Sepi Tamu Akibat Covid 19, Pemilik Musa Homestay Beralih Potong Padi

Patiyala Bawa, 19 Juni 2020. Dampak Covid 19 terhadap pariwisata tak dapat dipungkiri sangatlah besar. Menurut Kepala Biro Komunikasi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, seperti dilansir dari Detikcom tanggal 20 April lalu, menurunnya anka kunjungan wisata akibat pandemi Covid 19 telah mengakibatkan hilangnya separuh dari devisa pariwisata Indonesia pada tahun ini. Tentunya hal ini berarti bahwa penyumbang devisa subsektor ini, yakni industri pariwisata mengalami penurunan pendapatan secara drastis dengan sebagian terpaksa menghentikan operasinya sama sekali sehingga sudah jelas kehilangan pendapatan.

Walaupun belum terhitung berapa besar kerugiannya, subsektor pariwisata Sumba Barat, baik usaha akomodasi, perjalanan wisata maupun obyek-obyek wisata, sama seperti pada daerah-daerah lain di Indonesia, sangat terpukul akibat pandemi ini. Salah satu usaha wisata akomodasi yang merasakan sengat Covid 19 adalah Musa Homestay.

Musa Homestay berlokasi di pinggir Pantai Kerewei, Desa Patiyala Bawa, Kecamatan Lamboya, Sumba Barat, sekitar 37 km atau 1 jam perjalanan dari Kota Waikabubak dan  70 km dari Bandara Tambolaka.  Penginapan sederhana yang sudah mendunia ini dimiliki oleh seorang putra daerah bernama Mussa Mati Pati. Terdapat 7 kamar yang dapat detempati 2 orang dengan harga kamar Rp 300,000 sampai Rp 400,000 semalam dengan tiga kali makan. Empat kamar memiliki kamar mandi dalam.

Terdapat sebuah pendopo untuk tamu dan pengunjung pantai yang ingin minum dan makan mie instant sambil menikmati udara segar dari pohon kelapa yang menghiasi pinggiran pantai Kerewei yang sangat indah dan bersih.

I Stayed at Musa Homestay for couple nights!
Everything was without any problem. Musa and his family is very friendly and helpful.
We didnt need to ask anything, everything was privided to us and we didnt even had to think about it. Would definitely come back again to meet this nice people and place!!
Greg & Lukas TripAdvisor


Banyak aktivitas yang dapat dilakukan di tempat ini seperti berdua dan hiking sepanjang pantai pasir putihnya yang sangat panjang, sunbathing, berenang dan berbagai aktivitas air lainnya. Pada sore hari, penduduk setempat mencari ikan menjelang Sun Set yang sangat indah. Di pantai ini pula persiapan Pasola dilaksanakan, mulai dari ritual adat, Pajura, sebuah olahraga tinju tradisional, serta pertandingan pemasan peserta Pasola sebelum peserta menuju, Hoba Kala, tempat pentas puncak Festival Pasola, yang diselenggarala setiap tahun pada bulan Januari, Februari dan Maret di Kabupaten Sumba Barat.  Beberapa menit dari akomodasi ini juga teradapat Pantai Watu Bela dan Marosi yang juga sangat memukau, Di samping itu, kurang dari satu km meter dari tempat ini, terdapat pula Kampung Adat Waru Wora, yang masih sangat orisinil.

Masih banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan pengunjung yang menginap di tempat ini yang membuatnya cukup popular di mata wisatawan domestik maupun  asing. Oleh karena itu, masa-masa sebelum Covid 19 merupakan masa-masa yang indah penuh impian bagi sang pemilik homestay ini untuk mengembangkan usahanya.  Saat kunjungan kami, Musa, tidak berada di tempat, kerena sedang Potong Padi di sawah milik keluarga besar. Istrinya mengatakan hal itu terpaksa dilakukan karena tidak ada pendapatan lain bagi keluarga selain dari wisatawan yang berkunjung ke tempatnya.  Padahal, sebelum Covid 19, keluarga telah merencanakan untuk memperbaiki dan mengembangkan fasilitas penginapan yang dimiliki. “Kami berencana mendapatkan alang baru untuk rumah-rumah yang ada saat ini, namun rencana itu terpaksa kami batalkan karena situasi sekarang ini. Tidak ada lagi pemasukan, karena tidak ada tamu. Suami saya terpaksa mengikuti ajakan kuluarganya untuk memotong padi agar kami punya makan. Lumayan, , satu tengah bulan ini, kami mendapat tiga karung padi”, ujar istrinya.  Namu demikian sang istri berkata mereka memiliki iman bahwa Tuhan pasti akan buka jalan dan Covid 19 akan segera berakhir sehingga usaha mereka dapat kembali berjalan seperti dulu bahkan jauh lebih baik. “Kami juga mohon perhatian pemerintah agar beberapa ruas jalan menuju lokasi wisata ini dapat diperbaiki”, tambah sang istri pada saat kami hendak meninggalkan lokasi. RED.DKIPS.

Bagi pembaca berencana mengunjungi tempat ini dapat menghubungi Musa di nomor di bawah ini

 

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *