Author: DKIPS

Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Pneumonia Bagi Aparatur Desa

 Dalam rangka mengimplementasikan Gerakan Nasional Stop Penumonia di Kabupaten Sumba Barat, Pemerintah Daerah bekerja sama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) dan Stimulant Institut melaksanakan Sosialisasi Penumonia, Pencatatan dan Pelaporan Posyandu dan Penggunaan Kunjungan Rumah bagi aparatur desa. Sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 27 November 2020 di Ruang Rapat Bupati Sumba Barat.

Perwakilan YSTC, Silvester Nusa dalam sapaan pembukaan menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memberikan pencerahan dan pemahaman kepada aparatur desa terkait bahaya pneumonia sehingga dengan pemahaman ini aparatur pemerintah desa yang merupakan garda terdepan untuk mengajak keluarga-keluarga untuk bekerja sama saling mendukung untuk memastikan pencegahan dan perlindungan anak dari pneumonia.

Kepala Bappeda Kabupaten Sumba Barat, Titus Diaz Liurai, S.Sos, MM dalam sapaan pembukaan menyampaikan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau yang disebut Sustainablity Development Goal (SDG) dan salah satu tujuan berbicara tentang kesehatan yaitu tujuan ke 3 : Menjamin Kehidupan Sehat dan Mendukung Kesejahteraan Bagi Semua di Segala Usia. Untuk mengelaborasi tujuan SDG ini maka dalam dukumen RPJMD Kabupaten Sumba Barat Tahun 2016-2021 bahkan dalam Rancangan Teknokratik RPJMD Kabupaten Sumba Barat 2021-2026 salah satu isu strategis yang menjadi focus perhatian kedepan adalah peningkatan derajad kesehatan masyarakat. Hal ini karena aspek kesehatan merupakan salah satu komposit pembentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan indicator untuk menilai kemajuan suatu daerah. Aspek kesehatan yang berkontribusi terhadap IPM dapat dilihat dalam perkembangan Usia Harapan Hidup (UHH) dari tahun ke tahun. Data menunjukkan bahwa UHH Kabupaten Sumba Barat tahun 2017 sebesar 66,20 tahun meningkat pada tahun 2018 menjadi 66,58 tahun dan meningkat lagi pada tahun 2019 menjadi 66, 98 tahun. Secara trent memang meningkat tetapi sesungguhnya data ini menunjukkan bahwa kualitas kesehatan kesehatan di Kabupaten Sumba Barat masing sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor antara lain masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi dan Balita (AKB), masih tingginya angka stunting, masih tingginya prevelensi gizi buruk dan masih tingginya angka kesakitan masyarakat. Angka kesakitan tertinggi adalah penyakit malaria sekitar 2000 lebih kasus pertahun diikuti dengan pneumonia sebanyak 1078 kasus sepanjang tahun 2019 dan penyakit lainnya seperti ispa, diare dan lain-lain.

Titus menambahkan bahwa pneumonia merupakan pembunuh anak balita nomor 1 di dunia yaitu 2000 kasus perhari, khusus untuk Indonesia tahun 2018 terdapat 4/1000 kelahiran hidup. Artinya dalam setiap 1000 kelahiran hidup, terdapat 4 orang balita yang meninggal karena pneumonia. Karena itu di akhir sapaanya, Titus mengajak seluruh beserta agar bekerja sama, bahu membahu untuk mencegah pneumonia untuk menyelamatkan generasi-generasi penerus bangsa.

Pjs. Bupati Sumba Barat Drs. Semuel D. Pakereng, M.Si melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Imanuel M. Anie, M.Si menegaskan bahwa penyakit pneumonia adalah penyakit yang serius sehingga butuh penanganan yang serius pula. Terdapat tiga kerangka global dalam upaya penanganan pneumonia yaitu: Pertama, perlindungan, melalui pemberian ASI eksklusif dan asupan gizi; Kedua, pencegahan melalui imunisasi seperti campak, diphteri-pertusis tetanus (DPT), Haemophilus influezae tipe B, Praktek PHBS, menghindari polusi di dalam  rumah, tidak merokok, dan rajin mencuci tangan dengan air mengalir; Ketiga, seperti akses terhadap layanan kesehatan dan deteksi dini di tingkat keluarga.

Pjs. Bupati Sumba Barat juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada YSTC dan Stimulant Institut yang memfasilitas kegiatan yang sangan penting dan strategis ini. Pada kesempatan ini juga Pjs. Bupati menyampaikan rasa bangga dan salut kepada seluruh Kepala Desa di Kabupaten Sumba Barat yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap masalah kesehatan ibu dan anak. Dari telaah terhadap 33 dokumen APBDesa tahun 2020 diketahui pemerintah desa mengalokasikan anggaran untuk kesehatan ibu dan anak sebesar Rp. 8.099.534.661,-, untuk pneumonia sebesar Rp. 663.285.853,-, Bina Keluarga Balita Rp. 819.073.900, dan pemenuhan hak disabilitas sebesar Rp. 4.700.000,-. Di akhir sambutannya Pjs. Menghimbau seluruh kepala desa agar kepedulian yang telah ditunjukkan ini terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat, Drg. Bonar Sinaga, M.Kes sebagai salah satu narasumber menyampaikan bahwa penyebab pneumonia adalah bakteri, virus, jamur dan mikroba lainnya yang menginfeksi yang selanjutnya membuat peradangan akut dengan gejala-gejala kesulitan bernapas ringan sampai berat bahkan kematian. Gejala-gejala pneumonia antara lain demam, batuk, bernapas dengan nada yang tinggi, kesulitan bernapas, muntah-muntah, rasa nyeri pada bagian dada, nyeri pada perut dan penurunan aktifitas. Bonar menegaskan bahwa pencegahan pneumonia dapat dilakukan melalui upaya-upaya promotif, prefentif, diagnostic dan kuratif. Di akhir sosialisasi, Silvester Nusa sebagai moderator menyimpulkan bahwa penanganan dan pencegahan pneumonia harus dilakukan secara terpadu, tidak berjalan sendiri-sendiri. Sehingga diharapkan peranan kepala desa untuk mengajak semua stakeholder di desa untuk bersama-sama mencegah pneumonia. Silvester juga menekankan perlunya penguatan koordinasi baik lintas sector maupun lintas program serta perlunya penguatan data base untuk mengevaluasi perkembangan kasus pneumonia. (RED.DIAZ)

Bagikan Informasi Ini

KUNJUNGAN KERJA KETUA TP PKK PROVINSI NTT

Waikabubak, Bertempat di Aula Rapat Bupati Sumba Barat. Pjs. Bupati Sumba Barat Drs. Semuel Pakereng bersama Istri menerima kunjungan kerja Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur Julie Sutrisno Laiskodat, Jumat (13/11).

Dalam sambutanya Pjs. Bupati Sumba Barat mengucapkan terima atas kunjungan ketua TP PKK Propinsi NTT sekaligus memberikan informasi terkait Kabupaten Sumba Barat yang telah masuk zona Hijau. “Semua ini berkat kerja keras kita bersama dan tentunya kekompakan dari semua pimpinan OPD”. tambah Semuel.

Pada Kesempatan yang sama Ketua TP PKK Provinsi NTT Julie Laiskodat menyampaikan Drakanasda dan TP PKK Propinsi NTT telah mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2015 beberapa waktu yang lalu. Sertifikat ISO tersebut merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu, yang artinya Program dan Inovasi Drekanasda dan TP PKK NTT terjamin mutunya dan siap di replikasi oleh semua desa model di Propinsi NTT dan Sumba Barat Khususnya. Salah satunya kami fokus di peningkatan Sumber daya manusia, dimana dengan SDM yang unggul kita dapat memberantas dan mencegah Stunting dan gizi buruk di Provinsi NTT.

Diakhir sambutanya, Julie yang juga merupakan anggota Komisi IV DPR RI meminta ijin untuk mengawal semua Program dan proposal yang diajukan oleh Pemkab Sumba Barat ke Pemerintah pusat melalui Kementerian/Lembaga terkait. Kegiatanpun dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. DKIPS

Bagikan Informasi Ini

Ayam Poddu

Waikabubak 10 Nopember 2020,

Ayam jantan menempati posisi pertama dalam rangkaian ritual orang Sumba, kemungkinan karena harganya yang murah dan dengan demikian dapat dijangkau semua kalangan. Setiap kali rato berdoa untuk berbagai keperluan, seperti saat Wulla Poddu, akan memulai pekerjaan membangun rumah, dan sebagainya, selalu ada ayam jantan merah yang harus disembelih. Bulu-bulu ayam jantan merah yang disembelih ducabut dan diletakkan di salah satu bagian rumah sebagai persenbahan kepada roh nenek moyang agar melindungi mereka. Tidak hanya itu, usus ayam juga diperiksa oleh rato seperti halnya hati babi untuk meramalkan kejadian-kejadian mendatang. Jika usus  ayam tersebut tidak ada tanda merah, bintik atau benjolan maka kehidupan di masa mendatang diyakini tidak ada halangan, namun jika terdapat hal-hal ini maka diyakini akan nada halangan. Selain sebagai medium untuk peramalan dan persembahan, ayam, yang tentunya ayam kampung, juga merupakan utama dalam cara besar seperti Wulla Poddu.

Perayaan Wulla Poddu setiap tahun selalu melibatkan ayam dalam jumlah yang sangat banyak. Setiap rumah adat akan menyembelih beberapa puluh bahkan ratusan ekor ayam untuk acara tersebut sehari sebelum acara puncak. Idealnya ayam yang pakai sebagai santapan dalam acara adat ini adalah yang dipelihara sendiri. Namun keadaan sekarang sudah tidak lagi memungkinkan. Kebanyakan ayam dibeli di pasar. Ayam untuk santapan ini tidak harus berwarna merah, tetapi biasanya disembelih di dalam rumah, ujar Yuliana Leda Tara, salah satu tokoh adat Kampung Tarung yang kebetulan adalah guide senior yang fasih berbahasa Inggris dan Prancis. Yuli mengatakan bahwa jumlah ayam yang dipotong di rumahnya bisa dua sampai tiga kali jumlah orang yang tinggal di rumah. Ada yang dipakai makan bersama di kampung, ada pula yang dibawah pulang keluarga setelah disembelih dan disembanyangkan di rumah adat.

Para peserta Poddu yang datang adalah semua yang bertalian secara keturunan dengan suku-suku di dalam kampung dari berbagai tempat. Poddu terbuka bagi semua orang sehingga yang telah memeluk Kristen atau agama lainpun dapat menggikuti acara ini bahkan menyantap ayam Poddu yang disembelih di rumah adat. Kami diajak oleh Ibu Yuli dan Rato rumah, Ama Sengu, untuk makan ayam bakar di dalam rumah adat. Ayam yang disajikan adalah ayam kampung yang panggang tanpa menggunakan bumbu namun diteman sambal dalam sebuah mangkuk kecil. Kami dan Rato Sengu mendapat dua bagian yang cukup besar untuk dimakan bersama nasi. Suasa akrab dalam rumah sangat terasa saat kami berdiskusi dengan Rato Sengu di tengah-tengah banyak angota keluarga yang datang.

Wulla Poddu adalah perayaan tahunan masyarakat asli Sumba Barat berkaitan erat dengan kepercayaan asli Merapu. Wulla Poddu, atau secara harafiah, bulan pahit, adalah bulan keramat, bulan pemali, bulan suci, atau bulan sakral  dalam kurun waktu mana masyarakat setempat menjalani sejumlah pantangan, antara lain larangan pesta, menabuh gong dan tambur, upacara kawin mawin, berhubungan seks dengan istri bagi para rato. Ritual ini dipercaya sebagai cara menjaga keharmonisan hidup manusia dengan leluhur, alam, dan hewan, fase pembersihan diri, memohon keberkatan hidup sekaligus sebagai sebuah bentuk rasa syukur.

Poddu diselenggarakan di 22 kampung adat di Sumba barat saat ini, ujar Kabid Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudaan Kabupaten Sumba Barat, Lodwyk Bolo Ate. Namun Pemda baru bisa membantu menfasilitas kegiatan in dengan anggaran Rp 10,000,000 untuk 19 kampung adat. Diharapkan di tahun-tahun mendatang semua kampung penyelenggara mendapatkan bantuan ini. Kampung penyelenggara Poddu di Sumba Barat antara lain Umbu Koba, Tambera, Bodo Maroto, Tarung, Kadoku, Sodana, dan Ombarade. Terdapat perbedaan waktu perayaan di lokasi-lokasi tersebut. Namun pada umumnya, ritual ini diadakan pada akhir tahun sekitar bulan Oktober hingga Desember. Pelaku ritual adalah perwakilan pemangku adat masing-masing suku, pemimpin daerah setempat dan masyarakatnya secara umum.

Pada intinya Wulla Poddu adalah perayaan pembebasan dari segala dosa pribadi, keluarga dan dosa  komunitas.  Ritual  Wulla Poddu dimulai dengan Tauna Marapu, yaiyu penyampaian para rato kepada seluruh warga  khususnya warga marapu bahwa Wulla Poddu sudah dimulai. Itu berarti seluruh wilayah masuk dalam suasana hening dan sakral.

Ritual Wulla Poddu diperkuat dengan upacara inisiasi seorang laki-laki yang memasuki usia  dewasa. Menurut Yuliana Leda Tara, di kampung Tarung, mereka akan disunat oleh rato pada awal Wulla Poddu dan diutus berpasang-pasang atau berdua keluar dari kampung selama beberapa minggu di luar tinggal selama sebulan di padang atau sawah dan harus mengghidupi diri sendiri dengan buruan kecil seperti ayam dan lain-lain agar dapat bertahan hidup. Di samping itu beberapa kelompok yang jumlahnya bisa sampai seratus per kelompok akan pergi berburu bagi hutan. Tahun ini kelompok berburu dari Kampung Tarung ada yang sampai ke Lewa, Tana Righu, Laura dan Mamboro. Hasil buruan, berjumlah 32 ekor babi hutan tahun ini, dibawa pulang ke kampung adat untuk disampaikan kepada para rato. Ketangkasan berburu menunjukkan kematangan seorang laki-laki yang teruji dan siap memasuki usia  perkawinan. Masa berburu berakhir pada malam puncak Wulla Poddu di mana kelompok yang  Demikian juga yang disunat. Mereka akan kembali bersamaan dengan kelompok

Puncak Wulla Poddu ditandai dengan tiga malam penyucian berturut-turut. Malam pertama adalah malam penyucian bagi para rato. Para rato akan membawa tujuh pinang kering sebagai sarana utama memprediksi kesucian seseorang.

Apabila ada pinang yang berkurang, dapat dipastikan masih ada dosa yang belum diungkapkan. Demikian  pada malam kedua dan ketiga. Pembebasan malam kedua ditunjukan kepada istri para rato. Sedangkan pembebasan malam ketiga ditunjukan kepada anak-anak para rato dan seluruh warga marapu yang datang.

Ritual pembebasn akan dimahkotai dengan tarian di masing-masing pelataran sebagai tanda kemenangan karena telah disucikan. Pada malam terakhir Wulla Poddu pun, para rato akan menyucikan benda-benda keramat milik suku atau kabisu dengan menggunakan santan kelapa. Acara puncak Wulla Poddu akan diakhiri dengan mengantar ‘kawuku’ (tali bersimpul 6 atau 8).
OK – Tim Liputan DKIPS

Bagikan Informasi Ini