Supportif Supervisi Memperkuat Kualitas Pelayanan dan Mengoptimalkan Standar Sistem Kesehatan

Waikabubak, 29 Maret 2021. Kematian anak usia 0-5 tahun masih merupakan masalah utama. Secara global, 5,9 % anak dibawah usia 5 tahun masih meninggal setiap tahunnya. Namun, penyebab dari kematian ini, sebenarnya dapat dicegah atau diobati, misalnya dengan: Pneumonia, Diare dan Malaria. Selain itu, kondisi berisiko yang mengancam kehidupan anak usia 0-5 tahun adalah pada awal kehidupannya. Saat ini, angka kematian bayi baru lahir (28 hari pertama kehidupan) mencapai 45 %. Selain itu, ada kesenjangan antara penduduk desa dan kota, rendahnya kualitas layanan kesehatan, rendahnya pengetahuan dan akses orangtua dan pengasuh akan informasi kesehatan ibu dan anak, kurangnya nutrisi pada anak, turut menyumbang pada kematian anak.

Metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) telah dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1997 melalui kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO), United Nations Children’s Fund (UNICEF), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). MTBS bukan merupakan program kesehatan, tetapi suatu standar pelayanan dan tata laksana dalam menangani balita sakit yang datang ke pelayanan kesehatan tingkat dasar (puskesmas). Penerapan MTBS meliputi tiga komponen utama, yaitu peningkatan keterampilan petugas kesehatan, peningkatan dukungan sistem kesehatan, serta peningkatan praktik keluarga dan masyarakat dalam perawatan balita sakit di rumah. Puskesmas dikatakan telah menerapkan MTBS apabila telah melaksanakan pendekatan MTBS minimal 60% dari jumlah kunjungan balita di puskesmas tersebut.

Di Sumba Barat sendiri telah dilakukan upaya untuk mendekatkan layanan MTBS dengan mengkapasitasi tenaga kesehatan seperti dokter, bidan dan perawat di 10 puskesmas serta kader posyandu untuk pelatihan MTBS-M (berbasis masyarakat). Untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, bayi dan balita serta masyarakat maka sangat perlu mengaktifkan sistim layanan MTBS di Puskesmas dan MTBS-M, agar masyarakat juga terlibat aktif melakukan pencegahan, penanganan dan perlindungan kepada ibu hamil, bayi dan balita dalam suatu keterpaduan penanganan yang saling berinteraksi dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan amanat Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat. Amanat Permenkes ini mengharuskan agar setiap Puskesmas harus ada sistem layanan MTBS atau Kelompok Kerja yang secara aktif memberikan pelayanan, pencatatan, penanganan dan pelaporan terkait penanganan balita sakit.

Pada tahun 2018-2019, atas kerja sama Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang dan Poltekes Kemenkes Kupang telah mendukung Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dalam menyediakan fasilitator untuk melatih MTBS.  Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) mitra Save the Children melalui program Maternal Newborn Child Health and Nutrition (MNCHN) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Sumba Barat, melaksanakan pelatihan Suportif Supervisi dengan sasaran Staf Dinas Kesehatan dan Dokter umum Puskemas yang telah mendapat pelatihan MTBS. Pelatihan ini bertujuan untuk; 1) meningkatkan ketrampilan staf Dinas Kesehatan dan Dokter Puskesmas tentang suportif supervisi, 2) meningkatkan kualitas nakes dalam melakukan tata laksana MTBS di Puskesmas, 3) menghasilkan monitoring yang berkualitas, dan 4) staf Dinas Kesehatan dan Dokter Puskesmas dapat melakukan supervisi kepada petugas MTBS di 10 Puskesmas kabupaten Sumba Barat. Suportif Supervisi merupakan proses untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan yang akan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah serta mengoptimalkan standar sistem kesehatan. Salah satu kunci keberhasilan penerapan MTBS adalah kepatuhan petugas dalam melakukan pemeriksaan balita sakit dengan mengikuti standar yang telah ditentukan. Kepatuhan petugas dalam tata laksana MTBS sangat penting, sehingga balita yang sakit tidak hanya didiagnosis menurut keluhan tetapi dapat didiagnosis secara menyeluruh.

Bertempat di aula sekolah luar biasa (SLB) Waikabubak, kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat, Dokter Bonar Sinaga M,Kes. Dalam sambutannya beliau menyampaikan kepada peserta bahwa secara teknis suportif supervise dapat dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten. Tenaga kesehatan yang dilibatkan dalam pelatihan ini, diharapkan mampu memberikan supervisi yang  berkualitas kepada tenaga kesehatan. Selama ini Stimulant Institute dan Save the Children mempunyai kepedulian kepada Pemerintah Daerah. Kepedulian diberikan dalam bentuk dukungan dalam melaksanakan program. Kegiatan yang harusnya dilakukan oleh pemerintah daerah, disupport oleh Stimulant dan Save the Children. Jika kita dukung, maka sudah saatnya kita menerima dan melakukan pekerjaan ini dari hati. Saya percaya bahwa setiap niat baik pasti ada solusi. Ketika suatu pekerjaan dilakukan dari hati maka hasilnya akan berdampak pada kehidupan orang banyak, terutama anak-anak kita.

Peserta pelatihan merupakan staf Dinas Kesehatan dan dokter umum Puskesmas, berjumlah 10 orang (1 laki-laki dan 9 perempuan). Orpa Diana Suek, S.Kep, Ns., MKep, Sp.Kep.An (Poltekes kemenkes Kupang) dan Agnes Raro, S.Tr., Keb (Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang) menjadi fasilitator dalam pelatihan ini. Target pelatihan dilakukan selama empat hari, dimulai dari tanggal 29 Maret sampai 1 April 2021. Menurut Agnes Raro, MTBS penting dan wajib diketahui oleh tenaga kesehatan. Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam melakukan identifikasi kasus kesakitan pada bayi muda dan balita. Hasil identifikasi membantu tenaga kesehatan untuk memberikan tindakan yang tepat sesuai kondisi anak. Tindakan yang tepat, dapat meminimalkan kasus kematian pada anak.

Pelayanan MTBS dapat terjadi jika masyarakat mampu mengakes fasilitas kesehatan terdekat, dalam hal ini Puskesmas. Keberhasilan MTBS, dilihat dari 60% jumlah kunjungan balita di Puskesmas. Untuk mendukung keberhasilan MTBS, membutuhkan dukungan semua pihak terutama keluarga. (PSI Red)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *