan rangkaian Festival adalah KONSER MUSIK|PENTAS SENI ANAK|BOOTH PAMERAN|DISKUSI INTERKAKTIF KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK, PEMERINTAH DAERAH, DAN ANAK|ORASI|DEKALARASI ANTI KEKERASAN TERHADAP ANAK| Talkshow yang menghadirkan narasumber Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil, Informasi dan Partisipasi Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Bupati Empat Kabupaten di Sumba, Forum Anak Daerah, Global Ambassador Ending Violence Against Children (EVAC), Sumba Future Changemakers dan kolaborasi dengan komunitas lokal seperti English Goes to Kampung dan Sumba Cendekia yang diakhiri dengan penandatanganan Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Anak selanjutnya diadakannya Konser Musik Peduli Anak.

Kegiatan Festival ini dibuka dengan resmi oleh Bupati Sumba Barat, dan dalam sambutannya Bupati menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Sumba Barat terus mengupayakan agar hak anak dapat terpenuhi, termasuk memberikan perlindungan terhadap anak. Saya mengharapkan di Sumba Barat tidak terjadi kasus seperti yang terjadi di daerah lain. Untuk itu saya mengharapkan para Kepala Sekolah maupun guru agar betul – betul memastikan di setiap sekolah tidak seorangpun peserta didik yang menjadi korban kekerasan fisik maupun psikis. Kepada masyarakat, saya juga berharap agar dapat menciptakan lingkungan yang ramah dan aman bagi tumbuh kembang anak.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, menurut Sumba Field Manager Save the Children, David Wala kekerasan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan anak baik secara fisik maupun psikis. Anak – anak merupakan kelompok yang rentan mengalami kekerasan, kekerasan terhadap anak harus diketahui oleh masyarakat dan memiliki wadah penanganan yang tepat, tersistem, dan dimonitor dengan baik. Perlindungan anak harus dipastikan dan diimplementasikan oleh berbagai pihak sehingga kasus kekerasan terhadap anak dapat diminimalisasi. Sebab, kekerasan terhadap anak berdampak pada kecerdasaan intelektual dan emosional anak.

Tim Redaksi DKIPS.

Bagikan Informasi Ini