SOP Penggunaan Aplikasi Waliku Membantu Dinas Teknis dan Tenaga Kependidikan Memantau Tingkat Ketidakhadiran Peserta Didik


Waikabubak, 30 Juni 2022. Salah satu upaya memantau ketidakhadiran peserta didik dalam ruang kelas dilakukan melalui aplikasi berbasis website. Kendalanya, jika pengguna tidak mengikuti tahapan sesuai menu pada website atau aplikasi, maka hasilnya tentunya belum sesuai dengan yang diharapkan. Kita membutuhkan dokumen petunjuk teknis penggunaan aplikasi berbasis online, demikian pernyataan Sekretaris Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (DPKO) dalam pertemuan penyusunan Standar Operasional Prosedural (SOP) Penggunaan Aplikasi Waliku di Resto Tanakato (30/6).

Pertemuan penyusunan SOP Penggunaan Aplikasi Waliku, dihadiri oleh, Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas Kesehatan, Sekretaris DPKO, kepala Bidang P2TK, Kepala Puskesmas, Dokter Puskesmas, operator Waliku DPKO serta tim Waliku Stimulant Institute.

Pengembangan SOP penggunaan aplikasi Waliku sebagai upaya untuk memberikan panduan teknis kepada guru kelas, operator sekolah, pengelola UKS Puskesmas dan operator Dinas PKO untuk memantau ketidakhadiran peserta didik, tegas Yehuda Malorung. Adanya SOP, selain sebagai petunjuk tenis, dapat menginterasikan layanan pendidikan dan kesehatan dalam lingkungan sekolah. Panduan teknis ini akan membantu 34 sekolah pengguna aplikasi Waliku dan 3 Puskesmas untuk bekerja sama menangani ketidakhadiran peserta didik dengan alasan kesehatan, jelas Yehuda.

Ditempat yang sama, dr. Bonar Sinaga M.Kes selaku kepala Dinas Kesehatan, menegaskan bahwa pihaknya dalam hal ini rekan-rekan di Puskesmas, akan mengambil bagian dalam penggunaan aplikasi Waliku. Aplikasi Waliku merupakan aplikasi berbasis website yang berintegrasi antar pihak sekolah, orang tua siswa, dan Puskesmas. Aplikasi ini berguna untuk mencatat serta melakukan tanggap darurat terhadap siswa yang tidak masuk sekolah karena alasan sakit. Pengembangan aplikasi ini pertama kali dilakukan oleh save the Children dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat melalui Dinas PKO. Aplikasi ini dapat membantu pelaku kependidikan melakukan pemantauan ketidakhadiran peserta didik secara rutin, sekaligus memantau perkembangan kesehatan peserta didik, ujar dr. Bonar.

Tim Waliku Stimulant Institute, Yoseph Patrisius Nanu menyatakan penyusunan SOP mempermudah kita dalam penggunaan aplikasi sehari-hari. SOP akan menyesuaikan dengan content pada aplikasi Waliku. Terdapat empat fungsi utama yaitu 1) Waliku Class mencatat absensi harian dan alasan ketidak hadiran siswa, 2) Waliku Admin, mendata absensi kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik secara harian, 3) Waliku Clinic, membantu pengelola Unit Kesehatan Sekolah (UKS) melakukan penanganan bagi peserta didik dengan kondisi sakit, dan 4) Waliku Triage, digunakan untuk merujukan peserta didik ke fasilitas Kesehatan. Jika semua tahapan dalam SOP dapat digunakan oleh guru kelas dan operator sekolah, maka dipastikan penggunaan dan pemantauan absensi peserta didik dapat berjalan dengan baik. Sekaligus membantu Bank Data peserta didik pada Dinas PKO, jelas Patrik.

PIC UKS Puskesmas Kabukarudi, drg. Theofani Mutiasari, menyarankan untuk mengembangkan 5 SOP penggunaan aplikasi Waliku, yaitu SOP Induk, SOP Waliku Class, SOP Waliku Admin, SOP Waliku Clinic dan SOP Waliku Triage. Mengapa perlu SOP Induk? Sebagai panduan teknis umum penggunaan semua aplikasi pada Waliku. Setiap SOP memberikan informasi penggunaan aplikasi tersebut, jelas Fany.

Pasca penyusunan dan pembahasan SOP penggunaan aplikasi Waliku, akan dikomunikasikan lebih lanjut dengan Bagian Hukum Setda Sumba Barat, guna memastikan materi dan kaidah penulisan tidak bertentangan dengan aturan hukum. Hal ini untuk menghindari persoalan dikemudian hari. Direncanakan penyelesaian dokumen SOP, akan dilakukan pada minggu kedua Juli 2022. (PSI,Red)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *