News

PETANI DAPAT TUJUH UNIT PERONTOK MULTIGUNA DAN DUA UNIT TRAKTOR TANGAN, BUPATI SUMBA BARAT: BERKAT KERJASAMA PEMDA DAN BERBAGAI PIHAK

Demikian pernyataan Bupati Sumba Barat, Johanis Dade, SH, dalam acara penyerahan bantuan Kementrian Pertanian berupa 7 unit perontok multiguna dan 2 unit traktor tangan kepada 7 Kelompok Tani di ruang pertemuan Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat, Jumat 22 Oktober 2021. Tujuh kelompok tani penerima bantuan ini adalah: Kelompok Tani Puu Kapaka dan Mila Ate dari Desa Tebara, Kelompok Tani Harapan Jaya, Desa Karakandoku, Kelompok Tani Loko Weemesi, Desa Diratana, Kelompok Tani Ege Ate, Desa Welibo, dan Kelompok Tani Ngora Wuji dan Mehang Ngalu, Desa Laboya Bawa.

“Bantuan ini ada berkat kerjasama dan komunikasi Pemerintah Daerah dengan DPRI. Pak Herman Herry sangat membantu. Juga demikian Kementrian Pertanian yang mengapresiasi Pemda yang proaktif melakukan komunikasi,” tegas Johanis Dade, yang berharap masyarakat dapat memanfaatkan serta memelihara dengan baik bantuan yang diberikan. Pemerintah akan terus berusaha agar semua masyarakat dapat terlayani kebutuhan peralatan dan fasilitas pertanian lainnya.  “Setiap petani harus memiliki akses ke traktor. Sumba Barat Harus Bangkit. Musrenbang harus dapat menampung usulan-usulan kegiatan yang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemda akan memaksimalkan dana APBD dan desa-desa juga harus dapat menangani kegiatan serupa,” lanjut Yohanis. Sumur bor, irigasi, cekdam dan embung juga akan  diperhatikan Pemda. Dari hasil tinjauan banyak cekdam dan embung yang mubazir. Beliau berharap agar Sumba Barat dapat mencontoh Kupang dan Jawa yang telah berhasil memanfaatkan pola irigasi yang lebih baik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat,  Ir. Amos R. Dida, mengatakan hal yang sama bahwa terkadang petani tidak begitu getol mengusulkan apa yang harus menjadi P1 untuk kebutuhan mereka dan beliau mengharapkan agar desa-desa dapat lebih menampung aspirasi petani. Pihaknya terus mengedukasi masyarakat agar dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan Pemerintah dan lebih terlibat lagi dalam menyampaikan usulan-usulan P1 yang merupakan kebutuhan mereka yang mendesak.

TIM DKIPS OK

 

Bagikan Informasi Ini

Sponsorship dan Gerakan Literasi

Waikabubak, 15 Oktober 2021. Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan sumber daya manusia dan taraf kehidupan bangsa. Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa itu sendiri. Salah satu hal yang paling berpengaruh dalam pendidikan adalah literasi peserta didik. Literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di Lembaga Pendidikan, dan akan sangat baik jika dimulai sejak usia dini.  Melalui kegiatan literasi, akan membiasakan anak-anak untuk membaca dan menambah informasi bagi siswa. Manfaat lainnya dapat memupuk minat dan bakat dalam diri peserta didik. Semuanya dapat tercapai jika mendapat dukungan dari semua pihak, orangtua, masyarakat dan pemerintah.

Menanamkan budaya literasi kepada anak-anak, tidaklah segampang membalik telapak tangan. Selain Lembaga Pendidikan, diperlukan dukungan dan peran serta dari masyarakat dan orangtua. Masyarakat berperan menyediakan akses bacaan kepada anak, sementara orangtua membentuk budaya literasi anak dari dalam rumah. Salah satu peran orangtua di rumah adalah mendampingi anak belajar, namun tidak semua orangtua memiliki pengetahuan yang sama. Kondisi ini dipengaruhi oleh keterbatasan dari berbagai aspek, antara lain; ekonomi, waktu, pendidikan, dan lain sebagainya.  Untuk mencapai kemampuan literasi terbaik anak, diperlukan program yang dapat menggerakan percepatan literasi bagi anak. Gerakan untuk mendukung percepatan literasi anak, dengan menyediakan perpustakaan, pojok baca atau pos baca dan lomba literasi.

Program Basic Education (Pendidikan Dasar/BE) Sponsorship yang dilaksanakan oleh Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, telah melaksanakan tiga kegiatan yang dapat mendukung percepatan literasi. Aktivitas ini dilakukan ditingkat sekolah dan komunitas. Kegiatan berbasis sekolah, meliputi pengembangan perpustakaan, pelatihan duta baca dan lomba literasi, sementara pos baca berbasis komunitas diperuntukan bagi anak-anak yang belum mampu membaca dan menulis, dengan pendampingan dari para relawan. Lomba literasi dapat dilakukan seperti; menulis, menggambar, membaca dan sebagainya.  Untuk dapat menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik, perlu memperhatikan; lingkungan yang nyaman, empati dari semua pihak, rasa memiliki dan mencintai atas apa yang akan dilakukan, komunikasi dan kontribusi kepada lingkungan, dan melibatkan semua warga sekolah. Sejak tahun 2020, Sponsorship telah menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik SD. Dan kegiatan ini, terus berlanjut hingga tahun 2021.

Tahun 2021, 54% atau 49 dari 91 SD, di kabupaten Sumba Barat dengan total 1410 peserta didik terlibat dalam perlombaan ini. Hasil karya anak akan didokumentasikan dalam bentuk buku, dan didistribusikan ke Lembaga Pendidikan, pos baca dan perpustakaan daerah.

‘Kami menyelenggarakan lomba literasi bagi peserta didik SD, karena situasi pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak sekolah ditutup sementara anak-anak membutuhkan aktivitas yang dapat mendukung kemampuan literasi mereka, ujar Adriana Loru (Koordinator Program BE, 15/10).

Menurut Adri, situasi pandemi, telah mempengaruhi hasil belajar anak, dan ini terjadi di semua wilayah. Tentunya anak-anak membutuhkan kegiatan yang dapat mendukung peningkatan literasi. Upaya yang kami lakukan sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan minat baca dan belajar anak. Bagi kami, dengan berkarya anak belajar dengan belajar dapat meningkatkan kualitas Pendidikan. Dasar ini yang memicu kami untuk melakukan gerakan literasi, tegas Adri.

Anak-anak adalah investasi bagi orangtuanya dan bangsa. Anak yang berkepribadian baik tidak saja membuat bahagia orangtuanya, tetapi akan berperan dalam membangun bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orangtua adalah membentuk budaya literasi anak. Budaya literasi anak tidak cukup diupayakan dengan program gerakan literasi, namun gerakan literasi sebaiknya dimulai dari rumah. Gerakan literasi membutuhkan dukungan dari banyak pihak, yang dapat menyediakan akses dan fasilitas yang mendukung literasi anak. (PSI, RED)

 

 

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

Dukung Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Media Edukasi

Waikabubak, 14 Oktober 2021. Kesehatan Reproduksi (kespro) merupakan suatu hal yang harus bersifat kooperatif dari berbagai aspek seperti diri sendiri, pihak orangtua, sekolah dan lingkungan masyarakat. Selain itu, harus diimbangi oleh norma agama dan sosial, untuk melindungi kesehatan reproduksi pada anak-anak. Menjaga kespro adalah hal yang sangat penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa dan memberikan kesempatan untuk tumbuh tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial, ekonomi, harga diri dan keintiman. Sementara, reproduksi diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Sering kali reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Terhadap pemahaman ini, menempatkan banyak orangtua merasa tabu atau tidak nyaman membicarakan masalah tersebut dengan remaja. Padahal, makna dari kesehatan reproduksi, terutama pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Pengetahuan kespro wajib bagi remaja perempuan dan laki-laki. Edukasi kespro pada remaja, dapat dimaknai sebagai upaya memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kespro secara komprehensif. Sehingga, terbangun kesadaran untuk menjaga kesehatan sistim reproduksi dalam fungsi dan prosesnya, serta melindunginya dari tindakan yang berisiko buruk, baik secara fisik, maupun mental. Perilaku berisiko diakibatkan dari minimnya pengetahuan tentang kespro. Pengetahuan yang rendah disertai dengan kuatnya pengaruh teman sebaya pada usia remaja menjadikan remaja untuk mempunyai sikap dan perilaku seksual yang tidak sehat. Dampaknya, dapat mengakibatkan penyakit infeksi menular seksual, kehamilan usia muda dan aborsi, serta kematian ibu. Terhadap dampak perilaku berisiko, penting bagi remaja untuk memiliki pengetahuan yang tepat dan komprehensif terkait kespro dan cara menjaga kesehatannya. Dengan demikian diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Lantas pengetahuan apa saja yang perlu diketahui remaja? Dan, siapa saja yang bertangggungjawab dalam memberikan informasi?

Stimulant Institute mitra Yayasan Save the Children, melalui program Pengembangan Remaja (Adolescent Development/AD) Sponsorship, telah melakukan survey ‘Tingkat Pengetahuan Peserta Didik Terkait Kespro’ (April, 2021), kepada 560 peserta didik (280 remaja perempuan dan 280 remaja laki-laki) dari jenjang pendidikan menengah pertama di 28 sekolah. Survey bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman remaja tentang kespro dan gender. Hasilnya, 76% atau 426 remaja putri dan putra memiliki pengetahuan yang rendah terkait isu kespro, seksualitas serta gender. Merujuk dari hasil survey, menunjukan bahwa rendahnya pemahaman remaja dapat memicu perilaku berisiko dan masalah lainnya dimasa mendatang. Terhadap hasil survey ini, tim AD Sponsorship telah mengembangkan dan membagikan media edukasi berupa 840 buku dan 196 poster berisikan pesan kespro dan gender kepada 560 anak di 28 SMP. Media dibuat secara sederhana, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh usia remaja dan dapat dipergunakan oleh remaja setiap harinya. Pesan dan informasi terkait kespro remaja, gender, dan dampak kehamilan usia remaja telah disisipkan pada masing-masing media yang ada.

Menurut Serliyati Gadi Rara (Project Officer AD) Stimulant Institute, dua bentuk KIE dipilih karena pelajar lebih sering mengakses kedua media tersebut, dan terkhusus untuk buku tulis rutin dibawa oleh peserta didik ke sekolah. Contohnya, saat remaja di sekolah mereka akan menjadi lebih sering memperhatikan dan membaca pesan melalui poster dan buku tulis yang disisipkan pesan dan informasi pada setiap halaman dan lembarannya.

Sementara untuk guru mata pelajaran IPA, IPS dan PJOK, intens mendapatkan coaching dari mentor AD melalui Lembaga Pendidikan. Coaching dan monitoring bertujuan untuk memantau informasi kespro yang telah diintegrasikan kedalam tiga mata pelajaran tersebut. Mengintegrasikan pesan kespro kedalam mata pelajaran secara tidak langsung telah mengedukasi peserta didik, ujar Serli.

Ditempat terpisah, Imelda Inna Kii, guru SMPN 2 Lamboya, memberikan pernyataan bahwa media KIE yang dibagikan oleh program Sponsorship sangat mengedukasi bagi warga sekolah terkhususnya peserta didik. Media berisikan pesan kespro, dapat membantu remaja untuk belajar mengenal diri, dan dapat menghidari dari perilaku-perilaku berisiko. Aktivitas program yang bermanfaat bagi remaja. Akan semakin baik jika diadopsi dan dilanjutkan oleh pemerintah melalui program-program bagi remaja, tegas Imelda.

Sementara, perwakilan siswi SMPN 2 Lamboya atas nama Agustina Haba (P, 12 tahun), berujar bahwa buku yang dibagikan oleh Stimulant banyak dengan gambar dan kalimat yang mudah dimengerti oleh remaja. Saya senang untuk membaca dan berharap, buku-buku seperti ini tidak saja dibagi kepada kami, tetapi dapat menjangkau banyak remaja lainnya di semua sekolah. Menurut saya, kami berhak mendapat materi atau informasi seperti ini, sehingga dapat mengubah pola pikir.

Atas pernyataan dan harapan yang disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa kespro bukan saja menjadi tanggungjawab remaja pribadi dan orangtua, melainkan peran dari pelaku kependidikan atau guru serta pemerintah. Guru perlu mengambil peran menginjeksi pemahaman yang benar dan komprehensif tentang kespro terhadap peserta didik yang ternyata diketahui tidak pernah dibekali pemahaman dari orangtua. Hal itu sebagai upaya menghindarkan peserta didik dari pemahaman dan perilaku keliru tentang kespro yang diperoleh lewat sumber-sumber sesat dan menjerumuskan. Karena menciptakan generasi sehat dan berkualitas adalah tanggung jawab bersama atau multi sector. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini

SUMBA BARAT CAPAI HAMPIR 50% TARGET 101.000 PENERIMA VAKSIN

Antrian panjang siswa-siswi SMP dan SMA antusias menunggu giliran masuk lewat pintu gerbang SMAN 1 Waikabubak sejak pagi hari, Selasa 12 Oktober 2021. Di dalam lingkungan sekolahpun sudah terdapat puluhan siswa-siswi yang duduk menunggu pemeriksaan dokumen sebelum menuju Aula tempat mereka akan menerima vaksin. Kali ini penataan alur masuk penerima vaksi sangat tertib. Tidak ada lagi suasana kerumunan di di Aula SMAN Waikabubak seperti sebelumnya. Menurut Kasie Surveilance and Imunisasi Dinas Kesehatan, Endang Tatik Magawati, alur peserta vaksi memang ditata sedemikian rupa agar tertib dan menyenangkan selain memenuhi protokol kesehatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat, Agustinus Rabilla, yang mengkoordinasi kegiatan ini bekerja sama dengan TNI, mengatakan bahwa terkadang jumlah peserta yang datang melebihi target dan pihaknya telah menyiapkan cadangan untuk mengantisipasi keadaan tersebut. Dari sekian kali kegiatan vaksinasi yang dilakukan, tidak pernah jumlah peserta di bawah target. Kali ini Dinkes menyiapkan vaksin untuk 1500 peserta berusia 14 tahun sampai dengan 18 tahun atau usia pelajar SMP dan SMA.  Jenis vaksin yang diberikan adalah Cinovac dan Astrazeneca. Dari 70% atau 101.000 ribu target penerima vaksin di Kabupaten Sumba Barat, sudah 43.000 orang yang terlayani. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat terus giat melaksanakan vaksinasi sesuai ketersediaan vaksin yang sangat bergantung dari suplai Pemerintah Propinsi.

Ditanyakan mengenai kemungkinan adanya masyarakat menerima Vaksi Nusantara, Agus maupun Endang mengatakan belum ada kepastian.

Bagi masyarakat yang ingin menerima vaksin dapat menghubungi puskesmas-puskesmas setempat bahkan Kantor-kantor polisi untuk mendaftar. Vaksinasi tidak dapat dilakukan hanya untuk beberapa orang tetapi untuk jumlah yang memadai.

Tim DKIPS Sumba Barat OK

Bagikan Informasi Ini