Tinjau Pengadaan 7 Unit Mesin Panen Taka Tech Buatan Bandung, Bupati Sumba Barat: Jangan Tunggu Petani Daftar ke Dinas Baru Dapat Pelayanan

Waikabubak | Senin, 11 April 2022, Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, SH meninjau pengadaan sebanyak 7 unit mesin pemanen padi merek Taka Tech Canggorang T3500 P produksi dalam negeri. Pengadaan mesin-mesin yang bersumber dari dana DAK sebanyak 2 unit dan 5 unit berasal dari dana DAK ini untuk memenuhi kebutuhan pemanenan sekitar 9500 ha lahan padi irigasi dan tadah hujan di Kabupaten Sumba Barat. Dalam bincang ringan bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan, Ir. Amos R. Dida bersama jajarannya serta para tenaga kontrak pengemudi, Bupati menghimbau agar masyarakat yang membutuhkan pelayanan pemanenan padi tidak harus mendaftar ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan harus bersifat proaktif di mana dinas aktif mencari masyarakat target pelayanan. Pemda akan berusaha memenuhi kebutuhan operator yang masih kurang karena kebijakan Pemerintah Pusat menghentikan tenaga kontrak daerah dan juga penyediaan tempat parkir atau garasi untuk ke-7 unit Combine Harvester yang diadakan.

Mesin pemanen Combine Harvester buatan Bandung ini berfungsi antara lain: memotong tanaman yang masih berdiri,  menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder, merontokkan gabah dari tangkai atau batang, memisahkan gabah dari jerami dan Membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing. Dari diskusi dan pengamatan Tim DKIPS dilapangan, para petani merasa bahwa penggunaan mesin ini sangat menghemat biaya dan waktu panen. Bapa Yuni, salah satu petani yang memiliki beberapa hektar lahan di Kelurahan Pada Eweta mengatakan bahwa mesin serupa yang ia pakai sebelumnya dapat memanen 1 hektar dalam maksimal 2 – 4 jam atau rata-rata 3,2 jam per hektar. Tentu ini sangat tergantung bentuk dan kondisi lahan. Hamparan yang rata dan tidak berair biasanya akan butuh waktu lebih singkat dibanding dengan sawah yang berpetak-petak dan berair. Selain itu juga, salah seorang petani yang ditemui saat panen, mengatakan bahwa biasanya mereka mengeluarkan dana sebesar 3 – 4 juta per hektar untuk menyewa pekerja. Dengan biaya sewa hanya Rp 1.5 juta per hektar, maka pengehematan rata-rata di atas 50% per hektarnya.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Weru Raddi Kaka Ora, S.P yang bersama Kepala Bidang dan staf yang membidangi kegiatan ini, ditemui Tim di ruang kerja sekretaris, mengatakan bahwa tahun ini Sumba Barat menyewa Combine Harvester dari Sumba Tengah karena dari 4 mesin yang dimiliki dinasnya saat ini, hanya 2 unit yang dapat digunakan. Dua lainnya rusak akibat penggunaan sejak tahun 2018, waktu pengadaannya. Weru mengatakan bahwa masih banyak unit yang diperlukan untuk kebutuhan panen padi di Sumba Barat. Dinasnya berharap agar kedepannya dimungkinkan agar mesin yang harga per unitnya mencapai lebih dari Rp 400 juta ini dapat disediakan bersama mekanisme perawatannya sehingga dapat selalu operasional mengingat kondisi medan di Sumba Barat yang cukup sulit. Bupati dalam penyampain sebelumnya juga mengatakan bahwa akan ditambah unit Combine Harvester di tahun-tahun yang akan datang. Dengan demikian, bertambahnya jumlah unit pemanen ini ke depan akan disertai pemeliharaan yang memadai.

Penggunaan teknologi ini sangat membantu para petani namun juga kemungkinan akan berdampak signifikan terhadapat tradisi panen yang merupakan atraksi budaya yang menarik. Menanggapai hal ini Weru menyatakan bahwa ada sawah-sawah dan ladang yang tidak dapat dipanen secara modern dan sawah-sawah pamali ini akan tetap dilestarikan untuk mempertahankan tradisi panen di Sumba Barat.

Bagi masyarakat yang ingin mendapat pelayanan dapat menghubungi Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat, Marthen Pada Dengo, S.E. dengan nomor WA 082 216 905 572. DKIPS OK

 

 

 

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *