Sosialisasi dan Penguatan Refferal Sistem Bagi Kelompok Peduli Anak

Waikabubak|| 27 April 2021. Setiap anak berhak mendapat perlindungan dari perlakukan diskriminasi, eksploitasi (ekonomi dan seksual), penelantaran, kekejaman dan kekerasan. Perlindungan ini diperoleh dari semua pihak tak terkecuali orangtua. Perlakukan yang tidak diinginkan oleh anak, terus terjadi peningkatan. Peningkatan korban dan kasus kekerasan terhadap anak. Kasus kekerasan yang dialami oleh anak, diperoleh dari lingkungan keluarga dan luar keluarga. Maraknya kekerasan pada anak umumnya disebabkan oleh; pertama, rendahnya pengetahuan orang tua dan lingkungan terdekat anak mengenai dampak kekerasan terhadap anak. Dampaknya, anak akan mengalami trauma fisik dan psikis, berpotensi menjadi pelaku tindak kekerasan ketika usia dewasa.  Kedua, penerapan mekanisme perlindungan dan pelaporan kasus kekerasan terhadap anak berbasis desa belum dilakukan secara maksimal.  Mekanisme atau referral system dapat digunakan oleh masyarakat untuk melapor, namun biasanya masih enggan melaporkan pelaku kekerasan, karena pelaku merupakan orang terdekat bahkan kerabat. Jikapun ada pelaporan, itupun kebanyakan sudah pada level yang parah sehingga penanganan menjadi amat kompleks. Ketiga, belum terintegrasi Lembaga perlindungan anak desa dan pemerintah desa. Komunikasi dan koordinasi kelompok peduli anak (KPA) desa belum berjalan dengan maksimal. KPA merupakan kelompok masyarakat bertanggung jawab merespons kasus perlindungan anak. Untuk itu, KPA dan pemerintah desa perlu bekerjasama memberikan respon kepada anak yang menjadi korban kekerasan dan perlu mendapat perhatian serta penanganan secara khusus. Penanganan korban melibatkan orangtua, keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Meningkatnya kasus kekerasan yang dialami oleh anak di area dampak program, mengharuskan mitra strategis dan pelaksana perlu berkolaborasi untuk melakukan aksi menyadarkan kelompok masyarakat, terkait pentingnya referral system dan dampak kekerasan yang dialami oleh anak.

Untuk mencegah peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, perlu startegi dalam menangani. Strategi yang dilakukan harus mampu mencegah dan menangani tindak kekerasan. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar strategi yang dilakukan berjalan secara holistik dan komprehensif.

Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sumba Barat, melaksanakan sosialisasi dan penguatan referral system kepada pemerintah dan KPA desa. Kegiatan ini bertujuan untuk; 1) mendorong para aktor di komunitas untuk pro-aktif menyelenggarakan kegiatan penguatan system rujukan dan perlindungan anak di desa, 2) mendorong isu perlindungan anak menjadi perhatian di desa sehingga ada dukungan dana desa untuk kegiatan perlindungan anak; dan 3) memastikan berjalannya sistem rujukan (sistem pelaporan kasus kekerasan terhadap anak) di desa. System pelaporan kasus terhadap anak, dipisah sesuai kategori kekerasan, sehingga proses penanganan akan disesuai dengan tupoksi dari sector terkait. Kategori disepakati menjadi tiga bagian, yaitu; ringan, sedang dan berat. Untuk penanganan kategori ringan ditangani di tingkat desa dengan penyelesaian kekeluargaan atau perdata, kategori sedang ditangani di tingkat desa dan melibatkan Dinas Sosial  dan Dinas P3A, dan untuk kategori berat ditangani oleh PPA Polres, Dinas Sosial dan P3A.

Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak bulan Maret dan akan berlangsung hingga bulan Mei 2021. Duapuluh (20) desa menjadi target sosialisasi kegiatan. Desa tersebut adalah; Baliledo, Gaura, Kalebu Anakaka, Kareka Nduku Utara, Malata, Watukarere, Zalakadu, Kareka Nduku, Manu Mada, Hupumada, Lingu Lango, Kabukarudi, Praibakul, Harona Kalla, Manola, Ringu Rara, Bondo Tera, Wee Patola, Manukuku, dan Patiala Bawa. Pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan KPA desa menjadi peserta dalam kegiatan ini. Mereka adalah aktor – aktor yang diharapkan mampu memberikan informasi dan menerapkan mekanisme system rujukan di komunitas.

Perwakilan Dinas P3A, Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, Jacklien S.Bara Pa, menegaskan bahwa referral system sangat penting bagi perlindungan anak. Pemerintah desa wajib memiliki referral system sebagai acuan untuk menanggani kasus kekerasan terhadap anak. Untuk kasus tertentu dalam hal ini, kekerasan fisik dan seksual pada anak, wajib dilaporkan. Hindari penyelesaian secara kekeluargaan, karena hal ini sangat merugikan anak. Kelemahan orangtua dan pemerintah setempat, adalah mengabaikan pendapat anak sebagai korban. Seharusnya, diskusi dan tanyakan pendapat anak yang mengalami kekerasan. Sebagai orangtua atau orang dewasa, wajib mendengarkan suara anak. Perlu diketahui secara bersama, bahwa anak yang mengalami kekerasan akan mengalami trauma, dan terbawa hingga anak tersebut dewasa. Jangan prioritaskan penanganan terhadap pelaku, tetapi bagaimana mendampingi anak sebagai korban.

Pernyataan yang sama disampaikan oleh Magdalena Bulu, Kepala Seksi Anak dari Dinas Sosial. Pemerintah mengharapkan agar masyarakat dapat memaksimalkan referral system yang ada, untuk memberikan informasi perlakuan tidak menyenangkan yang dialami oleh anak. Mekanisme pelaporan dilakukan sesuai konteks atau permasalahan yang dihadapi. Masyarakat harus berani memberikan atas persoalan yang dialami oleh anak. Respon tersebut akan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berwewenang, dalam hal ini Dinas Sosial, DP3A dan PPA Polres.

Kepala desa Hupumada, Anderias R. Wadda, memberikan pernyataan bahwa sejak adanya KPA dan pendampingan dari Save the Children dan Stimulant, dengan melakukan sosialisasi di dusun-dusun, kasus kekerasan terhadap anak sudah berkurang khususnya yang bersifat exploitasi. Sebelumnya, ketika musim kerja sawah anak dibawa oleh orang tua untuk bantu kerja sawah. Dengan demikian anak tidak bisa ke sekolah. Dengan sosialisasi yang sering dilakukan oleh KPA, perlahan-lahan eksploitasi anak mulai berkurang. Orangtua mulai sadar bahwa anak harus ke sekolah untuk mendapat Pendidikan.

Semua upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan mitra sebagai gerakan untuk melindungi anak. Melindungi dari semua tindakan kekerasana dan eksploitasi. Upaya untuk mengajak dan mendorong semua pihak membentuk ekosistem yang baik untuk anak-anak. Caranya, dengan mendorong kesadaran masyarakat memaksimalkan mekanisme referral system yang telah ada dan selanjutnya berkontribusi untuk turut menjaga dan melindungi anak-anak.  Apabila dilakukan secara rutin dan berjenjang maka dapat membentuk pembangunan karakter dalam keluarga dan komunitas. Keluarag dan komunitas, sebagai lingkungan terdekat anak harus menjadi pelindung bagi anak-anak dari berbagai risiko.  Meminimalkan risiko-risiko perlakukan yang tidak menyenangkan kepada anak, membantu membentuk dan membangun masa depan generasi penerus bangsa. (PSI, RED)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *