Dukung Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Media Edukasi

Waikabubak, 14 Oktober 2021. Kesehatan Reproduksi (kespro) merupakan suatu hal yang harus bersifat kooperatif dari berbagai aspek seperti diri sendiri, pihak orangtua, sekolah dan lingkungan masyarakat. Selain itu, harus diimbangi oleh norma agama dan sosial, untuk melindungi kesehatan reproduksi pada anak-anak. Menjaga kespro adalah hal yang sangat penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa dan memberikan kesempatan untuk tumbuh tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial, ekonomi, harga diri dan keintiman. Sementara, reproduksi diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Sering kali reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Terhadap pemahaman ini, menempatkan banyak orangtua merasa tabu atau tidak nyaman membicarakan masalah tersebut dengan remaja. Padahal, makna dari kesehatan reproduksi, terutama pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Pengetahuan kespro wajib bagi remaja perempuan dan laki-laki. Edukasi kespro pada remaja, dapat dimaknai sebagai upaya memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kespro secara komprehensif. Sehingga, terbangun kesadaran untuk menjaga kesehatan sistim reproduksi dalam fungsi dan prosesnya, serta melindunginya dari tindakan yang berisiko buruk, baik secara fisik, maupun mental. Perilaku berisiko diakibatkan dari minimnya pengetahuan tentang kespro. Pengetahuan yang rendah disertai dengan kuatnya pengaruh teman sebaya pada usia remaja menjadikan remaja untuk mempunyai sikap dan perilaku seksual yang tidak sehat. Dampaknya, dapat mengakibatkan penyakit infeksi menular seksual, kehamilan usia muda dan aborsi, serta kematian ibu. Terhadap dampak perilaku berisiko, penting bagi remaja untuk memiliki pengetahuan yang tepat dan komprehensif terkait kespro dan cara menjaga kesehatannya. Dengan demikian diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Lantas pengetahuan apa saja yang perlu diketahui remaja? Dan, siapa saja yang bertangggungjawab dalam memberikan informasi?

Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, melalui program Pengembangan Remaja (Adolescent Development/AD) Sponsorship, telah melakukan survey ‘Tingkat Pengetahuan Peserta Didik Terkait Kespro’ (April, 2021), kepada 560 peserta didik (280 remaja perempuan dan 280 remaja laki-laki) dari jenjang pendidikan menengah pertama di 28 sekolah. Survey bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman remaja tentang kespro dan gender. Hasilnya, 76% atau 426 remaja putri dan putra memiliki pengetahuan yang rendah terkait isu kespro, seksualitas serta gender. Merujuk dari hasil survey, menunjukan bahwa rendahnya pemahaman remaja dapat memicu perilaku berisiko dan masalah lainnya dimasa mendatang. Terhadap hasil survey ini, tim AD Sponsorship telah mengembangkan dan membagikan media edukasi berupa 840 buku dan 196 poster berisikan pesan kespro dan gender kepada 560 anak di 28 SMP. Media dibuat secara sederhana, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh usia remaja dan dapat dipergunakan oleh remaja setiap harinya. Pesan dan informasi terkait kespro remaja, gender, dan dampak kehamilan usia remaja telah disisipkan pada masing-masing media yang ada.

Menurut Serliyati Gadi Rara (Project Officer AD) Stimulant Institute, dua bentuk KIE dipilih karena pelajar lebih sering mengakses kedua media tersebut, dan terkhusus untuk buku tulis rutin dibawa oleh peserta didik ke sekolah. Contohnya, saat remaja di sekolah mereka akan menjadi lebih sering memperhatikan dan membaca pesan melalui poster dan buku tulis yang disisipkan pesan dan informasi pada setiap halaman dan lembarannya.

Sementara untuk guru mata pelajaran IPA, IPS dan PJOK, intens mendapatkan coaching dari mentor AD melalui Lembaga Pendidikan. Coaching dan monitoring bertujuan untuk memantau informasi kespro yang telah diintegrasikan kedalam tiga mata pelajaran tersebut. Mengintegrasikan pesan kespro kedalam mata pelajaran secara tidak langsung telah mengedukasi peserta didik, ujar Serli.

Ditempat terpisah, Imelda Inna Kii, guru SMPN 2 Lamboya, memberikan pernyataan bahwa media KIE yang dibagikan oleh program Sponsorship sangat mengedukasi bagi warga sekolah terkhususnya peserta didik. Media berisikan pesan kespro, dapat membantu remaja untuk belajar mengenal diri, dan dapat menghidari dari perilaku-perilaku berisiko. Aktivitas program yang bermanfaat bagi remaja. Akan semakin baik jika diadopsi dan dilanjutkan oleh pemerintah melalui program-program bagi remaja, tegas Imelda.

Sementara, perwakilan siswi SMPN 2 Lamboya atas nama Agustina Haba (P, 12 tahun), berujar bahwa buku yang dibagikan oleh Stimulant banyak dengan gambar dan kalimat yang mudah dimengerti oleh remaja. Saya senang untuk membaca dan berharap, buku-buku seperti ini tidak saja dibagi kepada kami, tetapi dapat menjangkau banyak remaja lainnya di semua sekolah. Menurut saya, kami berhak mendapat materi atau informasi seperti ini, sehingga dapat mengubah pola pikir.

Atas pernyataan dan harapan yang disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa kespro bukan saja menjadi tanggungjawab remaja pribadi dan orangtua, melainkan peran dari pelaku kependidikan atau guru serta pemerintah. Guru perlu mengambil peran menginjeksi pemahaman yang benar dan komprehensif tentang kespro terhadap peserta didik yang ternyata diketahui tidak pernah dibekali pemahaman dari orangtua. Hal itu sebagai upaya menghindarkan peserta didik dari pemahaman dan perilaku keliru tentang kespro yang diperoleh lewat sumber-sumber sesat dan menjerumuskan. Karena menciptakan generasi sehat dan berkualitas adalah tanggung jawab bersama atau multi sector. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *