Mengintegrasikan Pesan Kespro dalam Diskusi Forum MGMP
Facebook
Twitter
WhatsApp

www.sumbabaratkab.go.id Waikabubak, 22 Mei 2023. Untuk memperkuat pesan edukasi kesehatan reproduksi (Kespro) kepada remaja ditingkat sekolah, telah dilakukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang mengintegrasikan Kespro pada 3 mata pelajaran; IPA, IPS dan PJOK pada jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tiga mata pelajaran telah diintegrasikan dalam Kurikulum Terpadu Peduli Remaja (KTPR) sebagai upaya untuk memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja. Sebuah pendekatan yang sudah berjalan sejak tahun 2018 sampai dengan saat ini. KTPR terpantau melalui penguatan kapasitas guru dan manajemen sekolah, pembinaan dan pendampingan guru, dan pendekatan MGMP. Ditingkat komunitas dilakukan melalui posyandu remaja dan diskusi Bina Keluarga Remaja (BKR).

Pertemuan MGMP (8-9/5), merupakan program Kerjasama Stimulant Institute dari divisi Adolelescent Development bersama Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga (DPKO). Kepala Dinas PKO Lobu Ori S. Pd, M. Pd, dalam sambutannya, menghimbau kepada semua Kepala Sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam MGMP dengan mendorong guru menerapkan KTPR disekolah. “MGMP sebagai wadah diskusi rekan se – profesi untuk meningkatkan kapasitas dan membantu sekolah mengatasi masalah yang sering terjadi yaitu kehamilan remaja disekolah. Peserta didik harus dibekali dengan informasi yang benar dan tepat tentang kespro, sehingga tidak terjerumus dalam hal – hal yang belum pantas mereka lakukan”. Pihaknya memberikan apresiasi kepada mitra yang miliki kepedulian terhadap kesehatan dan pendidikan anak – anak di Sumba Barat.  Mengakhiri perbincangan beliau menegaskan bahwa “semua remaja dapat dijangkau, jika ada kolaborasi lintas sektor”.

Pertemuan MGMP melibatkan 101 tenaga pendidik dari 28 SMP intervensi. Fokus diskusi pada isu gender, sistem reproduksi dan pubertas. Menurut salah satu peserta (P) pertemuan menyebutkan bahwa tantangan penerapan KTPR disekolah adalah terbatasnya media pembelajaran dan waktu. “terbatasnya anggaran menyebabkan kami tidak dapat menyediakan media edukasi kespro. Selain itu, guru merasa terbebani dengan ditambahnya materi kespro dalam kurikulum“.

Menangapi pernyataan peserta, Susana Nisa Paubun Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Waikabubak sekaligus mentor KTPR menegaskan bahwa KTPR mendorong guru untuk kreatif membuat media sebagai bahan ajar kespro. Menciptakan media pembelajaran dapat menggunakan sisa bahan ajar seperti  dus bekas, buffalo, spidol, perekat dan didukung dengan gambar dari internet. Sebagai guru, kita tidak bisa hanya berharap pada anggaran sekolah, namun perlu mensupport diri sendiri saat menjalankan tugas. Keberhasilan kita dapat dilihat dari capaian peserta didik”, ujar tegas Susan.

Diakhir pertemuan, peserta menghimbau kepada Dinas Pendidikan untuk mengalokasikan anggaran pengadaan bahan yang dapat digunakan dalam mengembangkan media pembelajaran. Dukungan anggaran dan media membantu guru maksimal dalam menerapkan KTPR di sekolah. (PSI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top