Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI di Kabupaten Sumba Barat

Rabu, 13 Juli 2022 di Kawasan Hutan Lindung Poronumbu, Desa Kareka Nduku Selatan, Kec. Tana Righu,

Karekanduku Selatan,
Dalam sambutannya Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH mengatakan Sebagai insan yang beriman, marilah kita panjatkan puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas tuntunan dan penyertaanNya, kita diperkenankan untuk menghadiri Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI di Kabupaten Sumba Barat pada hari ini.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bersama seluruh masyarakat Sumba Barat, kami ucapkan selamat datang kepada Anggota Komisi IV DPR RI dan seluruh rombongan di tanah Pada Eweta Manda Elu. Kiranya kunjungan ini juga dapat membawa berkat dan semangat bagi daerah dan seluruh rakyat Sumba Barat guna mewujudkan Sumba Barat yang “Maju, Berdaya Saing dan Berkeadilan”.
Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI di Kabupaten Sumba Barat hari ini berkaitan dengan Perdagangan Ilegal Jenis Burung Dilindungi serta Pemulihan Ekosistem dan Kawasan Hutan di Pulau Sumba. Terkait dengan hal tersebut dapat saya sampaikan gambaran mengenai kawasan hutan di Kabupaten Sumba Barat pada khususnya.
Luas kawasan hutan Kabupaten Sumba Barat seluas 7.526,52 Ha atau 13,93% dari luas daratan wilayah Kabupaten Sumba Barat. Kerusakan kawasan hutan yang terjadi di wilayah Sumba Barat terutama disebabkan karena illegal loging, pembabatan hutan yang tidak bertanggungjawab, sistem perladangan berpindah-pindah dan adanya keinginan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jangka pendek yang menimbulkan keinginan untuk mengeksploitasi hasil hutan secara berlebihan sehingga merusak sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Kondisi tersebut mengancam kelestarian dan mengarah pada kepunahan 70 jenis tumbuhan yang merupakan habitat asli serta 9 jenis burung langka yang ada. Meningkatnya kerusakan hutan juga merupakan salah satu implikasi dari pengalihan kewenangan urusan bidang kehutanan dari pemerintah Kabupaten ke pemerintah Provinsi yang mengakibatkan kurang efektif dan efisiennya pelaksanaan urusan pemerintahan yang berkaitan dengan kehutanan, baik dari segi sumber daya manusia yang ditempatkan atau diperbantukan, juga dari segi penganggarannya.
Di Kabupaten Sumba Barat terdapat kawasan hutan lindung seluas 1.190,85 Ha yang meliputi: 1) Kawasan Hutan Poronumbu seluas 1.142,06 Ha yang tersebar di Kecamatan Tana Righu dan Kecamatan Loli; 2) Kawasan Hutan Rangga Dongu seluas 48,79 Ha yang tersebar di Desa Sobarade, Kecamatan Kota Waikabubak dan Desa Beradolu Kecamatan Loli dan Kabupaten Sumba Tengah.
Kita ketahui bersama bahwa hutan lindung yang merupakan tempat tinggal berbagai burung endemik, selama beberapa dekade terakhir mengalami deforestasi dan penurunan kualitas hutan di pulau Sumba yang mengakibatkan penurunan keragaman ekosistem hingga penurunan populasi burung endemik. Penurunan populasi burung endemik juga diakibatkan oleh adanya perburuan dan perdagangan ilegal. Selama beberapa tahun terakhir terdapat sejumlah kasus penyelundupan burung yang dilindungi dari Sumba ke luar Sumba yang terjadi, beberapa berhasil digagalkan oleh pihak yang berwenang. Hal ini menjadi isu penting yang perlu menjadi perhatian kita bersama demi mendukung konservasi keanekaragaman hayati spesies-spesies burung yang dilindungi di Pulau Sumba.
Secara tidak langsung ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi di kawasan hutan, mengakibatkan terjadinya hama belalang yang menyerang kawasan di Pulau Sumba, termasuk Kabupaten Sumba Barat. Hama belalang tersebut menyerang pada saat Musim Tanam II Tahun 2022. Adanya serangan hama belalang di Kabupaten Sumba Barat cukup menyebabkan banyak kerugian dan dapat mengancam ketahanan pangan di Kabupaten Sumba Barat. Belalang kembara menyerang sejumlah desa di Kecamatan Loli dan Tana Righu dengan cakupan seluas 342 Ha. Dari luas wilayah yang terserang, pengendalian hanya dapat dilakukan pada 24 Ha lahan, dikarenakan keterbatasan peralatan pengendalian belalang kembara yang tersedia pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat.
Sektor pertanian juga merupakan sektor strategis yang berperan sebagai mesin penggerak perekonomian di Kabupaten Sumba Barat. Perhatian Komisi IV DPR RI kepada Kabupaten Sumba Barat kami rasakan dengan adanya sejumlah bantuan yang telah kami terima sejak tahun 2021 melalui aspirasi Anggota Komisi IV DPR RI, Bapak Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si yakni : peremajaan tanaman jambu mente seluas 100 Ha, penyediaan handtraktor sebanyak 5 unit, rehab jaringan irigasi tersier sebanyak 3 unit, penyediaan combine harvester sebanyak 1 unit, penyediaan handsprayer sebanyak 10 buah, penyediaan unit pengelola pupuk organik sebanyak 2 unit dan peremajaan tanaman kelapa seluas 100 Ha. Untuk itu, atas nama Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Sumba Barat, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.
Tidak lupa pula melalui kesempatan yang berbahagia ini saya juga ingin menyampaikan beberapa harapan – harapan masyarakat Sumba barat terkait dengan permohonan Sarana dan Prasarana Pertanian di Kabupaten Sumba Barat antara lain terkait dengan Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian (Traktor Besar, Hand Traktor, Perontok Multi Guna, Mesin Potong Padi, Pompa Air dan Lain-lain), Peningkatan Pembangunan Sarana dan Prasarana (Pembangunan/Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier, Pembangunan Embung pertanian, Pembangunan Sumur Tanah Dalam dan dangkal, Jalan Usaha Tani dan Lain-lain) serta Pembangun/ renovasi Balai Penyuluh Pertanian di beberapa Kecamatan di Kabupaten Sumba Barat.
Untuk di bidang perikanan Sumba Barat berpotensi untuk mengembangkan ikan air tawar seperti ikan nila, gurame, ikan mas, dan ikan lele. Oleh karena itu melalui kesempatan ini, besar harapan kami agar dapat diberikan bantuan indukan – indukan unggul sebagai benih, karena indukan yang ada sekarang di balai benih sudah tua dan kurang produktif. Kami juga memohon bantuan kapal dan alat tangkap ikan, cumi dan gurita. Serta juga yang tidak kalah penting terkait dengan pegembangan rumput laut di wilayah utara Kecamatan Tanarighu.

Saya juga ingin menyampaikan gambaran mengenai peternakan di Kabupaten Sumba Barat. Kabupaten Sumba Barat memiliki potensi yang besar untuk pengembangan peternakan. Pada tahun 2021, populasi ternak besar yang paling banyak di Kabupaten Sumba Barat adalah kerbau dengan jumlah 7.191 ekor. Selain kerbau, ternak besar unggulan Sumba Barat yakni kuda dengan populasi mencapai 2.781 ekor dan sapi dengan populasi mencapai 1.478 ekor pada tahun 2021. Selain ternak besar, ternak kecil yang terdapat di daerah ini yakni kambing sejumlah 5.813 ekor, babi 3.347 ekor serta unggas yakni ayam buras sejumlah 197.659 ekor, ayam pedaging sejumlah 59.680 ekor dan itik sejumlah 4.883 ekor.
Adapun kondisi terkait kesehatan hewan ternak di Kabupaten Sumba Barat dapat saya sampaikan bahwa masih terjadi penyakit hewan seperti penyakit Surra dan ASF. Penyakit Surra masih terjadi di Kecamatan Wanukaka, Lamboya, Loli dan Kota Waikabubak dengan jumlah kasus sebanyak 42 kasus dan berpotensi meningkat, mengingat lalu lintas antar Kabupaten yang sering terjadi, terutama lalu lintas dengan Kabupaten Sumba Timur dimana penyakit Surra saat ini sedang mengalami peningkatan. Penanganan penyakit Surra masih mengalami keterbatasan dalam penyediaan obat penyakit Surra.
Lebih lanjut, penyakit ASF pada ternak babi untuk saat ini sudah mulai terkendali dengan adanya penetapan bio security yang baik. Namun, dengan masih adanya sejumlah kasus ASF, pemerintah daerah tetap berupaya memberikan perhatian agar kasus ASF tidak merebak seperti pada tahun sebelumnya. Penanganan kasus ASF juga mengalami kendala yakni belum adanya vaksin untuk pengendalian ASF serta belum adanya serum untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh ternak babi yang tersedia dan keterbatasan vitamin dan obat-obatan lainnya. Sehingga kami mengharapkan bantuan obat – obatan, vaksin, maupun serum untuk penanganan – penanganan permasalahan penyakit hewan/ternak di Kabupaten Sumba Barat.
Saat ini juga terjadi ancaman wabah Penyakit Kuku dan Mulut di Indonesia, yang juga menjadi ancaman bagi NTT dan Sumba Barat. Walaupun saat ini belum ada kasus PMK, penting sekali untuk melakukan pengawasan lalu lintas ternak di wilayah Sumba Barat. Untuk itu, telah dilaksanakan Rapat Koordinasi Penanganan Penyakit Kuku dan Mulut sebagai langkah antisipasi pencegahan dan penanganan PMK, yang berkerja sama dengan Kodim 1613 Sumba Barat dan Polres Sumba Barat.
Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan ternak sapi sejumlah 20 ekor (1 kelompok), kambing 50 ekor (2 kelompok) dan ayam 500 ekor (1 kelompok) melalui Dana Aspirasi Anggota Komisi IV DPR RI, Bapak Yohanis Fransiskus Lema,S.IP,M.Si. Besar harapan kami, adanya tambahan bantuan – bantuan ternak seperti pengembangan ternak sapi berjumlah 300 ekor, ternak kambing 300 ekor, ternak babi 600 ekor dan ternak ayam jenis KUB 6000 ekor, jenis pedaging 12.000 ekor dan jenis joper 12.000 ekor yang tersebar di 6 Kecamatan Kabupaten Sumba Barat. Dan hal yang tidak kalah penting juga, melalui kesempatan ini saya sampaikan bahwa di Kabupaten Sumba Barat terdapat atraksi Pasola sebagai produk Pariwisata di Kabupaten Sumba Barat, maka kami mengharapkan adanya bantuan ternak Kuda Pasola di 3 Kecamatan yang melaksanakan ritual adat pasola sebanyak 60 ekor. Semoga peternakan dapat menjadi sektor unggulan Sumba Barat di masa depan yang mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah ini.

Atas nama Pemerintah dan masyarakat Sumba Barat, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kunjungan yang dilakukan di daerah kami ini. Sumba Barat masih dipenuhi dengan berbagai kekurangan, kiranya Bapak/Ibu Dewan Yang Terhormat dapat memberikan arahan maupun petunjuk, dan kiranya dimaafkan segala kekurangan yang ditemui selama kunjungan di daerah ini.
Turut hadir dalam kegiatan ini :
Anggota Komisi IV DPR RI
Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Rehabilitasi Hutan;
Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan;
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Genetik;
Kepala Balai GAKKUM Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara;
Wakil Bupati Sumba Barat;
Pimpinan DPRD Kabupaten Sumba Barat;
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat;
Para Staf Ahli Bupati dan Asisten Sekda;
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT;
Para Kepala Perangkat Daerah/Unit Kerja se-Kabupaten Sumba Barat;
Kepala UPT KPH Wilayah Sumba Barat;
Para Camat se-Kabupaten Sumba Barat;
Kelompok Masyarakat Pelaksana Kegiatan RHL;
Insan Pers.
Dalam kegiatan ini juga dilakukan tanya jawab dari perwakilan masyarakat antara lain :
Kepala Desa Karekanduku Selatan Kecamatan Tana Righu
Ketua Penghayat Marapu Wilayah Adat Tambera Watulamu Desa Dokakaka Kecamatan Loli
Perwakilan Kelompok Tani
Kelompok Tani Harapan Sama.
Dengan pertanyaan – pertanyaan yaitu sebagai berikut :
Perbaikan jaringan pipanisasi;
Parolisasi sapi;
Pengembangan Pembibitan dan indukan ikan air tawar;
Rehabilitasi sumber matair dan perbaikan jaringan mata air;
Alat pemecah kemiri;
Anjloknya harga jahe;
Alat untuk mengolah hasil – hasil hutan menjadi jamu dan olahan lainnya.
Pertayaan – pertanyaan tersebut diatas ditanggapi oleh Ketua Tim Komisi IV DPR – RI, Perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup dan Ketua Dekranasda Provinsi NTT :
Untuk rehabilitasi hutan setiap tahun disediakan 20.000 anakan serta dari KLHK, untuk tahun 2021 telah disalurkan dan akan dicek kembali apakah pembagiannya tepat sasaran;
Pembibitan ikan dan indukan per tahun 1 juta ekor;
Untuk pembagian sapi per kelompok 20 ekor dibagi untuk 2 Kabupaten;
Untuk pipanisasi dan irigasi kewenangannya berada di Komisi V;
Sumba Barat untuk rehabilitasi hutan 200 ha dan penetuan lokasi bisa berkoordinasi dengan melalui program Kebun Bibit Rakyat, tanam dan pelihara;
Apabila masyarakat melihat adanya illegal logging harus segera melaporkan melalui UPT – UPT terdekat demi melindungi hutan;
Produk – produk lokal dapat dikirimkan ke Dekranasda Provinsi dan akan dilakukan uji di Balai Pom Provinsi dengan dibiayai oleh Dekranasda dan akan dijadikan produk unggulan.

Kegiatan ini ditutup dengan penanaman bersama tanaman kehutanan dan foto bersama.

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *