PENGGUNAAN BAHASA IBU DALAM PEMBELAJARAN KELAS AWAL ; ISU DAN PELUANG

Hasil penelitian oleh Global Education Monitoring yang ditunjuk UNESCO menemukan bahwa 40% populasi dunia mengakses pendidikan dengan Bahasa yang mereka tidak pahami. Dapat dibayangkan hasil dari sebuah proses pembelajaran menggunakan Bahasa pengantar yang tidak dipahami. Kondisi yang sama juga dialami oleh peserta didik di pulau sumba umumnya dan Sumba Barat khususnya. Fakta menunjukkan bahwa banyak peserta didik di puau ini yang sudah duduk di bangku kelas V maupun VI Sekolah Dasar memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang rendah. Hal ini karena pada kelas awal siswa dipaksa untuk belajar menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pengantar sedangkan pemahaman siswa tentang Bahasa Indonesiapun masih kurang.

Berangkat dari permasalahan ini, INOVASI sebagai sebuah NGO yang mengintervensi issue pengembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa menginisyasi penggunaan bahasa ibu pada pembelajaran kelas awal. Konsep penggunaan Bahasa ibu tidaklah sama dengan bahasa daerah, bahasa ibu menunjuk pada varian setempat yang dikuasai dan digunakan sebagai sarana komunikasi oleh manusia untuk pertama kalinya. Konsep ini sudah diterapkan di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat Daya dan dampaknya cukup signifikan dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Agar konsep ini benar-benar dipahami dan diimplentasikan di beberapa kabupaten se-provinsi NTT maka pada tanggal 24 Pebruari 2021 INOVASI menyelenggarakan Temu Inovasi NTT #1 dengan focus mendukung penyebarluasan pendekatan transisi bahasa yang mendukung pengembangan keterampilan literasi dasar siswa di kawasan perdesaan dan terpencil. Temu Inovasi dilaksanakan dengan tema “ Penggunaan Bahasa Ibu dalam Pembelajaran Kelas Awal : Isu dan Peluang.” Kegiatan ini diawali dengan sambutan pembukaan oleh Direktur Inovasi Mark Heyward, Kepala Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud Prof. Dr. Endang Aminudin Aziz, MA,Phd dan Sekretaris Daerah Provinsi NTT Ir. Benediktus Polo Maing dan menghadirkan narasumber dari pusat maupun provinsi NTT. Kegiatan ini dilakukan secara daring dan diikuti oleh seluruh pemangku kepentingan dan pemerhati pendidikan baik pusat, peovinsi maupun kabupaten. Untuk memperkuat pesan yang disampaikan maka kegiatan ini juga diisi dengan sharing tentang bagaimana bahasa ibu digunakan untuk membantu siswa memahami pembelajaran dan bertransisi ke bahasa Indonesia di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan terkait pentingnya penggunaan bahasa ibu pada kelas awal dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di pulau sumba.

Titus Diaz Liurai, S.Sos,MM Kepala Bappeda Sumba Barat pada momentum yang baik ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada INOVASI yang terus mendorong pengembangan literasi siswa melalui penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran kelas awal. Konsep ini diyakini memiliki daya ungkit yang kuat dalam meningkatkan prestasi siswa. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat siap mengadopsi dan mereplikasi konsep ini. Sebagai perencana, kami siap untuk memastikan bahwa konsep ini sudah terakomodir dalam dukumen perencanaan daerah karena kebetulan saat ini kami dalam proses penyusunan Dokumen RPJMD yang baru. Tinggal sekarang bagaiman kesiapan Dinas Pendidikan dan Para Guru sebagai garda terdepan dalam mengawal urusan pendidikan daerah dalam mengimplementasikan konsep ini. Karena berhasil tidaknya mengimplementasikan konsep ini sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru yang akan mengajar menggunakan Bahasa ibu serta prasarana pendukungnya seperti media pembelajaran dan lain-lain.

Akhirnya semua peserta berkomitmen untuk mendorong penggunaan Bahasa ibu dalam proses pembelajaran kelas awal karena selain meningkatkan prestasi belajar siswa juga ikhtiar melindungi bahasa ibu dari kepunahan. Mari kita lestarikan mutiara-mutiara warisan leluhur yang masih tersisa agar tetap bertahan dari hempasan gelombang moderenisasi saat ini.

Bagikan Informasi Ini