Training of Trainer Pertolongan Pertama Kepada Staff Pengelola Usaha Kesehatan Sekolah di Puskesmas dan Guru Sekolah Dasar

Pelatihan Pertolongan Pertama adalah pelatihan untuk  memberikan pembekalan bagi siapa saja yang tidak termasuk dalam kategori petugas medis. Tujuan dari pelatihan pertolongan pertama adalah agar setiap orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang medis mampu untuk melakukan pertolongan pertama pada korban yang mengalami kasus kegawatdaruratan di lokasi kejadian. Kasus kegawatdaruratan tersebut mencakup henti jantung, henti nafas, perdarahan, patah tulang, pingsan, dan kasus kegawatdaruratan medis lainnya. Selain itu, Pertolongan Pertama diperlukan dalam lingkungan kerja dan juga Lembaga Pendidikan. Hal ini untuk mencegah risiko terjadinya kecelakaan kerja dan kecelakaan saat beraktivitas. Kecelakaan yang terjadi, dapat mengancam nyawa manusia. Situasi ini perlu diminimalisir dengan memberikan penguatan kapasitas bagi staff terkait pertolongan pertama.

Berbicara terkait kecelakaan pada saat beraktivitas dan penyakit-penyakit, khususnya pada anak-anak saat kegiatan belajar mengajar. Sekolah perlu memiliki kesiapan terkait kejadian cedera dan sakit mendadak pada anak selama jam sekolah. Perlu kerjasama dari semua pihak yaitu sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk memastikan kegiatan pertolongan pertama terselenggara dengan baik. Program Sponsorship melalui Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) bersama Save the Children mendukung Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat dengan menyelenggarakan pelatihan Training of Trainer (TOT) Pertolongan Pertama kepada staff pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Puskesmas dan Guru SD. TOT bertujuan untuk memastikan seluruh partisipan memiliki kemampuan/pengetahuan  terkait First Aid dan memperkuat layanan UKS yang sudah ada di Sekolah.

Bertempat di SDN Tabulo Dara, pelatihan TOT dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat, Dokter Bonar Sinaga. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada Stimulant Institute dan Save the Children yang terus berupaya memberikan penguatan kapasitas kepada staff Puskesmas dan para Guru. Dalam situasi pandemi Covid-19 kedua Lembaga ini tetap komitmen melakukan program pemenuhan hak anak-anak. Untuk ibu/bapak peserta TOT, harus fokus mengikuti pelatihan hingga selesai sehingga dapat menguasi materi dengan baik. Peserta yang telah dilatih akan menjadi Master Trainer P3K bagi guru-guru UKS di Puskesmas dampingan. Oleh karena itu, ibu/bapak harus mengetahui jumlah sekolah dampingan di masing-masing Puskesmas. Kami akan ingatkan kepada Kepala Puskesmas, untuk tidak mengganti pengelola UKS yang telah dilatih, agar materi yang telah diperoleh tetap berkelanjutan. Untuk para Kepala Puskesmas, harus memberi perhatian kepada staff yang telah dilatih, sebab mereka akan memfasilitasi kegiatan pada tingkat sekolah dasar (SD).

TOT dilaksanakan selama tiga hari, dimulai pada tanggal 28 – 31 Mei 2021 dengan metode offline atau tatap muka. Peserta yang dilibatkan berjumlah 12 orang (5 perempuan dan 12 laki-laki), merupakan perwakilan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan pengelola UKS dari 10 Puskesmas. 17% atau 2 dari 12 peserta telah mengikuti pelatihan di tahun 2019, sedangkan 10 peserta baru pertama kali mengikuti pelatihan. Nina Herlina selaku dokter umum di Rumah Sakit Umum Daerah Waikabubak (RSUD) dan Luqman Indra Purnama Spesialist School Health and Nutrition (SHN) Save the Children menjadi fasilitator dalam pelatihan TOT.

Dengan komposisi peserta yang variative, maka metode brainstorming dan roleplay dipilih oleh fasilitator untuk menyampaikan materi. Materi yang dibagikan kepada peserta merupakan materi dasar yang wajib diberlakukan dalam pertolongan pertama. Materi tersebut adalah; a) dasar manajemen pertolongan pertama di sekolah, b) dasar tubuh manusia berkaitan dengan kondisi darurat, c) Pengenalan Bantuan Hidup Dasar (BHD), dan d) pengertian tanda dan gejala dalam kedaruratan medis. Istilah medis dan kesiapan pengelola UKS dalam melaksanakan pertolongan pertama menjadi topik utama diskusi. Sekalipun pengelola UKS background Pendidikan kesehatan, masih awam dengan istilah-istilah dalam pertolongan pertama. Dua metode pelatihan yang digunakan oleh fasilitator memberikan dampak perubahan pada pengetahuan peserta. Ditunjukan dari hasil pre dan post test peserta dengan kenaikan diatas 80%. Perubahan yang cukup significant dari sebuah pelatihan.

Dominggus Kariam (perwakilan PMI) menyatakan bahwa ‘saya pernah mendapat pelatihan ini ditahun 2019, namun pelatihan tahun 2021 lebih detail dan terarah. Tidak semua orang berkesempatan mendapat pelatihan ini, untuk kami yang telah dilatih menjadi fasilitator P3K harus bisa membagi informasi kepada Guru pengelola UKS di SD.’

Dokter Nina Herlina, turut menyampaikan pendapatnya terkait pelaksanaan TOT Pertolongan Pertama. Beliau menyebutkan bahwa kegiatan P3K membawa dampak untuk sekolah-sekolah di Sumba Barat. Penanganan pertama pada penyakit-penyakit yang mungkin mendadak terjadi di sekolah bisa ditangani pertama kali oleh guru UKS. Peluang terjadinya risiko bisa terjadi di lingkungan sekolah, dan terjadi pada anak. Melalui UKS, bisa membantu guru melakukan penanganan pertama pada penyakit.’

Setelah pelatihan TOT, peserta mendapat predikat sebagai fasilitator, dan selanjutnya akan melakukan pelatihan kepada guru-guru UKS di SD. Stimulant Institute akan berkoordinasi dengan fasilitator untuk jadwal pelatihan kepada guru-guru UKS. (PSI RED)

Bagikan Informasi Ini

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *