Kompetisi Pengembangan Media Kampanye, Mengedukasi Remaja Terkait Dampak Perilaku Berisiko

Waikabubak, 05 November 2021. Data statistik Kabupaten Sumba Barat Barat tahun 2020 menunjukkan, bahwa 20% atau 28.830 dari 145.097 jiwa merupakan penduduk berusia remaja (10 – 19 tahun), 13.767 anak perempuan dan 15.063 anak laki-laki.  Angka ini belum mengakomodir data anak usia dibawah 10 tahun. Namun dapat dipastikan bahwa 42,57% penduduk di Sumba Barat masuk dalam kategori usia anak. Persentase ini memberikan potret kepada kita bahwa ada setengah penduduk di wilayah administrasi ini membutuhkan perhatian dari multi pihak untuk mendukung pencapaian bonus demografi di tahun 2030.

Masa remaja merupakan fase dalam kehidupan seseorang mengalami perkembangan sebelum masuk usia dewasa. Pada fase ini, perubahan signifikan terjadi secara fisik, mental maupun sosial. Dan fase ini, remaja diperhadapkan pada pilihan untuk mulai belajar mencari tahu hal baru, belajar mengambil keputusan sendiri, serta yang tak kalah penting adalah mereka mulai mencari jati diri dan ingin diakui oleh sesama. Terkait perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja, perlu dukungan multi pihak.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung perkembangan remaja dan menghindari perilaku berisiko adalah dengan melibatkan remaja dalam kompetisi pengembangan media kampanye. Kompetisi media kampanye meliputi; video, cerita pendek dan karikatur (gambar). Ketiga media ini dapat menjadi bahan edukasi bagi para remaja. Kompetisi ini bertujuan untuk menyediakan ruang bagi anak dalam mengembangkan kreatifitas dimasa pandemi, membiasakan remaja terlibat dalam isu kesehatan reproduksi (kespro) dan gender, dan meningkatkan pemahaman dan kesadaran anak remaja dalam menghadapi isu-isu kespro dan gender. Hasil karya remaja, akan dinilai oleh perwakilan remaja bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sumba Barat.

Kompetisi media kampanye menargetkan para remaja dari 28 sekolah dampingan Sponsorship. Teknisnya, remaja diberikan keluasan untuk memilih satu dari tiga tema (kesehatan reproduksi, dampak pergaulan bebas, dan gender). Selain itu, remaja diberikan keluasan dalam mengembangkan tema, seperti video, gambar atau cerita pendek. Selama 60 hari, kompetisi ini telah digaungkan kepada remaja target. Hasilnya, 9 peserta didik, terpilih sebagai pemenang kompetisi.

Kategori Video: juara I, Adelin Bili (SMP Negeri 2 Lamboya), Juara 2, Azarya Erents Bili (SMP Negeri 2 Wanukaka), dan Juara 3, Tri Putri Jenita Kani (SMP Negeri 1 Lamboya). Kategori Cerita Pendek; Juara 1, Amelia Yaku Bida (SMP Kristen Wanukaka), Juara 2, Aurea Asrinina Nedia Denga (SMP Negeri 6 Loli), dan Juara 3, Indryan Ayuwati Buningani (SMP Negeri 4 Loli)

Kategori Gambar/ karikatur; Juara 1, Mita Lara Nadin Ayu (MTs Negeri Sumba Barat), Juara 2, Yohanes Malo (SMP Katholik Waikabubak), dan Juara 3, Yosua Baiya (SMP Negeri 3 Lamboya).

Menurut Risky Fanggidae, Project Assistant Program Pengembangan Remaja), hasil kompetisi remaja ini dapat bisa dijadikan bahan kampanye dan sosialisasi pada sasaran remaja yang lebih luas. Lebih lanjut Risky mengatakan bahwa pengembangan konten dan materi lomba sangat konteksual dengan budaya Sumba. Sebagai contoh, bahwa content yang dibuat menggunakan Bahasa Indonesia dengan kearifan local dan latar belakang disesuaikan dengan kondisi Sumba. Menurut saya, ini sangat membantu audiens untuk memahami pesan yang termuat didalamnya.

Pada tempat yang berbeda, Adelin Bili (salah satu peserta kompetisi) mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan kesempatan kepada remaja untuk kreatif dan mandiri dalam mencari informasi terkait kespro dan gender baik melalui guru, media internet dan referensi lain yang bisa dijadikan sumber informasi.

Hal senada disampaikan oleh Melda Manafe selaku kepala seksi pemenuhan hak anak Dinas P3A. Beliau melihat sebagian besar remaja di Sumba Barat saat ini sudah melek IT. Kemampuan remaja dalam mengakses berbagai informasi dan kontent melalui internet tanpa melalui proses filter ini perlu menjadi perhatian bersama. Tidak jarang kita melihat banyak remaja dengan pola pikir dan perilaku melebihi dari usia mereka. Menyikapi hal ini, remaja membutuhkan orang-orang yang bisa mengarahkan dan mendampingi mereka pada kegiatan yang membangun salah satunya mengikutsertakan mereka dalam kegiatan kompetisi ini. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *